TRIBUNJATIM.COM - Komitmen terhadap pelestarian lingkungan terus digaungkan Yayasan Ibadurrahman (YA Ibad).
Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, organisasi tersebut menggelar Sarasehan Nasional bertema “Community Signals for Climate Action” yang mempertemukan jamaah, pengurus, tokoh masyarakat, dan pemerhati lingkungan dari berbagai daerah di Indonesia secara daring.
Yayasan Ibadurrahman (YA Ibad) menyelenggarakan Sarasehan Nasional Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dengan tema “Community Signals for Climate Action”, yang mempertemukan jamaah, pengurus, tokoh masyarakat, pemerhati lingkungan, serta perwakilan cabang YA Ibad dari berbagai daerah di Indonesia dalam sebuah forum nasional yang diselenggarakan secara daring.
Kegiatan ini menjadi tonggak penting bagi organisasi karena telah terdaftar dan ditampilkan dalam peta kegiatan global Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day/WED) 2026 yang dikoordinasikan oleh United Nations Environment Programme (UNEP) melalui kampanye internasional #NowForClimate.
Sarasehan ini menjadi wadah untuk menampilkan berbagai aksi lingkungan yang telah dilakukan oleh jamaah dan cabang-cabang YA Ibad di seluruh Indonesia melalui gerakan “Ramah Bumi: Ibadah Nyata Menuju Muktamar YA Ibad Ke-4.”
Berbagai kegiatan yang dipresentasikan meliputi penanaman pohon, aksi bersih lingkungan, pengelolaan dan daur ulang sampah, edukasi eco-enzyme, pembuatan lubang biopori, serta pelepasan simbolis ikan dan burung sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem.
Ketua Umum YA Ibad Pusat, Tofit Yono, dalam sambutannya menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya merupakan tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Hari Lingkungan Hidup 2026, Warga Trenggalek Diajak Pilah Sampah dari Sumbernya
"Menjaga alam merupakan wujud tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Melalui gerakan ini, YA Ibad berupaya menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari ibadah nyata dan pengabdian kepada masyarakat," ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Sarasehan juga menghadirkan pemaparan mengenai gerakan global #NowForClimate yang disampaikan oleh Retno Hastijanti, Ketua YA Ibad Research Center (YRC).
Dalam paparannya, beliau menjelaskan pentingnya menghubungkan aksi-aksi lokal masyarakat dengan gerakan global dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
"Aksi iklim dimulai dari komunitas. Setiap pohon yang ditanam, setiap sampah yang berhasil dikelola, dan setiap upaya menjaga lingkungan merupakan sinyal bahwa masyarakat siap berkontribusi dalam mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan," jelasnya.
Sesi penguatan keagamaan disampaikan oleh Arief Hidayat, yang mengulas konsep ekoteologi serta pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari amanah keimanan dan tanggung jawab manusia terhadap ciptaan Tuhan.
Salah satu agenda utama dalam sarasehan ini adalah pemutaran film dokumenter nasional yang menampilkan rangkaian aksi lingkungan dari cabang-cabang YA Ibad di seluruh Indonesia.
Tayangan tersebut memperlihatkan bagaimana nilai-nilai kepedulian lingkungan diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan alam.
Melalui kegiatan ini, YA Ibad menunjukkan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan lingkungan, penguatan ketahanan masyarakat, serta peningkatan kesadaran terhadap isu perubahan iklim melalui pendekatan keagamaan dan pemberdayaan komunitas.
Keterlibatan YA Ibad dalam rangkaian Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 sekaligus menegaskan bahwa aksi-aksi lokal masyarakat Indonesia memiliki kontribusi nyata terhadap gerakan lingkungan global.
Ke depan, YA Ibad berharap gerakan “Ramah Bumi” tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang menginspirasi masyarakat untuk terus menjaga lingkungan, mengurangi sampah, melestarikan sumber daya alam, dan memperkuat ketahanan komunitas terhadap berbagai tantangan lingkungan dan iklim.