TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI – Mahasiswa di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), kembali menyuarakan penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak.
Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Halu Oleo (UHO) menggelar aksi unjuk rasa di Bundaran Tank Anduonohu, Jumat (12/6/2026).
Lokasinya di Jalan Malaka, Kelurahan Kambu, Kecamatan Kambu, sekira 2,9 kilometer (km), waktu tempuh enam menit dari Kantor Gubernur Sultra.
Kantor pemerintahan ini berada di Jalan Haluoleo, Kompleks Bumi Praja, Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia atau depan Polda Sultra.
Massa aksi tampak membakar ban bekas di tengah jalan raya, yang mengakibatkan asap hitam pekat membubung ke langit.
Baca juga: Respons Kenaikan Harga BBM, Rasmin Jaya Ajak Mahasiswa di Sulawesi Tenggara Bergerak
Sementara arus lalu lintas juga sempat mengalami kepadatan akibat pengendara roda dua dan roda empat harus memperlambat laju kendaraan saat melintasi lokasi demonstrasi.
Unjuk rasa tersebut melibatkan dua basis massa dari internal perguruan tinggi negeri terbesar di Sultra ini.
Kelompok pertama berasal dari BEM Fakultas Peternakan yang dipimpin oleh Koordinator Lapangan (Korlap) Fahmi dengan jumlah massa sekitar 30 orang.
Kelompok kedua berasal dari BEM FKIP UHO yang dipimpin oleh Korlap Hendra dengan estimasi massa sebanyak 15 orang.
Dalam orasinya, mahasiswa menyoroti berbagai isu krusial terkait kebijakan pemerintah pusat hingga persoalan ekonomi daerah.
Baca juga: Sehari di Kendari saat Harga Pertamax Naik, Mahasiswa Demo, Ojol Pasrah, Antrean BBM RON 92 Sepi
Secara garis besar, mereka menuntut evaluasi kebijakan pemerintah mengenai turunnya nilai tukar rupiah serta menolak keras kenaikan harga BBM.
Ketua BEM Fakultas Peternakan Rizaludin, menjelaskan terdapat beberapa poin tuntutan utama yang disuarakan dalam aksi ini.
"Pertama yang kita rasakan pelemahan nilai tukar rupiah sehingga kami mendesak pemerintah mengambil langkah konkret mengatasi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS,” tegasnya, Jumat (12/6/2026).
Lalu menolak dengan tegas revisi Undang-Undang Kepolisian (RUU Polri) dan menolak kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai bermasalah.
Ia tegas meminta TNI kembali ke barak, dan menolak segala bentuk dwifungsi atau perluasan peran militer di ranah sipil.
Baca juga: Aksi Mahasiswa UHO Kendari Tolak Kenaikan Harga BBM Non Subsidi, Desak Pemerintah Evaluasi
Selanjutnya mengkritisi tingginya angka inflasi di Sulawesi Tenggara yang tercatat mencapai 4,07 persen.
Mahasiswa dengan tegas menolak keras rencana atau kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM karena dinilai akan semakin menyengsarakan masyarakat kecil.
"Kami menyerukan gerakan Reformasi Jilid II sebagai bentuk mosi tidak percaya terhadap jalannya roda pemerintahan saat ini,” tutupnya dengan nada kritis.
(TribunnewsSultra.com/La Ode Ahlun Wahid)