SERAMBINEWS.COM - Dokter Andik Wijaya awalnya mengikuti pemeriksaan kesehatan hanya karena adanya promo diskon.
Ia merasa dirinya dalam kondisi sehat dan tidak memiliki keluhan penyakit jantung.
Namun, hasil coronary artery calcium score menunjukkan angka 431 yang tergolong tinggi.
Angka tersebut menandakan risiko serius terhadap serangan jantung dan stroke.
Temuan ini membuatnya sangat terkejut karena tidak sesuai dengan kondisi yang ia rasakan.
Ia kemudian menyadari bahwa penyakit jantung bisa muncul tanpa gejala awal yang jelas.
Riwayat keluarga juga diduga menjadi salah satu faktor risiko yang dimilikinya.
Baca juga: Bukan Cuma Penyakit Lansia, Ini 5 Alasan Serangan Jantung Makin Sering Mengintai Usia Muda
Pengalaman ini membuatnya menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak dini.
Dr Andik Wijaya tidak pernah menyangka pemeriksaan kesehatan yang awalnya ia ikuti karena sedang ada promo diskon justru mengubah hidupnya.
Dokter berusia 60 tahun itu merasa kondisi kesehatannya baik-baik saja.
Ia tidak memiliki keluhan yang mengarah pada penyakit jantung dan mengaku cukup menjaga pola hidup.
Namun, hasil pemeriksaan yang ia jalani pada April 2024 menunjukkan hal yang berbeda.
“Saya pikir kesehatan saya bakal baik-baik saja karena saya cukup menjaga kesehatan,” katanya saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (12/6/2026).
Pemeriksaan yang ia ikuti adalah coronary artery calcium score, yaitu tes untuk melihat adanya timbunan kalsium pada pembuluh darah koroner.
Memiliki risiko serangan jantung yang tinggi, Andik mengungkapkan bahwa skor kalsium koroner yang ia miliki mencapai angka 431.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan risiko tinggi terhadap serangan jantung maupun stroke.
“Dan ternyata saya yang semula sangat percaya diri, ternyata hasilnya sangat buruk,” ujar Andik.
Temuan itu menjadi pukulan tersendiri karena selama ini ia merasa cukup berhati-hati menjaga kesehatan.
Sebagai dokter, ia memahami bahwa kondisi tersebut tidak bisa dianggap sepele.
Dalam praktik medis, pasien dengan hasil seperti itu biasanya akan disarankan menjalani pemeriksaan kateterisasi untuk melihat tingkat penyumbatan pada pembuluh darah koroner.
Jika penyumbatan sudah mencapai tingkat tertentu, tindakan pemasangan ring jantung bisa menjadi pilihan terapi.
Merasa sehat bukan berarti bebas risiko. Yang membuat Andik semakin terkejut adalah kondisi kolesterolnya yang selama ini tidak pernah terlihat sangat tinggi.
Ia mengaku kadar LDL atau kolesterol jahatnya biasanya berada di kisaran 100 hingga 120 mg/dL.
Angka tersebut memang berada di atas batas normal laboratorium, tetapi tidak tergolong sangat tinggi.
“Makanya tadi saya katakan waktu mau screening calcium score, saya percaya diri sekali bahwa saya tidak akan ada masalah yang serius,” ujarnya.
Namun, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa risiko penyakit jantung koroner tetap bisa muncul meski seseorang merasa sehat dan tidak memiliki keluhan yang jelas. Andik juga mengungkapkan bahwa faktor riwayat keluarga kemungkinan turut berperan.
Ia memiliki kakak yang meninggal akibat stroke dan anggota keluarga lain yang pernah menjalani pemasangan ring jantung.
Karena itu, ia menilai pemeriksaan kesehatan menjadi penting, termasuk bagi orang yang merasa kondisinya baik-baik saja.
Pemeriksaan dini mengubah cara pandangnya. Setelah mengetahui hasil skrining tersebut, Andik mulai mempelajari berbagai penelitian terkait penyakit jantung koroner.
Ia kemudian melakukan sejumlah perubahan gaya hidup, termasuk mengubah pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik.
Meski demikian, menurut Andik, titik awal dari seluruh perubahan itu adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan lebih awal.
Tanpa pemeriksaan tersebut, ia mengaku mungkin tidak akan mengetahui adanya risiko penyakit jantung koroner yang sedang berkembang.
“Saya sangat kaget mengingat saya pikir selama ini saya cukup menjaga kesehatan,” kata Andik.
Pengalaman itu membuatnya percaya bahwa deteksi dini memiliki peran penting dalam mengenali risiko penyakit yang sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.
Karena itulah, ia berharap lebih banyak orang tidak menunggu sampai muncul keluhan untuk mulai memeriksakan kesehatannya.
Bagi Andik, pemeriksaan yang awalnya dilakukan secara iseng karena ada diskon justru menjadi momen yang membuka matanya terhadap kondisi kesehatan yang selama ini tidak ia sadari. (*)
Sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2026/06/14/100300920/iseng-ikut-medical-check-up-dokter-ini-justru-menemukan-penyakit-jantung