TRIBUNJATIM.COM - Meskipun status Covid-19 atau virus Corona di Jepang telah diturunkan hingga setara dengan influenza musiman, virus tersebut masih menjadi ancaman serius, terutama bagi kelompok lanjut usia.
Data terbaru menunjukkan angka kematian akibat Covid-19 di negara itu tetap berada di atas 30.000 kasus per tahun selama dua tahun terakhir.
Kelompok lansia tercatat sebagai yang paling rentan terhadap dampak infeksi virus Corona yang terus mengalami mutasi. Kondisi ini tercermin dari tingginya proporsi korban jiwa berusia 65 tahun ke atas.
Berdasarkan laporan Asahi Shimbun pada Rabu (10/6/2026) via Kompas.com, statistik dari Kementerian Kesehatan Jepang mencatat sekitar 36.000 kematian akibat Covid-19 sepanjang 2024.
Lebih dari 90 persen korban meninggal berasal dari kelompok usia lanjut.
Baca juga: Transformasi RS Darurat Covid-19, Tahun 2026 Jadi Puskesmas Kusuma Bangsa
Meski jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan 2023 yang mencapai sekitar 38.000 kematian, Covid-19 masih menempati posisi sebagai penyebab kematian terbesar kedelapan di Jepang pada kedua tahun tersebut.
Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun situasi pandemi telah jauh mereda, Covid-19 tetap menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan, khususnya bagi populasi lanjut usia.
Tanggal 8 Mei menandai peringatan tiga tahun langkah Kementerian Kesehatan menurunkan kategori Covid-19 menjadi Kategori 5 pada skala keparahan berdasarkan undang-undang pencegahan penyakit menular.
Wabah Covid-19 berskala besar lebih mungkin terjadi selama musim panas dan musim dingin. Namun, musim dingin 2025-2026 mencatat jumlah infeksi yang lebih sedikit daripada sebelumnya.
Beberapa faktor yang mungkin menyebabkan penurunan tersebut termasuk penggunaan masker flu secara luas dan kebiasaan mencuci tangan.
Selain itu, terjadi wabah influenza skala besar pada saat itu, dengan keberadaan satu virus dominan dapat membantu menekan virus lainnya.
Strain Omicron yang pertama kali muncul pada November 2021 terus menjadi strain dominan sejak awal tahun 2022.
Pada Desember 2025, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan varian BA.3.2 dari strain Omicron sebagai target pemantauan.
“Varian terbaru ini merupakan keturunan dari strain BA.3 yang sempat muncul pada paruh pertama tahun 2022, dan laporan mengenainya saat ini semakin banyak di seluruh dunia,” kata Atsuo Hamada, profesor tamu penyakit menular di Klinik Perjalanan Rumah Sakit Universitas Kedokteran Tokyo.
Indikasi wabah BA.3 di luar negeri telah muncul setelah jeda tiga tahun.
Oleh karena itu, BA.3.2 yang diyakini memiliki kemampuan lebih baik untuk menghindari fungsi kekebalan tubuh, diibaratkan seperti spesies jangkrik yang menghabiskan waktu lama di bawah tanah sebagai larva dan muncul dari pupanya di atas tanah.
Tidak ada peningkatan signifikan yang terkonfirmasi pada pasien yang mengalami gejala lebih parah akibat BA.3.2 dibandingkan dengan versi sebelumnya.
Data dari Institut Keamanan Kesehatan Jepang (JIHS) menunjukkan, kasus BA.3.2 pertama yang terkonfirmasi di Jepang dilaporkan pada Januari tahun ini.
Hingga Maret, strain tersebut telah ditemukan dalam 13 dari 87 sampel yang diambil dari pasien di seluruh negara.
Hamada mendesak masyarakat untuk tetap tenang sebelum vaksinasi berkala dimulai pada musim gugur.
“Tidak perlu terlalu cemas saat ini. Namun, situasi ini harus dipantau dengan cermat, dengan mempertimbangkan kemungkinan bahwa keadaan saat ini dapat berkontribusi pada penyebaran virus yang tajam di musim panas ini,” ujarnya.
Direktur Pusat Kesiapsiagaan dan Respons Darurat dari Institut Nasional Penyakit Menular JIHS, Tomoya Saito memperingatkan, kelompok yang rentan tidak boleh lengah.
Peringatannya muncul ketika sebagian orang kini menganggap Covid-19 tidak lebih dari flu biasa.
“Orang lanjut usia dan mereka yang memiliki masalah kesehatan bawaan, seperti imunodefisiensi, diabetes, dan gangguan ginjal, lebih mungkin mengalami gejala parah akibat COVID-19,” jelas Saito.
Ia mendesak tidak hanya orang-orang yang rentan menderita kondisi serius, tetapi juga mereka yang sering berinteraksi dengan pasien tersebut untuk mengambil tindakan pencegahan khusus jika terjadi wabah.
“Langkah-langkah pencegahan infeksi harus diambil dengan mempertimbangkan situasi secara detail, termasuk mengenakan masker flu, mencuci tangan dengan benar, dan menghindari keluar rumah jika merasa tidak enak badan,” kata Saito.