TRIBUNJAKARTA.COM - Dokter Spesialis Anak Victor Nainggolan mengingatkan bahwa sembelit berkepanjangan dapat membuat anak kehilangan nafsu makan, berat badan sulit naik, hingga mengalami gangguan perkembangan akibat asupan nutrisi yang tidak optimal.
"Ketika sembelit anak nggak mau makan, akhirnya pertumbuhan berat badannya tidak baik sehingga anak mengalami gangguan gagal tumbuh atau tumbuh kembangnya jadi terganggu," kata Victor dikutip TribunJakarta.com dari YouTube Tanya Dokter.
Dokter Victor mengatakan, sembelit pada anak tidak selalu disebabkan oleh kurangnya konsumsi sayur dan buah seperti yang selama ini banyak dipercaya masyarakat.
Menurutnya, sebagian besar kasus sembelit pada anak justru dipicu oleh faktor fungsional, mulai dari kebiasaan menahan buang air besar (BAB), kurang cairan, hingga trauma fisik maupun psikologis yang dialami anak.
"Jadi memang penyebab sembelit ini bermacam-macam. Banyak sekali multifaktor yang dapat menyebabkan sembelit. Termasuk ada rasa trauma waktu masih kecil, rasa nyeri ketika membuang air besar, atau pola makan yang salah, di mana kurang cairan ataupun karena masalah kurang serat," kata dokter Victor.
Dokter Victor menjelaskan, sembelit atau konstipasi merupakan kondisi ketika frekuensi BAB anak berkurang dari biasanya dan sering kali disertai tinja yang keras sehingga sulit dikeluarkan.
Pada kondisi tertentu, rasa sakit saat BAB membuat anak memilih menahan keinginan buang air besar.
Akibatnya, tinja semakin menumpuk, ukurannya membesar, dan teksturnya menjadi lebih keras.
"Ini seperti lingkaran setan. Jadi kalau kita nggak tangani, anak akan merasa sakit dan akhirnya tetap menahan," ujarnya.
Tak hanya berdampak pada sistem pencernaan, sembelit juga dapat memengaruhi pola makan anak.
Banyak orang tua mengeluhkan anak menjadi susah makan tanpa menyadari bahwa penyebabnya adalah perut yang masih terasa penuh akibat tinja yang tertahan.
"Karena rasa nyeri, perutnya sakit. Akhirnya anak-anak memilih makanan. Orang tua sering bilang kok anak saya susah makan ya, padahal ternyata sudah mengalami gangguan sembelit," tutu dokter Victor.
Menariknya, trauma yang dimaksud tidak selalu berupa rasa sakit saat BAB. Victor menyebut kondisi psikologis anak juga dapat memengaruhi kebiasaan buang air besar.
Anak yang sedang beradaptasi dengan lingkungan baru, mulai masuk sekolah, hingga merasa takut menggunakan toilet tertentu bisa mengalami kesulitan BAB.
"Trauma itu bukan hanya masalah trauma fisik, tapi trauma psikologis juga menyebabkan seseorang anak itu jadi susah membuang air besar," katanya.
Ia mencontohkan anak yang takut karena toilet gelap, kotor, berbau, atau terdapat serangga di dalamnya.
Ketidaknyamanan tersebut dapat membuat anak menahan BAB dalam waktu lama hingga akhirnya mengalami sembelit.
Dokter Victor juga mengingatkan orang tua agar tidak langsung panik ketika anak tidak BAB selama dua hingga tiga hari.
Menurutnya, apabila anak tetap aktif, tidak rewel, masih mau menyusu atau makan, serta tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan, kondisi tersebut masih bisa dianggap normal.
"Sudah tiga sampai empat hari tapi anak kondisinya aktif, baik, sehat, tidak rewel, itu masih oke," ujarnya.
Sebaliknya, orang tua perlu lebih waspada apabila anak harus mengejan kuat, menangis saat BAB, tinjanya keras seperti kotoran kambing, atau keluhan berlangsung hingga lebih dari satu bulan.
Kondisi seperti itu sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter untuk memastikan tidak ada gangguan lain pada saluran cerna.
Dokter Victor menegaskan sembelit bukan masalah sepele. Jika dibiarkan, kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan hingga kesehatan mental anak.
"Ketika sembelit anak nggak mau makan, akhirnya pertumbuhan berat badannya tidak baik sehingga anak mengalami gangguan gagal tumbuh atau tumbuh kembangnya jadi terganggu," jelasnya.
Selain itu, anak juga bisa menjadi lebih mudah rewel, sulit tidur, hingga mengalami gangguan emosional karena selalu merasa takut setiap kali hendak BAB.
Bahkan pada beberapa kasus, sembelit berkepanjangan dapat menyebabkan keluarnya cairan atau kotoran di celana dalam yang sering disalahartikan sebagai diare.
"Ceprit itu justru bukan diare, bisa jadi karena anak-anak sembelit," kata dokter Victor.
Karena itu, ia mengimbau orang tua untuk tidak hanya fokus pada asupan serat, tetapi juga memastikan kebutuhan cairan anak terpenuhi, membangun kebiasaan BAB yang baik, serta memperhatikan kondisi psikologis anak.
"Perlu ada edukasi kenapa sembelit itu bisa terjadi, penyebab-penyebab sembelit dan bagaimana cara mengatasinya," pungkas dokter Victor.