Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menjelang hari penting seperti pernikahan, wisuda, atau sesi foto prewedding, banyak orang tergoda mengikuti program penurunan berat badan instan.
Tidak sedikit klinik yang menawarkan target penurunan berat badan dalam waktu singkat.
Ada juga berani menjanjikan hasil tertentu hanya berdasarkan tanggal acara yang dimiliki calon pasien.
Baca juga: BPOM Tarik 19 Produk Herbal Ilegal, Ada Obat Stamina hingga Pelangsing Berbahan Kimia Berbahaya
Selain itu ada juga influencer yang menawarkan program menurunkan berat badan dengan waktu singkat.
Sekilas memang menarik. Berat badan turun, tubuh terlihat lebih ramping, dan hasilnya bisa terlihat dalam hitungan minggu.
Namun menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi, Metabolisme, dan Diabetes dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, masyarakat perlu lebih kritis sebelum tergiur janji tersebut.
Menurut dr Dicky, tujuan utama penurunan berat badan bukan sekadar membuat angka timbangan turun.
Yang lebih penting adalah memperbaiki kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk tekanan darah tinggi, diabetes, dan fatty liver.
Ia menjelaskan bahwa target yang umum digunakan dalam dunia medis adalah menurunkan berat badan sekitar 5 persen hingga 15 persen dalam kurun waktu tiga sampai enam bulan.
"Kalau saya lihat dari sisi kesehatan ya. Kita targetnya dalam 3-6 bulan minimal bisa 5 bahkan sampai 15 persen," kata dr Dicky pada awak media usai jadi pembicara dalam diskusi spesial Global Fatty Liver Day yang diselenggarakan oleh Novo Nordisk di Jakarta Pusat, Minggu (14/6/2026).
Penurunan berat badan tersebut terbukti memberikan manfaat kesehatan yang signifikan.
Semakin besar penurunan berat badan yang dicapai dengan cara yang tepat, semakin besar pula peluang perbaikan kondisi metabolik.
Masalah muncul ketika seseorang terlalu fokus pada kecepatan penurunan berat badan.
Menurut dr Dicky, tubuh manusia tidak hanya terdiri dari lemak.
Di dalam tubuh terdapat air, otot, tulang, dan berbagai komponen lain yang ikut memengaruhi angka timbangan.
Karena itu, ketika berat badan turun sangat cepat, belum tentu yang berkurang adalah lemak.
"Badan kita itu ada otot, ada tulang, ada lemak, ada air. Biasanya kalau berat badannya turun cepat itu biasanya berkurang airnya," ujar dr Dicky.
Kondisi tersebut dapat menciptakan ilusi keberhasilan.
Timbangan memang turun, tetapi kesehatan belum tentu membaik.
Lebih lanjut dr Dicky juga mengingatkan bahwa tidak semua obat yang digunakan dalam program pelangsing memiliki indikasi yang tepat.
Beberapa metode bahkan hanya membuat tubuh kehilangan cairan sehingga berat badan terlihat turun dalam waktu singkat.
"Kalau mau turunin berat badan besok turun mah gampang nih. Kasih obat bikin buang cairan juga turun besok. Tapi kan bukan itu niatnya kita mau sehat kan," katanya.
Karena itu masyarakat perlu lebih aktif bertanya kepada dokter mengenai obat yang digunakan.
Mulai dari nama obat, cara kerja, hingga efek sampingnya.
Menurut dr Dicky, pasien berhak mengetahui terapi yang diberikan.
Pasalnya, tidak semua klinik menjelaskan secara terbuka jenis obat yang digunakan dalam program penurunan berat badan.
"Saya rasa kita perlu edukasi pasien untuk lebih pinter lah ya. Nanya ke dokternya obatnya apa, efek sampingnya apa," katanya.
Ia menegaskan bahwa tidak ada obat yang benar-benar bebas efek samping.
Karena itu pengawasan medis tetap menjadi faktor penting dalam setiap program penurunan berat badan.
Bagi masyarakat yang ingin menurunkan berat badan, pesan utama yang disampaikan dr Dicky cukup sederhana.
Yang lebih penting adalah memastikan tubuh kehilangan lemak secara sehat, menjaga massa otot, dan memperoleh manfaat kesehatan jangka panjang.
Sebab tubuh yang lebih sehat akan jauh lebih berharga dibanding sekadar tubuh yang lebih ringan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali menemukan sembilan produk obat bahan alam yang mengandung bahan kimia obat (BKO).
Temuan ini diperoleh dari hasil pengawasan dan sampling yang dilakukan selama Desember 2025.
Informasi tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi BPOM.
Dalam pengawasan tersebut, seluruh produk yang ditemukan dinyatakan ilegal karena mengandung zat kimia yang seharusnya hanya digunakan dalam obat medis dengan pengawasan tenaga kesehatan.
Sepanjang Januari hingga Desember 2025, BPOM telah melakukan sampling dan pengujian terhadap 11.654 produk obat bahan alam dan suplemen kesehatan yang beredar luas di masyarakat.
Dari hasil pengujian tersebut, BPOM menemukan sejumlah produk yang mengandung bahan kimia obat berbahaya.
Diantara ratusan produk yang ditemukan, ada yang mengklaim jadi obat pelangsing. Ini daftarnya:
1. Fix Slim Super Booster
Mengandung sibutramin dan N-desmethyl sibutramin
Produk ilegal
Baca juga: Langkah Berani BPOM Tangkal Intervensi Industri Tembakau Pengaruhi Kebijakan Negara
2. Hendel Exitox Green Coffee Bean Extract 500 mg
Mengandung sibutramin
Produk ilegal
Mencantumkan nomor izin edar fiktif
3. Faslim
Mengandung sibutramin dan N-desmethyl sibutramin
Produk ilegal
4. Extra Slimming
Mengandung sibutramin
Produk ilegal
5. Slimmy Pink
Mengandung bisakodil
Produk ilegal
Klaim Stamina Pria
6. Kapsul Butea-S
Mengandung sildenafil dan tadalafil
Produk ilegal
Mencantumkan nomor izin edar fiktif
7. Kopi Mandalika
Mengandung sildenafil dan tadalafil
Produk ilegal
Mencantumkan nomor izin edar fiktif