Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Alivio Mubarak Junior
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit kardiovaskular hingga saat ini masih menduduki posisi sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia. Penyakit itu merupakan kelompok gangguan yang memengaruhi jantung dan pembuluh darah, termasuk penyakit jantung koroner (PJK), stroke, aritmia, dan gagal jantung.
Tak hanya secara global, kondisi ini juga menjadi salah satu tantangan utama bagi sistem kesehatan di Indonesia.
Baca juga: Ahli Gizi: Kekurangan Omega-3 Tingkatkan Risiko Gangguan Kardiovaskular Seperti Jantung
Salah satu faktor risiko utama yang kerap luput dari perhatian masyarakat adalah tingginya kadar kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL), atau yang lebih populer dikenal sebagai kolesterol jahat.
Padahal secara biologis, kolesterol merupakan jenis lemak yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Komponen ini berfungsi untuk membentuk sel-sel yang sehat, memproduksi hormon, hingga membantu proses pembentukan vitamin D.
Namun, petaka akan muncul jika kadarnya berlebihan. Penumpukan kolesterol LDL yang tinggi di dalam tubuh dapat memicu terjadinya penyumbatan pembuluh darah.
Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Nancy Virginia, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, FAPSC., dalam edukasi kesehatan bertajuk Love The Beat menjelaskan jika dibiarkan, kondisi fatal seperti serangan jantung dan stroke pun tidak dapat dihindarkan.
"Ngerinya, kondisi ini sering kali menyerang tanpa disadari dan tanpa gejala awal," kata dr. Nancy di kawasan Jakarta Pusat, Minggu (14/6/2026).
"Akibatnya, banyak kasus baru yang terdeteksi setelah pasien mengalami komplikasi berat," lanjutnya.
Oleh karena itu, peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya cek kolesterol kini menjadi semakin krusial.
Bukan tanpa alasan, ancaman ini tergambar nyata dalam data Kementerian Kesehatan.
Merujuk pada Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 39,5 persen penduduk di Indonesia memiliki kadar kolesterol yang sudah melampaui kategori normal alias berada di zona tidak aman.
Angka tersebut menjadi alarm keras bahwa sebagian besar masyarakat kita sangat rentan terhadap risiko gangguan kesehatan jantung.
Sebagai langkah preventif, masyarakat sangat diimbau untuk mengambil inisiatif mandiri dalam memeriksakan kadar kolesterol secara rutin atau melakukan medical check up.
"Upaya berkala ini sangat penting demi mengidentifikasi faktor risiko penyakit jantung sejak dini sebelum terlambat," ujar dr. Nancy.
Beberapa pemeriksaan berkala yang wajib dilakukan di antaranya yakni pemeriksaan profil lipid (kolesterol), gula darah, tekanan darah, dan emeriksaan fungsi jantung.
Selain rutin cek kesehatan, masyarakat juga wajib memangkas pola hidup tidak sehat, seperti kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, kurangnya aktivitas fisik, serta mengelola tingkat stres yang kian meningkat.
Lebih lanjut dr. Nancy Virginia mengungkapkan kontrol terhadap kolesterol sangat memengaruhi tingkat risiko komplikasi fatal.
"Kolesterol sebenarnya dibutuhkan tubuh, tetapi jika kadarnya berlebihan dapat menjadi faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke," ungkap dr. Nancy.
"Kolesterol tinggi juga sering kali tidak bergejala, sehingga banyak pasien baru mengetahui kondisinya setelah terjadi komplikasi," tambahnya.
Oleh karena itu, lanjut dr. Nancy, jika kadar LDL dikendalikan dengan optimal, maka risiko komplikasi kardiovaskular pun akan menurun di kemudian hari.
dr. Nancy menjelaskan pemeriksaan kolesterol dianjurkan mulai usia 20 tahun meliputi kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida, serta dilakukan berkala sesuai faktor risiko.
"Selain itu, lakukan pola makan sehat untuk jantung, olahraga rutin minimal 150 menit per minggu, menjaga berat badan ideal, dan membatasi alkohol maupun rokok," ungkapnya.
"Pada beberapa kondisi, terapi obat seperti statin dan terapi non-statin diperlukan untuk membantu mencapai target LDL dan mencegah komplikasi penyakit kardiovaskular," tambahnya lagi.
Senada dengan hal tersebut, Group Marketing Head PT Kalbe Farma Tbk, apt. Maria Stefani, S.Farm., M.M., mengungkapkan karena sifatnya yang sering senyap tanpa gejala, edukasi dan tindakan preventif harus gencar dilakukan.
"Karena itu, edukasi kesehatan, deteksi dini, pemeriksaan kolesterol secara rutin, dan pengobatan yang tepat menjadi penting untuk mencegah komplikasi," timpal apt. Maria Stefani pada kesempatan yang sama.
"Kami percaya bahwa deteksi dini merupakan fondasi utama dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah," lanjutnya.
Dalam kesempatan edukasi tersebut, dr. Nancy juga memberikan penjelasan mendalam mengenai perbedaan mendasar antara obat-obatan kedokteran modern dengan pengobatan tradisional atau alternatif.
Ia menekankan obat-obatan modern yang dipasarkan secara internasional telah melewati proses pengujian ilmiah yang sangat ketat, mulai dari penelitian fase 1, fase 2, hingga fase 3.
Bahkan, setelah obat resmi beredar, masih ada tahap post-marketing surveillance guna terus memantau efikasi (kemanjuran) serta keamanan (safety) obat tersebut bagi pasien.
Hal ini tentu berbanding terbalik dengan metode alternatif yang umumnya minim basis ilmiah kuat dan hanya bersandar pada testimoni perorangan.
"Berbeda dengan pengobatan tradisional, alternatif, di mana tidak ada penelitian yang dilakukan atau penelitian yang dilakukan pun skalanya testimonial atau skala kecil," jelas dr. Nancy.
Menurutnya, skala subjek penelitian tradisional biasanya sangat terbatas.
"Ya mungkin hanya sekian puluh orang, sekian ratus orang, tapi kalau obat yang yang dipasarkan secara internasional bahkan itu penelitiannya melibatkan ratusan ribu atau jutaan orang ya, untuk bisa sampai dibilang obat ini safe, obat ini efektif dan obat ini layak untuk diresepkan," pungkasnya.