Menteri Energi AS Sebut 7 Juta Barel Minyak per Hari Kembali Mengalir Lewat Selat Hormuz
Tiara Shelavie June 13, 2026 05:35 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengatakan bahwa hampir 7 juta barel minyak per hari kini kembali keluar dari Teluk Persia, atau sekitar setengah dari volume yang sebelumnya terhambat akibat gangguan di Strait of Hormuz. Menurutnya, pemulihan tersebut terjadi berkat bantuan militer AS.

Namun, CEO Chevron, Mike Wirth, membantah angka tersebut dan mengatakan bahwa volume minyak yang keluar masih lebih kecil, meskipun memang terus meningkat.

Mengutip Fortune, arus minyak melalui Selat Hormuz memang mulai meningkat di tengah perang yang sedang berlangsung dengan Iran, meskipun jumlah pastinya sulit dipastikan. 

Pernyataan Wright dianggap lebih optimistis dibanding perkiraan banyak analis pasar energi. Ia mengaitkan perkembangan tersebut dengan intervensi militer Amerika Serikat.

Selain itu, semakin banyak kapal yang mengambil risiko dengan mematikan transponder pelacakan mereka dan berlayar tanpa terdeteksi. Wright dan Wirth menyampaikan pernyataan mereka dalam sebuah acara energi Bloomberg di Houston pada 12 Juni.

Setengah Arus Minyak yang Hilang Mulai Pulih

Pada awal konflik, hampir 20 persen aliran minyak dunia terdampak. Untuk mengurangi gangguan tersebut, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab meningkatkan pengiriman minyak melalui jaringan pipa.

Menurut Wright, kondisi itu masih menyisakan kekurangan sekitar 14 juta barel per hari dibandingkan arus normal minyak mentah dan produk minyak lainnya.

"Aliran saat ini mendekati setengah dari kekurangan tersebut dan terus meningkat," kata Wright.

Ia memperkirakan sekitar 7 juta barel per hari kini sudah kembali mengalir dan jumlahnya terus bertambah.

Namun Wirth mengatakan data yang dimiliki Chevron menunjukkan volume tersebut kemungkinan belum sebesar itu.

Menurutnya, sejumlah kapal memang berhasil keluar dari kawasan Teluk, biasanya pada malam hari dengan transponder dimatikan dan mendapat dukungan perlindungan dari militer AS.

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut membantu menstabilkan pasar fisik minyak. Menurutnya, pasar energi menunjukkan kemampuan beradaptasi yang cukup baik untuk menghadapi risiko yang ada.

Baca juga: Klaim Trump Soal Kepastian Damai Ditepis Iran, Ketegangan Militer Meningkat di Hormuz

AS Ingin Minyak Tetap Mengalir

Wright mengatakan pemerintah AS ingin memastikan minyak dari kawasan Teluk tetap mengalir sambil mempertahankan blokade terhadap ekspor minyak Iran hingga tercapai kesepakatan damai.

Ia mengklaim tidak ada minyak Iran yang saat ini berhasil diekspor.

"Perlindungan militer tersedia dan hasilnya berjalan sangat baik," ujarnya.

Cadangan Minyak AS Terus Menurun

Harga minyak dunia sempat mencapai puncak sekitar 138 dolar AS per barel pada awal April, tepat sebelum gencatan senjata pertama diumumkan. Angka itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan harga awal tahun yang berada di sekitar 61 dolar AS per barel.

Namun pada 12 Juni, harga minyak turun ke sekitar 87 dolar AS per barel, level terendah sejak awal Maret, seiring meningkatnya harapan terhadap tercapainya perdamaian permanen.

Harga minyak tidak melonjak setinggi yang dikhawatirkan karena beberapa faktor, termasuk meningkatnya ekspor minyak dari Cadangan Minyak Strategis Amerika Serikat (SPR), berkurangnya impor minyak China, serta upaya penghematan energi di berbagai negara.

Selain itu, bertambahnya volume minyak yang berhasil keluar dari Timur Tengah melalui jalur pipa dan Teluk juga membantu menekan harga.

Analis energi Dan Pickering mengatakan krisis ini menunjukkan bahwa industri energi selalu menemukan cara untuk beradaptasi.

Namun ia memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tidak kembali beroperasi secara normal, maka dampak yang lebih besar terhadap harga minyak masih mungkin terjadi.

"Jika 7 juta barel per hari berhasil keluar, itu berarti masih ada sekitar 7 juta barel per hari lainnya yang belum bisa mengalir," ujarnya.

Menurut Pickering, lonjakan harga minyak yang lebih besar mungkin hanya tertunda hingga akhir musim panas karena cadangan darurat global terus berkurang.

Cadangan Strategis AS di Titik Terendah

Sejak perang dengan Iran dimulai, pemerintah AS telah mengeluarkan sekitar 66 juta barel minyak dari SPR hingga 5 Juni, menurut Departemen Energi AS.

Presiden Trump telah mengizinkan pelepasan total 172 juta barel minyak selama beberapa bulan ke depan. Perusahaan-perusahaan yang membeli minyak tersebut berjanji akan mengisi kembali cadangan itu di masa mendatang.

Pada 5 Juni, SPR turun menjadi 349,2 juta barel, level terendah dalam tiga tahun terakhir. Cadangan tersebut kini berkurang hampir 9 juta barel setiap minggu.

Jumlah itu mendekati level terendah sejak Agustus 1983.

Pickering mengingatkan bahwa penggunaan cadangan strategis secara terus-menerus tidak dapat dilakukan selamanya.

"Semakin lama situasi ini berlangsung, semakin sedikit perlindungan yang dimiliki," katanya, seraya mengibaratkan cadangan minyak sebagai asuransi rumah.

Kemungkinan Perpanjangan Pengecualian Jones Act

Wright juga menegaskan bahwa pemerintah AS tidak akan melarang ekspor minyak Amerika Serikat dan kemungkinan akan memperpanjang pengecualian terhadap aturan Jones Act setelah pertengahan Agustus.

Undang-undang Jones Act yang telah berlaku selama lebih dari satu abad mengharuskan kapal yang mengangkut barang antar pelabuhan AS dibuat, berbendera, dan diawaki oleh warga Amerika.

Aturan tersebut membatasi jumlah kapal yang tersedia untuk mengangkut minyak mentah dan produk energi di dalam negeri.

Dengan adanya pengecualian sementara, lebih banyak kapal dapat digunakan untuk mengirim bahan bakar dari Pantai Teluk AS melalui Terusan Panama menuju California guna membantu mengatasi kekurangan pasokan, terutama setelah beberapa kilang minyak di California ditutup dalam beberapa bulan terakhir.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.