Alobi Babel Soroti Tambang Ilegal sebagai Pemicu Konflik Buaya dan Manusia
Asmadi Pandapotan Siregar June 13, 2026 05:39 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pusat Penyelamatan Satwa Alobi Bangka Belitung (Babel) meminta masyarakat dan pemerintah daerah untuk serius melindungi habitat buaya dengan menghentikan kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang timah ilegal.

Manager Lembaga Konservasi Pusat Penyelamatan Satwa Alobi Babel, Endi R Yusuf mengatakan, kerusakan habitat menjadi persoalan utama yang memicu meningkatnya konflik antara buaya dan manusia di wilayah Bangka Belitung.

"Untuk solusi jangka panjang, masyarakat harus melindungi habitat buaya. Stop kerusakan habitat, apalagi untuk pertambangan ilegal. Karena setelah mereka mengambil timahnya mereka meninggalkan lokasi itu, begitu saja tanpa ada upaya melakukan perbaikan atau reklamasi itu yang jadi masalah,"kata Endi kepada Bangkapos.com, Sabtu (13/6/2026).

Ia mengatakan, aktivitas penambang ilegal itu berada di mana saja, dan Alobi telah berapa kali melakukan penyelamatan satwa liar seperti buaya berada di tempat tambang ilegal.

"Setiap buaya yang kami rescue itu di daerah ada tambang ilegal atau bekas tambang ilegal. Habitatnya jadi rusak, merusak habitat buaya menjadi permaslahan di Babel," katanya.

Dia menjelaskan, setiap kali melakukan penyelamatan buaya, pihaknya hampir selalu menemukan lokasi tambang ilegal. Masih aktif, maupun bekas tambang yang telah ditinggalkan tanpa dilakukan pemulihan.

Kondisi tersebut kerap ditemukan di wilayah habitat buaya dan menjadi salah satu penyebab meningkatnya konflik antara buaya dengan manusia.

"Dari 2013 sampai sekarang sudah ratusan buaya kami melakukan penyelamatan, dan belum ada solusi yang kongkrit kami hanya menampung. Seharusnya harus punya solusi lebih baik dan dukungan pemerintah daerah," katanya.

Dukungaan itu seperti, menetapkan suatu kawasan khusus buaya yang tidak boleh diganggu aktivitas manusia.

"Karena kami sifatnya menampung satwa dari konflik dengan manusia. Yang mempunyai batas, apabila semakin banyak kami kewalahan dan biaya operasional yang sangat tinggi juga," ungkapnya.

Ia menjelaskan, sejumlah buaya hasil penyelamatan Alobi saat ini, harus dipindahkan ke suaka margasatwa di Pelembang, Sumsel. Lantaran di Babel tidak lagi memiliki cukup habitat memadai akibat kerusakan lingkungan dari aktivitas tambang ilegal.

"Karena tidak bisa melepaskan buaya di Babel karena semua habit buaya sudah rusak sekali, menambah konflik baru bila melepas di Babel. Makanya kami bawa keluar, itu salah satu permasalahan di kami juga. Karena kami kewalahan dan daya tampung yang terbatas," katanya.

Ia meminta, masyarakat turut menjaga habitat buaya dan tidak melakukan perusakan lingkungan. Karena konflik antara buaya dan manusia sudah cukup tinggi. Serta telah menimbulkan banyak korban di kalangan masyarakat.

"Mari kita menyelamatkan dan menjaga buaya jangan merusakan habitatnya. Karena konfliknya sangat besar, sudah banyak masyarakat jadi korban," tutupnya.

Diketahui, konflik buaya dengan manusia kembali terjadi di Babel, tepatnya berada di Desa Jada Bahrin, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, pada Jumat (12/6/2026) malam.

Seorang warga yang diketahui seorang penambang pasir timah. Harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami luka dibagian kaki kiri. Akibat diterkam buaya saat beraktivitas di area pertambangan.

Berdasarkan informasi kejadian terjadi di tengah malam sekitar pukul 22.00 WIB. Korban dikabarkan diterkam buaya, pada bagian kakinya saat sedang berjuang menarik ponton tambang. (Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.