TRIBUNSTYLE.COM - Sejumlah elemen mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menggelar aksi simpatik dengan cara yang unik di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Dalam kegiatan tersebut, mereka membentangkan poster berukuran besar yang memuat kalimat bernada satir, "Klakson Kalau Kamu Capek Jadi WNI".
Aksi damai itu dilakukan di area kompleks kampus dan berhasil menarik perhatian banyak orang karena pesan yang disampaikan dinilai menggelitik.
Baca juga: Demo Mahasiswa di Depan Gedung DPRD Solo Jateng, Batalkan RUU Polri hingga Masalah TPA Putri Cempo
Momen tersebut sempat direkam dalam bentuk utas video yang kemudian beredar luas di berbagai platform media sosial.
Video itu memperlihatkan respons beragam dari masyarakat yang melintas di sekitar kawasan lingkar kampus.
Para pengguna jalan pun tampak memperhatikan aksi para mahasiswa, bahkan sebagian di antaranya memberikan reaksi terhadap ajakan yang tertulis di poster tersebut.
Keunikan cara penyampaian aspirasi itu membuat aksi mahasiswa di UMP menjadi perbincangan dan menyita perhatian warganet dalam waktu singkat.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah pengendara roda dua maupun pengemudi mobil tampak antusias merespons ajakan dari poster tersebut dengan berulang kali membunyikan klakson kendaraan mereka.
Dalam potongan video yang viral tersebut, terlihat beberapa mahasiswa berdiri tegap di sebuah bundaran jalan kampus sambil memegang erat poster kain berukuran besar. Mereka sesekali melambaikan tangan dengan ramah kepada para pengendara sembari mengarahkan tulisan yang mereka bawa agar mudah terbaca.
Setiap kali suara klakson terdengar bersahut-sahutan dari kendaraan yang melintas, respons spontan tersebut langsung disambut oleh para mahasiswa dengan sorak-sorai riuh dan tepuk tangan tanda dukungan.
Aksi kreatif ini pun langsung menuai atensi publik serta memicu beragam komentar dari warganet setelah dokumentasi videonya menyebar luas di berbagai platform media sosial digital.
Penanggung jawab aksi, Memet, mengungkapkan bahwa gerakan yang dilakukan secara spontanitas tanpa penggalangan massa besar-besaran tersebut bertempat di lingkungan internal kampus UMP pada Kamis (11/6/2026) sore.
"Untuk estimasi yang mengikuti aksi kurang lebih 20-an orang silih berganti, karena aksi itu dilakukan secara spontan dan melibatkan orang-orang yang berlalu-lalang di lingkungan kampus," kata Memet saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (12/6/2026).
Memet membeberkan, gerakan ini tidak hanya digerakkan oleh internal mahasiswa UMP semata. Aksi simpatik yang diinisiasi oleh kelompok gerakan Komunitas Lapak Baca UMP tersebut rupanya turut memantik simpati dan diikuti oleh perwakilan mahasiswa dari Universitas Harapan Bangsa (UHB) serta Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.
"Ide awal dilakukannya aksi itu dari media sosial. Pada saat melihat konten tersebut kami mempunyai ide untuk melakukan di saat kegiatan kami melapak hari Kamis," ujar Memet menceritakan latar belakang munculnya gerakan tersebut.
Mengenai pemilihan media klakson kendaraan bermotor sebagai sarana penyalur aspirasi kritik sosial, Memet menilai metode tersebut sangat unik dan efisien.
Bunyi klakson dianggap dapat menjadi salah satu instrumen alternatif untuk melakukan perlawanan moral atas karut-marut keadaan negara yang sedang dirasakan masyarakat arus bawah saat ini.
"Tujuan sebenarnya untuk menyampaikan keresahan saja di kondisi ketidakpastian sekarang ini, walau hanya melalui klakson. Sebab semua media bisa menjadi alat perlawanannya sendiri. Dan terbukti banyak yang klakson, itu menunjukkan bahwa banyak dari kita yang lelah dengan kondisi sekarang ini," tutur Memet menegaskan pesan di balik aksinya.
Melalui gaungan suara klakson yang memekakkan telinga di bundaran kampus tersebut, kelompok mahasiswa ini berharap bisa menyuarakan suara-suara lirih masyarakat yang mulai jenuh dengan situasi sosial, hukum, dan ekonomi nasional yang dinilai kian tidak menentu.
***
(TribunStyle.com/Kompas.com)