Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo
TRIBUNFLORES.COM, BORONG - Kenaikan harga sejumlah barang baku kini mulai dikeluhkan oleh para pelaku usaha di Kota Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tidak hanya bahan bangunan, harga kantong plastik komersial bahkan dilaporkan melonjak drastis.
Pemilik Toko Bangunan Kasih Sayang Borong, Ako Andi mengatakan, kenaikan harga terjadi pada hampir seluruh jenis bahan bangunan yang dijualnya. Komoditas seperti semen, seng, besi beton, hingga pipa mengalami kenaikan di kisaran 5 hingga 10 persen.
"Salah satu contohnya seng merek Fumira. Sebelumnya dijual dengan harga Rp 60.000 per lembar, kini naik hampir mencapai Rp 70.000," ujar Andi saat ditemui, Jumat (12/6/2026).
Baca juga: Menteri ATR/BPN Usulkan Anggaran Rp 10,6 Triliun, Perkuat Layanan Pertanahan dan Penataan Ruang
Di samping bahan bangunan, Andi mengaku keluhan paling berat justru datang dari lonjakan harga kantong plastik atau kresek.
Meski tidak menjualnya secara eceran, kantong plastik merupakan kebutuhan operasional harian untuk membungkus barang belanjaan konsumen.
Menurut catatan Andi, kenaikan harga kantong plastik di wilayah tersebut saat ini sudah mencapai 30 persen.
"Memang saya tidak jual kantong plastik di sini, hanya digunakan untuk membungkus barang-barang yang dibelanja. Namun kenaikannya sangat terasa, karena kantong kresek ini sangat kami butuhkan sebagai pedagang," tuturnya.
Baca juga: Air Bersih Senilai Rp 2,11 Miliar Mengalir ke Golo Kantar Manggarai Timur, Warga Diajak Merawat
Hingga saat ini, para pedagang di Borong mengaku belum mengetahui secara pasti faktor utama yang memicu lonjakan harga barang-barang tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Namun, Andi menduga ketidakstabilan harga ini berkaitan dengan situasi geopolitik dunia yang sedang memanas.
"Kami tidak tahu apa masalah pastinya. Apakah mungkin karena dampak perang di Timur Tengah itu atau seperti apa, kami juga kurang tahu," kata Andi.
Kondisi ini membuat para pedagang khawatir akan terjadinya penurunan omzet akibat melemahnya daya beli masyarakat.
Andi pun berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur maupun instansi terkait segera turun tangan untuk menstabilkan harga pasar.
"Harapan kami harga-barang bisa kembali normal. Kalau harga barang turun, konsumen akan ramai. Sebaliknya, kalau harga terus naik, masyarakat akan kesulitan memenuhi kebutuhan mereka sehingga daya beli berkurang, dan kami pedagang pasti ikut terkena dampaknya," pungkasnya. (rob)