Kemarau dan Irigasi Belum Mengalir, Petani Padi di OKU Timur Terjepit Biaya BBM Mahal
Welly Hadinata June 13, 2026 04:27 PM

SRIPOKU.COM, MARTAPURA – Petani di Kecamatan Semendawai Suku III, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan, menghadapi tekanan berat pada musim tanam tahun ini.

Di tengah belum turunnya hujan dan saluran irigasi yang masih dalam proses perbaikan, mereka juga dibebani tingginya biaya operasional untuk mengairi sawah akibat mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM).

Kondisi tersebut membuat banyak petani harus berjuang keras mempertahankan tanaman padi agar tetap hidup.

Sejumlah lahan mulai mengalami kekeringan, sementara para petani khawatir kerusakan tanaman akan semakin meluas jika pasokan air tidak segera tersedia.

Kesulitan memperoleh air menjadi persoalan utama yang dihadapi petani. Tidak adanya hujan dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan sumber air alami berkurang drastis.

Di sisi lain, jaringan irigasi yang selama ini menjadi andalan petani belum dapat berfungsi normal karena masih dalam tahap perbaikan.

Akibatnya, lahan pertanian yang memasuki fase penting pertumbuhan tanaman terancam mengalami kekurangan air.

Untuk menyelamatkan tanaman, sebagian petani terpaksa menggunakan mesin pompa dengan memanfaatkan air dari sungai maupun sumber air lain yang masih tersedia.

Namun upaya tersebut membutuhkan biaya tambahan yang tidak sedikit. Penggunaan mesin pompa membuat petani harus membeli BBM setiap hari untuk menjaga kebutuhan air sawah.

Petani Semendawai Suku III, Maman, mengaku saat ini berada dalam situasi yang sulit. Menurutnya, berbagai biaya produksi sudah dikeluarkan sejak awal musim tanam, mulai dari pembelian benih, pupuk hingga pengolahan lahan.

"Kalau irigasi belum ngalir dan BBM masih mahal begini, kami bingung mau ngairi sawah pakai apa. Modal sudah keluar banyak. Tanaman harus diselamatkan, tapi biaya untuk beli BBM juga terus bertambah," ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

Maman mengatakan setiap hari petani harus memantau kondisi sawah karena permukaan tanah mulai mengering. Jika tidak segera mendapatkan pasokan air, tanaman yang sudah tumbuh dikhawatirkan mengalami kerusakan.

Keluhan serupa disampaikan Ratno, petani asal Desa Sukamulya, Kecamatan Semendawai Suku III. Ia menilai kemarau yang datang bersamaan dengan terhentinya aliran irigasi membuat petani berada dalam posisi serba sulit.

"Kami sekarang seperti dikejar waktu. Tanaman butuh air, tapi irigasi belum jalan. Mau pakai mesin sedot terus juga berat karena biaya BBM cukup besar. Kalau kondisi ini berlanjut, yang kami takutkan bukan hanya hasil panen berkurang, tapi bisa sampai gagal panen," katanya.

Ratno berharap pemerintah dapat mempercepat penyelesaian perbaikan saluran irigasi sehingga distribusi air kembali normal ke lahan pertanian.

"Kami tidak minta macam-macam, yang penting air bisa masuk ke sawah lagi. Kalau air sudah ada, petani bisa bekerja dan menjaga tanaman sampai panen," tambahnya.

Selain mempercepat perbaikan irigasi, para petani juga berharap adanya bantuan sementara dari pemerintah daerah, seperti dukungan operasional pompa air, penyediaan sumber air darurat, hingga kebijakan yang dapat meringankan biaya produksi selama masa transisi.

Mereka menilai langkah tersebut penting untuk mencegah kerugian yang lebih besar dan menjaga keberlangsungan musim tanam di wilayah tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.