TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Sebanyak 16 putra terbaik dari enam keuskupan di wilayah Nusa Tenggara dan Bali resmi ditahbiskan menjadi diakon baru.
Upacara tahbisan suci tersebut berlangsung khidmat di Saint Peter's Hall, Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (11/6/2026) sore.
Ibadat penumpangan tangan dan pengurapan ini dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus. Perayaan tahbisan kali ini mengusung tema "Bertumbuh dalam Kesetiaan dan Berkembang dalam Pewartaan".
Para diakon baru ini berasal dari Keuskupan Agung Ende (5 orang), Keuskupan Ruteng (4 orang), Keuskupan Larantuka (3 orang), Keuskupan Maumere (2 orang), Keuskupan Labuan Bajo (1 orang), dan Keuskupan Denpasar (1 orang).
Dua hari sebelum ditahbiskan, tepatnya Selasa (9/6/2026), mereka telah mengucapkan Sumpah Selibat di Kapela Agung Ritapiret.
Baca juga: Tatapan Paus di Pendopo Ritapiret Selalu Diingat Mgr. Ewaldus
Dalam khotbahnya, Mgr. Maksimus Regus menyoroti atmosfer zaman modern yang penuh dengan ketidakpastian (precariousness) dan kerapuhan sosial.
Menggunakan gaya bahasa yang komunikatif dan diselingi humor, ia menyentil realitas yang kerap dihadapi generasi muda di media sosial.
"Kalau bapak, mama buka TikTok, maka akan muncul setiap kali seruan bahwa hidup kita sedang tidak baik-baik saja," ujar Mgr. Maksimus.
Baca juga: Menemukan Mujizat dan Damai di Kamar Paus di Seminari St Petrus Ritapiret
Ia menjelaskan bahwa kerapuhan tersebut nyata terjadi di tengah masyarakat, mulai dari dampak krisis iklim, tekanan ekonomi, hingga rapuhnya mentalitas manusia akibat tuntutan zaman.
"Dompet kita rapuh karena menahan gempuran godaan pinjol (pinjaman online) dan judol (judi online). Anda bisa menambahkannya sendiri," seloroh Mgr. Maksimus.
Kendati demikian, ia menegaskan bahwa kerapuhan tidak boleh dipandang melulu sebagai kelemahan. Bagi orang beriman, situasi ini justru menjadi ruang bagi pembaruan tindakan kasih dan solidaritas.
Kepada para diakon baru yang ia sebut masih "polos" dan belum mengenal kerasnya medan pastoral, Uskup Maksimus menitipkan empat dimensi penting (tetrapolar) yang harus dihidupi di era modern ini:
Diakon tidak diutus ke dunia yang sempurna, melainkan dunia yang goyah dan terluka.
"Diakon yang efektif adalah diakon yang berani masuk ke dalam kerapuhan manusia, namun ia juga perlu menyadari bahwa dirinya sendiri pun rapuh," tutur Mgr. Maksimus sembari mengutip visi Paus Fransiskus tentang gereja sebagai "rumah sakit lapangan".
Kesetiaan sejati diuji dalam detail kehidupan harian dan perkara-perkara kecil (in minimis fidelis), bukan saat situasi nyaman. Uskup berpesan agar para diakon menikmati proses dan tidak terburu-buru menginginkan jabatan struktural.
Belas kasih adalah inti identitas seorang pelayan gereja. Pelayanan diakon harus mewujud dalam tindakan nyata yang menyembuhkan dan merangkul sesama tanpa menghakimi.
Dimensi terakhir adalah kesaksian hidup yang jujur dan konsisten. Uskup menekankan bahwa kekuatan terbesar yang dapat mengubah dunia di sekitar adalah kesederhanaan hidup yang menyerupai Kristus.
Di akhir khotbahnya, Mgr. Maksimus mengajak para diakon baru untuk meneladani Rasul Barnabas yang dikenal sebagai Filius Consolationis atau Putra Penghiburan.
"Bertumbuh dalam kesetiaan berarti berakar, berkembang dalam pewartaan berarti berbuah. Anda diutus ke dunia yang rapuh, tetapi justru di situlah panggilan Anda menemukan maknanya," tegasnya.
"Maka seperti Rasul Barnabas, jadilah putra penghiburan. Kamu harus menjadi diakon-diakon penghibur bagi umat," pungkas Mgr. Maksimus.
Sementara itu, Rektor Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret, RD. Guidelbertus Tanga, mengingatkan para diakon bahwa tahbisan ini bukanlah akhir dari sebuah pencapaian.
"Tahbisan diakon bukan garis finis, melainkan titik start baru untuk pelayanan maraton imamat sekian puluh tahun ke depan, hingga tapal akhir kehidupan," kata RD. Guidelbertus.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga komitmen selibat, setia dalam doa, serta patuh kepada uskup dan presbiterium. Ia mengingatkan para diakon agar tidak menjadi lone wolf seperti serigala tunggal yang memisahkan diri dari kawanan.
"Imam tidak ditahbiskan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk pelayanan persekutuan umat Allah, gereja, dan Tuhan," tegasnya.
RD. Guidelbertus menambahkan bahwa dalmatik (jubah diakon) yang mereka kenakan adalah jubah hamba, sementara stola yang disilang merupakan simbol kesiapan untuk memikul salib orang lain bersama Kristus.
Rasa haru menyelimuti sesi sambutan ketika seorang ibu berdiri mewakili seluruh orang tua diakon. Ia mengungkapkan bahwa biasanya posisi juru bicara diwakili oleh sosok ayah, namun kali ini suara ibu hadir untuk mengalirkan ketulusan kasih yang mengiringi perjalanan panjang pembinaan para putra mereka selama kurang lebih tujuh tahun di seminari dan dua tahun di medan pastoral.
"Sebagai orang tua, kami tidak meminta kalian menjadi orang yang hebat menurut ukuran dunia. Kami hanya berharap agar kalian menjadi pelayan yang setia menurut hati Tuhan," tuturnya.
Perwakilan orang tua tersebut menegaskan bahwa mereka tidak merasa kehilangan anak pada hari ini. Sebaliknya, mereka dengan ikhlas menyerahkan putra-putra mereka kembali kepada Tuhan untuk melayani gereja dan sesama.
"Tetaplah rendah hati ketika dipuji. Tetaplah kuat ketika menghadapi kesulitan. Tetaplah setia ketika jalan pelayanan terasa berat. Ingat, jangan pernah kehilangan sukacita panggilan," ucapnya mengakhiri sambutan.
Keuskupan Agung Ende
Adelbertus Pontius Dhae
Andreas Yohanes Lako Ghao
Hyasintus Godho Ugha
Kornelius Afran Guru
Zakarias Gusi Jata
Keuskupan Denpasar
Daniel Mario Pedro Lasar
Keuskupan Labuan Bajo
Emanuel Rizan Pryatno
Keuskupan Larantuka
Martinus Philipus Riberu
Methodius Tedun Lamuda
Romanus Tubo Ola
Keuskupan Maumere
Dignus Arik
Siprianus Supriyadi Nasi
Keuskupan Ruteng
Apolinaris Hendra Asian Jaya Kumpul
Febrian Mulyadi Angsemin
Florianus Risen Ronaldo
Oktavianus Abun