Grid.ID - Kronologi siswa SMA di Surabaya tewas usai dikeroyok teman. Setelahnya, korban ditinggal begitu saja di emperan toko kelontong.
Usut punya usut, korban diketahui bernamaThomas Julius Kristianto (19), seorang pelajar kelas XII SMAN 11 Surabaya.
Kronologi Siswa SMA di Surabaya Dikeroyok Teman
Peristiwa nahas itu rupanya terjadi pada Sabtu 5 Mei 2026 malam. Dimana kakek korban Margono (88) mengungkapkan bahwa korban sempat berpamitan keluar rumah.
"Pamitannya ke saya mau keluar sebentar. Keluar itu kok anu enggak pulang-pulang. Tahu-tahu temannya ke sini mengabarkan Thomas ada di dokter Danu," ujar Margono dikutip Grid.ID dari Kompas.com, Jum'at (12/6/2026).
Sementara itu, tetangga korban yang bernama Nia Sanjaya mengurai lebih detail saat peristiwa nahas itu terjadi. Dimana kala itu, ia melihat Thomas berjalan sendirian untuk membeli minuman ringan di toko kelontong depan gapura gang rumahnya di Jalan Manukan Yoso II.
Namun karena toko tersebut tutup, korban merubah arah menuju ke arah toko kelontong di dekat SMAN 11 Surabaya dan membeli keperluannya. Hingga singkat cerita, korban tiba-tiba didatangi gerombolan remaja berjumlah empat orang. Di lokasi tersebut, mereka mulai menganiaya korban.
Tak berhenti sampai di situ, sekitar pukul 02.00 WIB, gerombolan tersebut memaksa Thomas menuju ke area sepi di kawasan Jalan Tengger. Dan di sana lah korban dikeroyok secara brutal hingga tak sadarkan diri.
Setelahnya, melihat korban yang lemas, para pelaku membawa korban di dekat toko sembako.
"Setelah itu ditaruh di belakang sempat terjatuh katanya. Itu dalam keadaan dia sudah enggak sadar gitu. Setelah itu dia digeletakkan di dekatnya toko yang jualan sembako," ungkap Nia.
Pelaku juga menelepon teman dekat Thomas yang tinggal bertetangga untuk mengabarkan keberadaan korban di klinik. Saat pihak keluarga menyusul, Thomas sudah dalam kondisi kritis dengan luka parah di kepala.
Setelahnya, lantaran keterbatasan fasilitas medis di rumah sakit swasta tersebut, pihak keluarga dibantu warga segera merujuk Thomas ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada pukul 05.00 WIB menggunakan ambulans. Kakak korban yang bernama Hana yang mengetahui hal itu meminta pelaku dihukum.
Pasalnya sang adik mengalami cedera para di kepala dan berakhir tewas karena tidak berhasil meski sudah di operasi.
"Operasinya gagal karena otaknya bengkak. Mungkin kena benda tumpul yang menyebabkan kondisinya semakin parah. Saya minta pelaku dihukum berat," desak Hana dikutip dari Tribunnewsmaker.com.
Setelahnya, terkait kronologi siswa SMA di Surabaya tewas usai dikeroyok teman pihak keluarga korban didampingi pengurus RT setempat resmi membuat laporan kepolisian ke Mapolrestabes Surabaya pada Rabu (3/6/2026), sehari sebelum Thomas meninggal dunia. Jenazah korban juga telah menjalani proses otopsi untuk memperkuat bukti hukum.
Polisi juga telah menangkap empat orang terduga pelaku yang berujung maut tersebut.
“Ya benar sudah diamankan empat orang (pelaku pengeroyokan hingga tewas). Berinisial CJF, AAY, KVRL, dan RU,” kata AKP Hadi Ismanto
"Benar 4 orang. Iya benar diamankan empat orang. Iya tadi pagi semuanya. 3 orang Ini 1 ada yang satu sekolah ada yang tidak. Ya itu menurut info yang saya terima," imbuh Ketua RT 01 RW 01 Manukan Kulon, Wijayanto Raharjo.
Sementara itu, kakak sulung korban, Hana Novia Kristiani (32), mengungkapkan dugaan motif di balik aksi keji yang menimpa adiknya. Hana mengurai bahwa konflik tersebut diduga berawal dari masalah sepele pada pertengahan Mei 2026, ketika Thomas tidak sengaja mengganti sandal milik salah satu pelaku yang sempat terpakai.
Meskipun Thomas sudah membelikan sandal baru sebagai bentuk ganti rugi, pihak pelaku tampaknya tidak puas.
"Tapi mungkin dari pihak tersangkanya tidak sesuai dengan kemauannya karena merasa bahwa harganya tidak sesuai dengan yang harga yang sandal yang baru," jelas Hana.
Korban sendiri selama ini diketahui merupakan anak bungsu dari empat bersaudara yang telah menjadi yatim piatu sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selama ini, ia dibesarkan oleh kakeknya yang sudah sepuh dan sang tante di Manukan Yoso II.
Sebagai penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), Thomas memiliki cita-cita kuat untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sahabat mendiang ibu korban, Nia Sanjaya, mengenang momen memilukan saat Thomas berfoto dengan kemeja putih demi mempersiapkan berkas pendaftaran kuliah melalui program Beasiswa Pemuda Tangguh dari Pemerintah Kota Surabaya.