TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU -- Penyedia jasa transportasi travel tujuan Lubuklinggau, Provinsi Bengkulu, dan sebaliknya mulai menaikkan tarif angkutan.
Penyesuaian tarif ini imbas melonjaknya harga BBM jenis Pertamax serta sulitnya mendapatkan Pertalite di SPBU.
Kenaikan ongkos ini terpaksa dilakukan para agen travel untuk menutup tingginya biaya operasional.
Kenaikan ini berdasarkan kesepakatan bersama para sopir dan agen travel yang melayani rute Lubuklinggau dan sebaliknya.
Rosi, salah satu agen travel, menyampaikan kelangkaan dan antrean panjang Pertalite di SPBU memaksa kami pelaku usaha travel beralih ke Pertamax demi mengejar waktu tempuh.
"Akibatnya, semua rute perjalanan kami naikkan Rp20.000," ungkap Rosi kepada wartawan, Sabtu (13/6/2026).
Baca juga: Travel di Lubuklinggau Berencana Naikkan Tarif Angkutan Karena Hanya Bisa Beli Solar Saat Malam Hari
Tarifnya saat ini dari Lubuklinggau menuju Bengkulu :
Kemudian tarif dari Provinsi Bengkulu menuju Lubuklinggau :
Menurutnya, bila pakai Pertalite antreannya terlalu panjang dan tidak mengejar waktu, karena harus mengantre BBM.
"Terpaksa pakai Pertamax meskipun harganya sekarang sudah Rp16.650 per liter. Jadi otomatis ongkos terpaksa kami naikkan untuk menyesuaikan," ujarnya.
Sebelumnya, aturan pembelian biosolar, hanya pada malam hingga subuh di Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), mulai mendapatkan protes keras dari sejumlah sopir travel dan berdampak naiknya tarif angkutan.
Salah satunya dari para sopir travel relasi Lubuklinggau–Kota Palembang yang hendak membeli solar.
Berdasarkan surat edaran Pemerintah Kota Lubuklinggau, pengisian solar di seluruh SPBU di Kota Lubuklinggau hanya diperbolehkan pada pukul 21.00 WIB hingga 05.00 WIB.
Informasi yang dihimpun TribunSumsel.com, Jumat (12/6/2026), saat ini sejumlah pemilik angkutan travel di Kota Lubuklinggau mulai berencana menaikkan ongkos.
"Ada rencana mau naik ongkos, sekarang sedang diajukan ke bos (pimpinan), semula Rp180 ribu jadi Rp200 ribu," ungkap Agen Travel Mura, Subay, kepada wartawan, Jumat (12/6/2026).
Namun, kebijakan baru sebatas usulan para sopir travel, alasannya sopir travel mengeluh susah mendapatkan BBM jenis solar karena harus mengantre malam hari.
"Rata-rata mobil Travel Mura ini solar, mereka susah dapat solar, antrean solar di Linggau malam hari, jadi terpaksa mereka siangnya harus istirahat tidak narik," ujarnya.
Ditambah sekarang penumpang sepi, jadi untuk menutupi kekurangan para sopir berencana menaikan tarif ongkos.
Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp TribunSumsel.com