Kenali Alergi Susu Sapi pada Anak, Gejala Mirip Masuk Angin atau Ruam Biasa
Adi Suhendi June 14, 2026 06:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ruam di kulit, diare berulang, perut kembung, hingga anak yang tiba-tiba menjadi lebih rewel sering kali dianggap sebagai masalah kesehatan biasa.

Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi tanda alergi protein susu sapi (APSS) yang kerap tidak disadari orang tua.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi dr Molly Dumakuri Oktarina SpA(K) mengatakan alergi susu sapi merupakan kondisi yang perlu dikenali sejak dini karena dapat memengaruhi kenyamanan anak, asupan nutrisi, hingga tumbuh kembangnya.

Menurut dr Molly, setiap anak dapat menunjukkan gejala yang berbeda sehingga penanganannya tidak bisa disamaratakan.

"Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pendekatan penanganannya pun tidak bisa disamaratakan," kata dr Molly dalam talkshow kesehatan sambut World Allergy Week 2026, Sarihusada melalui SADAR Alergi Ajak Orang Tua Tangani Alergi Susu Sapi pada Anak dengan Tepat di Jakarta, Minggu (14/6/2026). 

Baca juga: ASI Eksklusif Bisa Cegah Alergi Susu Sapi pada Anak? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Berdasarkan studi dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition (2025), prevalensi global alergi susu sapi berkisar antara 2 persen hingga 7,5 persen. 

Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat angka kejadiannya di Indonesia dapat mencapai hingga 7,5 persen.

Sayangnya, gejala alergi susu sapi sering menyerupai kondisi umum lain seperti gangguan pencernaan atau masalah kulit sehingga tidak jarang terlambat dikenali.

Padahal, jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi tersebut dapat mengganggu asupan nutrisi anak pada masa penting pertumbuhan dan perkembangan.

Penanganan Alergi Susu

Dokter Molly pun menjelaskan tidak ada satu pendekatan yang bisa diterapkan pada seluruh anak dengan alergi susu sapi.

Kondisi setiap anak berbeda sehingga terapi yang diberikan harus disesuaikan berdasarkan hasil evaluasi medis.

"Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda, sehingga pendekatan penanganannya pun tidak bisa disamaratakan," jelas dr Molly.

Baca juga: Serupa Tapi Tak Sama, Kenali Gejala Anak yang Alergi Susu Sapi dan Intoleran Laktosa

Ia menegaskan bahwa ASI tetap merupakan nutrisi terbaik, termasuk bagi anak yang mengalami alergi protein susu sapi.

Namun dalam kondisi tertentu, ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya sebagai bagian dari penanganan.

Sementara pada anak yang membutuhkan asupan tambahan karena indikasi medis tertentu, pemilihan formula harus dilakukan berdasarkan rekomendasi dokter anak.

Pilihan yang tersedia antara lain formula terhidrolisa ekstensif (EHF) untuk alergi ringan hingga sedang, formula asam amino (AAF) untuk kondisi yang lebih berat, serta formula soya sebagai alternatif dalam kondisi tertentu.

Karena itu, proses diagnosis hingga pemilihan nutrisi tidak boleh dilakukan sendiri tanpa pengawasan tenaga medis.

Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Dr dr. Ray Wagiu Basrowi MKK FRSPH mengatakan bahwa penanganan yang tidak tepat dapat memengaruhi kecukupan asupan nutrisi yang dibutuhkan anak.

"Tata laksana alergi susu sapi yang tidak tepat dapat memengaruhi kecukupan asupan yang dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang secara optimal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat berujung pada stunting," ujar dr Ray. 

Bahkan sejumlah studi menemukan risiko stunting dapat mencapai hingga 24 persen pada kelompok anak dengan alergi protein susu sapi.

Selain berdampak pada pertumbuhan fisik, kondisi ini juga dapat memengaruhi kualitas hidup anak secara keseluruhan.

Mulai dari aspek psikologis, sosial, hingga memberikan tantangan tersendiri bagi keluarga dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah Orang Tua yang Harus Bolak-Balik ke Dokter

Pengalaman menghadapi alergi susu sapi pernah dirasakan Momfluencer Sandra Devita.

Sebagai ibu dengan anak yang mengalami alergi susu sapi, ia mengaku sempat bingung ketika melihat reaksi tertentu muncul setelah anak mengonsumsi susu.

Kondisi tersebut membuatnya harus berulang kali berkonsultasi ke dokter anak.

"Karena gejalanya tidak kunjung membaik, saya jadi bolak-balik ke dokter anak dan itu cukup menguras waktu, biaya, serta pikiran saya sebagai seorang ibu," katanya.

Dari pengalaman tersebut, Sandra menyadari pentingnya tidak mengambil kesimpulan sendiri mengenai kondisi anak.

Menurutnya, orang tua perlu berkonsultasi dengan dokter spesialis anak agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat sesuai kondisi masing-masing anak.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.