Oleh: Wensislaus Jandi
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Pada tahun 1984, novel fiksi ilmiah Neuromancer karya William Gibson memperkenalkan konsep cyberspace atau dunia maya.
Konsep ini menggambarkan ruang digital berbasis jaringan komputer yang memungkinkan manusia dari berbagai belahan dunia untuk saling terhubung.
Gagasan ini kemudian sangat memengaruhi perkembangan internet modern sejak dekade 1990-an hingga saat ini.
Perkembangan internet telah menciptakan ruang baru bagi manusia untuk mengekspresikan diri, membangun relasi, serta mengakses informasi secara cepat tanpa batas ruang dan waktu.
Teknologi digital memberikan banyak kemudahan dalam bidang pendidikan, ekonomi, komunikasi, dan pelayanan sosial.
Baca juga: Opini - Ketika Vatikan dan Dunia Buddha Turun ke Akar Rumput Asia
Internet dapat dipandang sebagai salah satu buah kreativitas manusia yang, dalam terang iman, dapat menjadi sarana untuk melayani sesama dan mengembangkan karya penciptaan Allah.
Hal ini juga ditegaskan dalam dokumen The Church and Internet (2002) oleh Pontifical Council for Social Communications, yang menyatakan bahwa teknologi komunikasi merupakan buah kreativitas manusia yang berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah.
Internet dapat menjadi sarana persaudaraan dan evangelisasi, asalkan digunakan secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, teknologi bukanlah sesuatu yang secara moral baik atau buruk dengan sendirinya, melainkan bergantung pada penggunaannya.
Namun demikian, di era internet juga menghadirkan tantangan serius, terutama dalam kehidupan rohani.
Arus informasi yang begitu cepat dan berlimpah sering membuat manusia kehilangan kemampuan untuk merefleksi diri, konsentrasi, dan penilaian kritis.
Ketergantungan pada media sosial dan perangkat digital dapat membuat manusia hidup dalam pola instan, serta semakin jauh dari kedalaman batin.
Dalam situasi ini, manusia berisiko menjadi “terkendali” oleh teknologi, bukan mengendalikannya.
Hal ini sejalan dengan pemikiran F. Budi Hardiman dalam bukunya Aku Klik Maka Aku Ada, yang menyatakan bahwa manusia modern telah bergeser dari homo sapiens menjadi homo digitalis.
Kehidupan manusia semakin dibentuk oleh dunia digital, sehingga pengalaman virtual sering menggantikan realitas nyata.
Akibatnya, manusia semakin sulit membedakan kebutuhan sejati dengan konsumsi informasi yang berlebihan.
Dalam konteks ini, muncul kecemasan yang mendalam dalam diri kita. Berbagai pertanyaan reflektif pun muncul: Apakah kita masih menemukan Allah di tengah dunia digital ini?
Apakah iman kita masih bertumbuh di tengah derasnya arus informasi yang tidak terbatas?
Apakah kita masih berpegang teguh pada pengharapan akan keselamatan kekal itu? Atau justru sebaliknya, kita mengalami kemalasan untuk mencari Tuhan dan merasakan kekeringan rohani?
Betapa sering kita menghabiskan waktu berjam-jam menjelajahi media sosial, mengikuti berbagai tren, atau menikmati beragam hiburan digital, tetapi sulit menyediakan waktu untuk berdoa dan merenungkan Sabda Allah.
Bahkan ketika menghadapi persoalan hidup, kita lebih dahulu mencari jawaban melalui mesin pencari atau media sosial daripada datang kepada Tuhan dalam doa.
Akibatnya, tanpa disadari kita menjadi begitu sibuk dengan berbagai suara dari dunia digital sehingga semakin sulit mengenali kehadiran Allah yang berbicara dalam keheningan hati.
Maka pertanyaannya bukan hanya apakah Allah masih hadir di tengah dunia digital, melainkan apakah kita masih memiliki ruang dalam hati untuk mencari dan menemukan-Nya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin penting jika dilihat dari perspektif Santo Yohanes dari Salib bahwa manusia tidak dapat mengalami persatuan yang mendalam dengan Allah apabila ia terus-menerus melekat pada hal-hal yang mengalihkan perhatian dari Sang Pencipta.
St. Yohanes dari Salib adalah seorang Karmel OCD yang lahir pada tahun 1542, di Fonti feros, Spanyol, sebuah kota kecil yang berlokasi Castile lama.
Tanggal lahirnya diperkirakan 24 juni, pesta kelahiran Yohanes Pembaptis, sehingga sebagai kenangan dan penghormatan kepada Yohanes Pembaptis, dia diberi nama Yohanes.
Dia bergabung dengan para Karmelit di Biara Santa Anna, Medina del Campo pada tahun 1563.
Dalam riwayat hidupnya, diceritakan bagaimana suatu hari ia berkata kepada Dona Anna de Penaloso (seorang awam taat yang menjadi anak rohaninya dan untuknya dituliskan puisi Nyala Api Cinta yang berlutut dihadapanya untuk meminta petunjuk kepadanya). St. Yohanes berkata bahwa segala sesuatu harus dilepaskan demi cinta kepada Allah.
Untuk dapat sampai kepada kesatuan cinta dengan Allah, orang harus memasuki apa yang disebutnya malam gelap, yang tidak lain dari pada pengosongan diri dalam segala bidang dan aktivitas insani. Lalu bagaimana hubunganya dengan dunia cyber atau zaman internet ini?
Bagi St. Yohanes dari Salib sebenarnya yang menjadi persoalan bukan hal tidak memeiliki barang-barang duniawi, seperti: memiliki hp, laptop, komputer, dan sebagainya, tetapi karena keterikatan yang tidak teratur akan hal itu.
Artinya ketika kita merasa nyaman dan aman dengan segala sesuatu yang kita miliki membuat kita mengabaikan hal-hal yang lebih penting.
Oleh sebab itu, Yohanes dari Salib menegaskan bahwa manusia sering kali sulit memiliki sesuatu tanpa menjadi terikat padanya.
Karena itu, diperlukan sikap lepas bebas agar hati tetap terarah kepada Allah.
Menurut Yohanes dari Salib bahwa perjumpaan dengan Allah bukanlah sebuah pengalaman yang mustahil, itu merupakan sebuah keniscayaan, sesuatu yang pasti dapat dimiliki oleh manusia: rasa “kekeringan” tidak membuktikan bahwa Allah berarti Absent, tidak hadir, tidak ada bersama kita.
Rasa “kehangatan yang suci” tidak membuktikan bahwa Ia ada. Realitas akan Allah itu sederhana dan mendalam.
Santo Yohanes dalam karyanya dalam buku Kidung Rohani juga (Spiritual Canticle), bait 1, no. 12, menegaskan “baik sekali bagimu hai jiwa untuk selalu mencari Dia sebagai yang tersembunyi, karena engkau meninggikan Allah sebagai yang maha luhur dan menghampiriNya sangat dekat, kalau engkau menganggap Nya lebih tinggi dan lebih dalam dari pada apapun yang dapat kau jangkau di dunia ini”
Di sini dia memberikan nasehat agar jiwa jangan menaruh perhatian baik sebagian atau seluruhnya, terhadap apa saja yang ditangkap oleh indera.
Oleh sebab itu, ia menyarankan agar doa, meditasi, dan refleksi pribadi baginya menjadi penting agar manusia tetap mampu mendengarkan suara Allah dalam batinnya.
Juga yang paling fundamental bagi Yohanes dari Salib adalah carilah Dia dalam iman dan kasih. Bagi Yohanes dari Salib jelas bahwa alat dan tangga yang pasti membawa jiwa kepada Allah adalah Percaya, Berharap dan Mengasihi.
Oleh sebab itu, bagi Yohanes dari Salib, untuk menemukan Allah di era cyber atau internet ini, adalah dengan melakukan kebajikan teologal yakni iman, harap dan kasih.
Konsep iman ini, oleh Santo Yohanes Salib, adalah karunia Ilahi yang denganya kita memercayai Tuhan serta sabda Nya, hidup dalam kontak dengan Allah. Dalam Iman Roh Kudus memancarkan sinarNya yang paling terang.
Iman adalah bakat, pemberian, kemampuan, yang bukan sekali jadi, tapi sebuah pemberian untuk hidup. “Bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diriku," kata Paulus.
Ini menunjukkan peningkatan kesadaran diri, di mana kehidupan Kristen menjadi cara untuk melihat dengan mata Yesus dan berbagi pikiranNya, dan melalui cinta Yesus menerima visi-Nya.
Harapan mengarahkan manusia kepada Allah sebagai tujuan akhir hidupnya. Santo Yohanes dari Salib mengajarkan bahwa manusia perlu melepaskan keterikatan pada kenangan masa lalu, kecemasan akan masa depan, dan berbagai keinginan yang tidak teratur.
Di era digital, harapan menjadi penting karena manusia sering terjebak dalam budaya instan, pencarian pengakuan, dan kecemasan akibat arus informasi yang tidak terbatas.
Harapan menolong manusia untuk tetap percaya pada penyelenggaraan Allah dan tidak menggantungkan kebahagiaannya pada hal-hal yang sementara. Kasih merupakan puncak kehidupan rohani.
Kasih membuat manusia memilih Allah dan menghendaki apa yang dikehendaki-Nya. Kasih kepada Allah diwujudkan melalui kasih kepada sesama.
Dalam dunia cyber, kasih diwujudkan melalui penggunaan teknologi untuk menyebarkan kebaikan, membangun persaudaraan, menghormati martabat manusia.
Namun, jika kita menggunakan teknologi hanya untuk mau melukai orang lain seperti ujaran kebencian, fitnah, dan sebagainya, maka itulah menanda bahwa di sana tidak ada kehadiran Allah .
Dengan demikian, Perkembangan teknologi digital menghadirkan berbagai peluang sekaligus tantangan bagi kehidupan manusia, terutama dalam kehidupan rohani.
Dalam terang ajaran Santo Yohanes dari Salib, teknologi bukanlah penghalang untuk berjumpa dengan Allah.
yang menjadi hambatan adalah keterikatan yang tidak teratur terhadap teknologi sehingga manusia kehilangan keheningan batin yang diperlukan untuk mendengarkan suara Allah.
Karena itu, kita dipanggil untuk menggunakan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab, dengan tetap mengarahkan hidup kepada Allah melalui iman, harapan, dan kasih.
Melalui doa, refleksi diri, serta penggunaan media digital sebagai sarana pewartaan Injil dan pelayanan kepada sesama. Dunia digital dapat menjadi ruang yang membantu manusia semakin dekat dengan Allah. (*)