TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Indonesia saat ini berada di krusial penentu masa depan bangsa, yakni fase puncak bonus demografi yang diperkirakan berlangsung sepanjang 2020 hingga 2030, dan akan berakhir di 2036.
Fenomena ledakan usia produktif ibarat pisau bermata dua: bisa membawa Indonesia melompat menjadi negara maju, atau justru terperosok ke dalam bencana sosial jika tidak dikelola dengan tepat.
Hal tersebut menjadi sorotan utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam Talkshow bertajuk 'Generasi Muda sebagai Penggerak Inovasi Indonesia' di Gelanggang Mahasiswa Dr. H.M. Nasrullah Yusuf, Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Jumat (12/6/2026).
Kepala Pusat Riset Teknologi Mineral di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dr. Fajar Nurjaman, S.T., M.T menekankan pentingnya peran generasi muda khususnya mahasiswa dalam mengambil peluang emas ini melalui penguatan riset, sains, dan teknologi.
Ia menjelaskan secara gamblang mengenai tantangan besar yang dihadapi bangsa ini. Jika dikelola dengan kompetensi yang mumpuni, limpahan tenaga kerja ini akan menjadi magnet investasi yang luar biasa.
"Jika dikelola dengan tepat, ledakan usia produktif ini dapat memacu pertumbuhan ekonomi secara masif," ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia dan pelajar SMA sederajat yang hadir dalam gelaran bergengsi Innovation Expo 2026 bertajuk 'Sustainable, Impactful and Smart Lampung' itu.
"Ketersediaan tenaga kerja yang melimpah dapat menarik investasi, meningkatkan produksi nasional, dan mendorong pendapatan per kapita sehingga negara bisa melompat menjadi negara maju," sambung dia.
Namun, di balik peluang besar tersebut, bayang-bayang ancaman nyata turut mengintai jika kualitas sumber daya manusia (SDM) tidak segera ditingkatkan.
Dr. Fajar memberikan peringatan keras mengenai risiko terjadinya demographic disaster (bencana demografi).
"Apabila angkatan kerja yang besar tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan atau keahlian (kompetensi) yang memadai, fenomena ini justru akan berbalik menjadi bencana yang ditandai dengan tingginya angka pengangguran, kriminalitas, dan beban ekonomi," urainya lebih lanjut.
Indonesia Krisis Periset: Kalah Jauh dari Jepang dan Korea Selatan
Salah satu tantangan terbesar Indonesia dalam membangun ekosistem teknologi adalah minimnya kuantitas periset.
BRIN membeberkan data perbandingan yang cukup mencolok antara Indonesia dengan negara-negara maju di Asia.
Saat ini, jumlah ilmuwan atau periset di Indonesia dinilai masih sangat minim untuk menopang kebutuhan industri modern.
"Indonesia hanya memiliki kurang dari 300 periset per 1 juta penduduk. Sementara itu, negara maju seperti Jepang memiliki sekitar 5.000 hingga 7.021 dan Korea Selatan di atas 4.000 periset per 1 juta penduduk," kata Dr. Fajar.
Ketimpangan angka ini menjadi alasan kuat mengapa BRIN gencar melakukan literasi dan kolaborasi ke kampus-kampus, guna menjaring talenta muda yang berminat di dunia riset.
Dalam sesi edukasi ilmiah tersebut, ia juga meluruskan pemahaman yang sering keliru di masyarakat mengenai perbedaan antara invensi (penemuan baru) dan inovasi (penerapan penemuan yang membawa dampak ekonomi atau sosial).
Mengambil contoh sejarah penemuan lampu pijar oleh Thomas Alva Edison pada tahun 1878 serta evolusi sedotan artificial yang menggantikan sedotan jerami yang mudah rusak, ia mengajak mahasiswa Teknokrat untuk berpikir lebih jauh.
Penemuan yang hebat tidak akan ada gunanya jika hanya tersimpan di dalam laboratorium atau perpustakaan kampus sebagai dokumen akademik semata.
Menurutnya, tugas akademisi modern bukan sekadar menemukan sesuatu yang baru, melainkan bagaimana penemuan itu bisa menjawab kebutuhan pasar dan diadopsi oleh masyarakat luas secara berkelanjutan.
Selain membahas isu makro nasional, BRIN juga memaparkan kontribusi nyata mereka di tingkat lokal melalui fasilitas eks-LIPI di Tanjung Bintang, Lampung Selatan (Jl. Ir. Sutami Km. 15).
Melalui laboratorium dan kelompok riset yang ada di Lampung, BRIN berfokus pada pengembangan Teknologi Rekayasa dan Cerdas Mineral.
Beberapa fokus riset unggulan yang dipaparkan meliputi:
Teknologi Mineral Logam Tanah Jarang (LTJ)
Teknologi Mineral Logam Dasar dan Logam Mulia
Teknologi Mineral Non-Logam
Pengelolaan Dampak Pengolahan Mineral
Pemanfaatan Batubara Non-Bahan Bakar
BRIN membuka pintu kolaborasi selebar-lebarnya bagi sivitas akademika Universitas Teknokrat Indonesia baik melalui pemanfaatan fasilitas laboratorium bersama, riset kolaboratif, maupun program magang guna bersama-sama mencetak inovasi berbasis potensi daerah Lampung demi menyongsong Indonesia Emas.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/ Sulis Setia Markhamah)