TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) memasang target ambisius untuk menjadikan Indonesia sebagai eksportir buah dan florikultura nomor satu dunia dalam 10 tahun ke depan.
Target tersebut didorong melalui penguatan promosi, standardisasi mutu, perluasan jejaring bisnis internasional hingga pembukaan akses pasar ekspor lewat ajang Nusa Horti yang digelar di ICE BSD, Tangerang.
Direktur Buah dan Florikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Fausiah T. Ladja, mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pemain utama hortikultura dunia berkat kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki.
Baca juga: Libatkan BRIN, Kementan Targetkan Produksi Kedelai 5 Ton Per Hektare
Menurutnya Nusa Horti menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan buah dan florikultura Indonesia ke pasar internasional sekaligus mengikuti jejak sukses sektor ikan hias nasional yang telah menjadi pemimpin dunia melalui ajang Nusatic.
“Kita ingin mengikuti jejak Nusatic. Ikan hias Indonesia sudah menjadi jawara dunia. Dengan keanekaragaman buah dan florikultura yang kita miliki, saya yakin Indonesia tidak akan kalah. Targetnya jelas, 10 tahun ke depan buah dan florikultura Indonesia harus menjadi nomor satu di dunia,” tegas Fausiah pameran Nusatic-Nusa Pet-Nusa Horti, di ICE BSD, Tangerang, Banten, Sabtu (13/6/2026).
Ini adalah pameran terbesar di Indonesia berskala internasional yang menggabungkan sektor akuatik, hewan peliharaan, dan hortikultura, Nusatic, Nusapet, dan Nusahorti 2026.
Pameran ini menjadi wadah bagi pelaku usaha, komunitas penghobi, peneliti, distributor, hingga investor dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Selama tiga hari penyelenggaraan, pengunjung dapat melihat berbagai perkembangan terbaru industri ikan hias, hewan peliharaan, dan hortikultura yang ditampilkan oleh ratusan peserta dari dalam dan luar negeri.
Baca juga: Kementan: Indonesia Masih Kekurangan 1 Juta Lebih Sapi Perah untuk Swasembada Susu
Salah satu komoditas yang saat ini menjadi fokus pengembangan ekspor adalah durian.
Kementan tengah mempersiapkan peluang besar menyusul adanya kerja sama dengan China yang membuka jalan bagi ekspor durian Indonesia ke pasar negara tersebut.
Namun demikian, Fausiah mengakui tantangan terbesar yang masih dihadapi bukan terletak pada kualitas produk, melainkan pada aspek branding dan penguatan identitas komoditas unggulan nasional.
“PR kita sekarang adalah bagaimana membranding buah-buah Indonesia. Misalnya durian, durian Indonesia yang mana yang akan kita dorong dan kita kenalkan ke pasar dunia. Karena itu peran asosiasi, pelaku usaha, dan pemerintah harus disatukan dalam satu gerakan besar,” ujarnya.
Untuk mengejar target tersebut, Kementan dalam waktu dekat akan menggelar pertemuan dengan berbagai asosiasi buah dan florikultura guna menyusun arah pengembangan ekspor yang lebih agresif dan terintegrasi.
“Kita akan melakukan brainstorming bersama asosiasi untuk menentukan arah pengembangan buah dan florikultura Indonesia ke depan. Jangan sampai sektor ini tertinggal hanya karena fokus pemerintah saat ini lebih banyak pada swasembada pangan,” kata Fausiah.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Hotman Fajar Simanjuntak, menegaskan bahwa lahirnya Nusa Horti merupakan bagian dari strategi besar untuk memperluas pasar ekspor komoditas hortikultura Indonesia.
Ia menjelaskan, ajang tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan penyelenggara Nusatic dan Nusa Pet yang selama ini sukses mengangkat produk ikan dan tanaman hias Indonesia hingga mendominasi pasar internasional.
“Kalau tanaman hias untuk aquascape dan ikan hias Indonesia sudah mampu menjadi nomor satu dunia, kenapa hortikultura tidak bisa? Karena itu dibuat wadah Nusa Horti untuk memperkenalkan seluruh potensi buah, sayuran, tanaman obat, dan florikultura Indonesia kepada pasar yang lebih luas,” ujar Hotman.
Menurutnya, seluruh produk yang dipamerkan dalam Nusa Horti merupakan hasil produksi petani, kelompok tani, dan UMKM lokal dari berbagai daerah seperti Kalimantan Selatan, Purbalingga, Wonosobo, dan sejumlah sentra hortikultura lainnya.
“Semua yang ditampilkan adalah produk asli Indonesia, tidak ada produk impor. Ini menunjukkan bahwa potensi kita sangat besar dan layak bersaing di pasar global,” katanya.
Hotman menegaskan bahwa peningkatan ekspor tidak bisa hanya mengandalkan promosi. Kunci utama untuk menembus pasar internasional adalah penerapan standar mutu yang konsisten, mulai dari Good Agricultural Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP), hingga sistem ketertelusuran atau traceability yang menjadi syarat utama perdagangan global.
“Kita harus memastikan mutu produk terstandar dan traceability berjalan dengan baik karena itu menjadi bagian penting dari protokol ekspor yang disyaratkan negara tujuan,” jelasnya.
Untuk mempercepat ekspor, Ditjen Hortikultura juga akan terus memperkuat skema business matching dengan komunitas, pelaku usaha, dan buyer internasional. Menurut Hotman, komunitas hobi tanaman dan florikultura memiliki peran penting karena banyak di antaranya telah memiliki jaringan pasar dan pembeli di luar negeri.
“Komunitas-komunitas ini punya hubungan langsung dengan buyer luar negeri. Mereka mengetahui apa yang dibutuhkan pasar global dan bisa menjadi jembatan bagi petani dan UMKM kita untuk masuk ke pasar ekspor,” katanya.
Sebagai regulator, Ditjen Hortikultura akan terus berperan sebagai fasilitator yang menjembatani kebutuhan pelaku usaha dengan berbagai regulasi dan persyaratan ekspor.
“Kami akan terus memediasi dan memfasilitasi. Jika ada hambatan regulasi, akan kami sederhanakan agar para pelaku usaha, petani, dan UMKM lebih mudah menembus pasar internasional,” tegas Hotman.
Kepala Tim Kerja Humas Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan Alif Al Syahban menambahkan, Nusa Horti merupakan bagian dari strategi besar Kementan untuk mempertemukan produk unggulan daerah dengan pasar yang lebih luas.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa promosi dan hilirisasi harus berjalan beriringan agar produk hortikultura tidak hanya dikenal masyarakat, tetapi juga mampu menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani dan pelaku usaha.
“Melalui Nusa Horti, Kementan ingin memastikan produk-produk hortikultura unggulan Indonesia memiliki akses pasar yang lebih luas, sekaligus memperkuat jejaring bisnis antara produsen dan buyer sehingga tercipta transaksi yang berkelanjutan,” kata Alif.
Melalui penguatan promosi, standardisasi mutu, kolaborasi dengan asosiasi, serta pembukaan akses pasar global, Kementan optimistis Indonesia tidak hanya menjadi pemasok komoditas hortikultura dunia, tetapi mampu tampil sebagai eksportir buah dan florikultura nomor satu dunia dalam satu dekade mendatang.