SRIPOKU.COM, INDRALAYA – Status aparatur sipil negara (ASN) yang melekat pada Riyanti Ardila, wanita yang viral usai menghina seorang kurir paket di Indralaya, Ogan Ilir, Sumsel akhirnya terungkap.
Riyanti diketahui bukan berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) seperti yang diklaimnya dalam percakapan yang beredar, melainkan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Ogan Ilir.
Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Ogan Ilir, Wilson Effendi, membenarkan status kepegawaan Riyanti tersebut.
“Bukan, bukan PNS. Yang bersangkutan tercatat sebagai PPPK di Dinas Damkar,” kata Wilson saat dikonfirmasi TribunSumsel.com dan Sripoku.com, Sabtu (13/6/2026).
Wilson mengatakan pihaknya akan meminta klarifikasi kepada pimpinan instansi tempat Riyanti bertugas untuk mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya.
“Kami akan minta klarifikasi dari Kepala Dinas Damkar, sebab kami juga baru mendapat informasi dari wartawan. Nanti biar Pak Kadis melakukan pembinaan terlebih dahulu,” ujarnya.
Meski bukan PNS, Wilson menegaskan bahwa PPPK dan PNS sama-sama merupakan bagian dari Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terikat aturan disiplin dan etika dalam menjalankan tugas maupun berinteraksi di ruang publik.
Kasus ini mencuat setelah percakapan antara Riyanti dan seorang kurir paket bernama Bayu viral di media sosial. Dalam percakapan melalui aplikasi WhatsApp tersebut, Riyanti diduga melontarkan kata-kata yang merendahkan profesi kurir.
“Kalau pintar, kamu tidak jadi kurir anj***,” tulis Riyanti dalam pesan yang beredar.
Tak hanya itu, melalui pesan suara, Riyanti juga mengucapkan kalimat yang menyinggung kondisi ekonomi kurir.
“Saya begini-begini PNS ya. Kalau kurir ya kurir saja, pola pikir miskin. Memang kamu pantas jadi kurir selamanya, miskin selamanya,” ucapnya.
Saat dikonfirmasi, Riyanti mengakui adanya percakapan tersebut. Namun ia berdalih persoalan bermula karena merasa dipermainkan saat mencari alamat kantor jasa pengiriman tempat Bayu bekerja.
“Intinya persoalan kemarin karena saya merasa dipermainkan. Sementara saya tidak tahu sama sekali lokasi kurir itu,” kata Riyanti melalui pesan WhatsApp.
Sementara itu, Bayu berharap instansi tempat Riyanti bekerja memberikan perhatian terhadap kasus tersebut.
“Kalau kepala dinasnya lihat, mestinya malu ada oknum seperti itu mencoreng nama instansi,” ujar Bayu.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik setelah memicu reaksi luas di media sosial dan menimbulkan perdebatan terkait etika ASN dalam berkomunikasi dengan masyarakat.