Dokter Ungkap Penyebab Utama Anak Sembelit saat MPASI, Ternyata Bukan Hanya Kurang Makan Serat
Rr Dewi Kartika H June 14, 2026 03:11 PM

TRIBUNJAKARTA.COM - Sembelit merupakan masalah yang sering membuat orang tua panik saat anak mulai memasuki masa Makanan Pendamping ASI (MPASI).

Dokter Spesialis Anak, Victor Nainggolan mengatakan sembelit pada anak umumnya dipicu oleh banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari kurang cairan hingga trauma saat buang air besar (BAB).

Bukan hanya karena kurangnya konsumsi sayur dan buah.

"Jadi memang penyebab sembelit ini bermacam-macam. Banyak sekali multifaktor yang dapat menyebabkan sembelit. Termasuk ada rasa trauma waktu masih kecil, rasa nyeri ketika membuang air besar, atau pola makan yang salah, di mana kurang cairan ataupun karena masalah kurang serat," kata dokter Victor dikutip dari YouTube Tanya Dokter, pada Minggu (14/6/2026). 

Mengenal Sembelit

Menurut dokter Victor, sembelit atau konstipasi adalah kondisi ketika frekuensi BAB anak menjadi lebih jarang dari biasanya dan disertai tinja yang keras sehingga sulit dikeluarkan.

"Jadi biasanya anak-anak itu bisa pup satu sampai dua kali dalam sehari, bahkan sampai dua hari sekali. Tapi ini lebih jarang, bisa tiga hari sekali atau dalam seminggu cuma dua kali," ujarnya.

Kondisi tersebut kerap membuat anak kesakitan saat BAB.

Akibatnya, anak justru berusaha menahan keinginan buang air besar karena takut merasakan sakit yang sama.

Dokter Victor menjelaskan, kebiasaan menahan BAB inilah yang sering memicu lingkaran masalah baru. 

Tinja yang tertahan di usus akan semakin banyak, semakin keras, dan semakin sulit dikeluarkan.

"Ini seperti lingkaran setan. Jadi kalau kita tidak tangani, anak akan merasa sakit dan akhirnya tetap menahan," katanya.

Selain menimbulkan rasa nyeri, sembelit juga dapat memengaruhi nafsu makan anak.

Banyak orang tua mengira anak menjadi susah makan karena sedang pilih-pilih makanan, padahal bisa jadi perutnya masih penuh akibat tinja yang belum keluar.

"Karena rasa nyeri, perutnya sakit, akhirnya anak-anak memilih makanan. Orang tua sering bilang kok anak saya susah makan ya, padahal ternyata sudah mengalami gangguan sembelit," jelas dokter Victor.

Bukan Karena Kurang Serat

Saat masa MPASI, orang tua juga sering mengaitkan sembelit dengan kurangnya asupan serat dari sayur dan buah.

Namun dokter Victor menegaskan bahwa kebutuhan serat anak sebenarnya tidak terlalu tinggi, terutama pada usia awal MPASI.

Ia menyebut kebutuhan serat harian anak dapat dihitung menggunakan rumus sederhana, yakni lima gram ditambah usia anak dalam tahun.

"Misalkan anak usia satu tahun, berarti kebutuhan seratnya enam gram. Kalau usia dua tahun sekitar tujuh gram. Jadi kebutuhan serat tidak terlalu banyak sebenarnya," katanya.

Menurut dokter Victor, kebutuhan tersebut umumnya sudah dapat terpenuhi melalui konsumsi buah satu hingga dua kali sehari serta sayur dalam menu makan harian anak.

Karena itu, orang tua tidak boleh buru-buru menyimpulkan bahwa sembelit terjadi hanya karena anak kurang makan sayur atau buah.

"Jadi tidak serta-merta karena tidak makan sayur atau tidak makan buah, anak jadi sembelit. Kita harus lihat juga apakah kebutuhan cairannya cukup dan apakah ada masalah lain yang menyebabkan sembelit," ujar dokter Victor.

Menariknya, bukan hanya kekurangan serat yang bisa memicu sembelit.

Konsumsi serat yang berlebihan juga dapat menyebabkan masalah yang sama apabila tidak diimbangi asupan cairan yang cukup.

"Kurang serat pun bisa bikin sembelit, tapi terlalu banyak serat juga bisa menyebabkan sembelit. Jadi memang kebutuhan serat ini harus terpenuhi sesuai kebutuhan hariannya," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.