Berita Malang Raya Populer: Penyegelan Ponpes di Bululawang, Wisata Edukasi Piataland Klojen
Sarah Elnyora Rumaropen June 15, 2026 10:35 AM

Laporan Reporter SURYAMALANG.COM, Luluul Isnainiyah/Benni Indo

SURYAMALANG.COM, MALANG RAYA - Kasus dugaan pencabulan santriwati oleh oknum kiai berinisial T memicu penyegelan tiga pondok pesantren di Bululawang, Kabupaten Malang.

Ormas Yakuza Maneges bersama warga menyegel lokasi setelah menyerahkan terduga pelaku ke Polres Malang untuk proses hukum.

Sementara di Kota Malang, wisata edukasi Piataland Klojen kian diminati orang tua sebagai alternatif ruang bermain anak yang aman di tengah kota.

Berikut ulasan selengkapnya:

Penyegelan Ponpes di Bululawang

Aksi tegas dilakukan oleh ormas Yakuza Maneges dengan menyegel pondok pesantren milik seorang oknum kiai yang diduga melakukan pencabulan terhadap santriwatinya di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang.

Proses penyegelan tersebut dipimpin langsung oleh anggota sekaligus pendiri Yakuza Maneges, Den Gus Thuba, pada Sabtu (13/6/2026) malam.

Langkah ini diambil sesaat setelah pihak ormas mengamankan dan membawa terduga pelaku yang berinisial T ke Polres Malang.

Terdapat tiga pondok pesantren yang selama ini diasuh oleh terduga pelaku T. Ketiga pondok tersebut terletak di desa yang sama dengan jarak antar-lokasi kurang lebih 1 kilometer.

Baca juga: Yakuza Maneges Buka Posko Pengaduan Korban Pelecehan di Lingkungan Ponpes Bululawang Malang

Proses penyegelan dilakukan dengan memasang banner berwarna hitam yang bertuliskan "Pondok Pesantren Ini Disegel/Ditutup Yakuza Maneges (Atas Dukungan Warga)".

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, ratusan warga tampak memadati area sekitar pondok pesantren untuk menyaksikan jalannya penyegelan.

Sementara itu, kondisi di dalam pondok pesantren sendiri sudah tampak kosong dan tidak ada lagi aktivitas dari para santri maupun santriwati.

Sebelum melakukan tindakan penyegelan, pihak Yakuza Maneges telah terlebih dahulu berdiskusi dengan masyarakat sekitar. Hasilnya, warga setempat memberikan dukungan penuh terhadap langkah penutupan tersebut.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Yakuza Maneges, Rizky Bagus, mengungkapkan respons cepat warga didasari oleh kekesalan yang sudah lama terpendam.

Baca juga: Wisata Edukasi di Kampung Gerabah Pagelaran Kabupaten Malang, Tetap Eksis di Tengah Modernitas

Berdasarkan penuturan warga, beberapa tahun silam pondok pesantren tersebut sebenarnya sempat akan dibakar massa akibat masalah yang sama, yaitu adanya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pengasuh pondok.

"Mereka mendukung karena berdasarkan cerita warga itu (pelecehan) sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu dan sempat mau dibakar. Lalu, kejadian itu kembali lagi hingga kini terduga pelaku sudah diserahkan ke polisi," kata Rizky.

Kasus ini akhirnya kembali mencuat ke permukaan setelah salah seorang santri yang menjadi korban berani mengadu dan meminta bantuan kepada Yakuza Maneges.

Pihak ormas kemudian langsung bergerak cepat memproses aduan tersebut ke jalur hukum.

"Maka dari itu karena ketegasan dan dukungan dari warga kami melangkah ke kepolisian serta aduan dari korban untuk mengusut kasus ini sampai tuntas," imbuhnya.

Imbas dari penyegelan ini, nasib para santri yang masih menempuh pendidikan di sana terpaksa harus dipulangkan ke rumah masing-masing.

Pihak Yakuza Maneges menegaskan pondok akan tetap disegel dalam jangka waktu yang tidak ditentukan, setidaknya hingga ada pembenahan total dari pihak pengelola pondok.

Setelah penyegelan ini, Yakuza Maneges berkomitmen untuk terus mengawal ketat seluruh proses hukum yang berjalan, mulai dari tingkat kepolisian hingga persidangan di pengadilan nanti.

Sebelum terjadinya penyegelan pada Sabtu malam, Yakuza Maneges sudah bergerak mendampingi korban sejak Sabtu (13/6/2026) sore.

Mereka mengawal korban sekaligus menyerahkan terduga pelaku T ke Satres PPA dan PPO Polres Malang untuk menjalani proses pemeriksaan intensif.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh kuasa hukum Yakuza Maneges, Moh Hatta, sejauh ini terdata kurang lebih ada empat orang santri yang menjadi korban tindakan asusila dari T.

Wisata Edukasi Piataland Klojen

Satu di antara sekian banyak tempat berlibur di Malang Raya yang menarik perhatian adalah Piataland. 

Terletak di Jalan Galunggung, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur, tempat ini menawarkan suasana yang sangat berbeda di sudut kota, yang kini semakin dipenuhi oleh deretan bangunan dan kafe.

Sebagai tempat wisata edukatif, Piataland menghadirkan pengalaman berharga bagi anak-anak yang berlibur ke sana melalui interaksi langsung dengan hewan.

Kelinci, burung, dan kambing menjadi penghuni utama di tempat tersebut. Di sini, anak-anak dapat memberi makan, menyentuh, hingga mengamati perilaku hewan-hewan tersebut secara langsung.

Bagi salah satu pengunjung bernama Denisha (32), datang ke Piataland bukan sekadar untuk mengisi waktu libur akhir pekan.

Denisha mengaku memang sengaja mencari tempat yang bisa menjadi sarana bermain sekaligus belajar bagi putrinya.

“Kalau liburan memang sering ke sini. Ini sudah yang kedua kali,” katanya kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (14/6/2026).

Awalnya, Denisha dan keluarga berencana untuk berwisata ke kawasan Bedengan di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Namun, karena waktu yang terbatas dan lokasi yang cukup jauh dari pusat kota, rencana liburan tersebut terpaksa urung dilakukan, hingga akhirnya Piataland menjadi pilihan utama.

“Rencananya mau ke Bedengan, tapi tidak sempat. Bangun kesiangan dan cukup jauh. Akhirnya ke sini saja,” ujarnya.

Baca juga: Wacana Mutasi Kadis Cipta Karya Bakal Mencuat di Paripurna DPRD Kabupaten Malang

Pilihan cadangan tersebut ternyata sama sekali tidak mengecewakan.

Sejak pertama kali memasuki area wisata, putri kecilnya nyaris tidak berhenti bergerak, aktif berpindah dari satu kandang ke kandang lainnya, serta menjajal tempat bermain mulai dari panjat kayu hingga perosotan.

Rasa ingin tahu anak itu seolah tidak pernah habis.

“Anak saya memang sangat aktif,” kata Denisha sambil tertawa.

Menurut Denisha, ruang terbuka seperti Piataland memberikan kebebasan bagi anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar secara aman.

Selama di sana, Denisha tidak perlu terus-menerus melarang atau mengingatkan anaknya agar tidak berlari, menyentuh sesuatu, atau bermain terlalu jauh.

“Kalau ke tempat seperti ini saya tidak khawatir. Dia bisa eksplor apa saja, sementara saya juga bisa memantau,” ujarnya.

Bagi banyak orang tua, kondisi aman dan nyaman seperti ini sudah menjadi kemewahan tersendiri. Di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk, ruang bermain anak sering kali kalah oleh kebutuhan pembangunan lain.

Lahan-lahan kosong kini berubah menjadi bangunan, dan area bermain perlahan beralih fungsi menjadi kawasan komersial, sehingga pilihan rekreasi keluarga menjadi semakin terbatas.

Denisha melihat langsung perubahan wajah Kota Malang tersebut dari tahun ke tahun. Menurutnya, tempat berkumpul yang tumbuh pesat saat ini justru lebih banyak dirancang untuk menyasar anak muda dan orang dewasa.

“Sekarang kalau lihat, anak-anak muda kalau berkumpul ya di kafe,” katanya.

Fenomena menjamurnya kafe tersebut, menurutnya, tidak salah. Namun di saat yang sama, anak-anak juga membutuhkan ruang yang memang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan mereka, yaitu ruang yang memungkinkan mereka bermain sekaligus bertemu dengan teman-teman sebayanya.

“Anak-anak juga harus punya tempat bermainnya sendiri,” ujarnya.

Karena alasan itulah, Denisha menilai keberadaan tempat wisata edukatif seperti Piataland menjadi sangat penting bagi Kota Malang.

Tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai destinasi rekreasi instan, tetapi juga menjadi ruang tumbuh kembang yang baik bagi anak-anak.

Menjelang siang, suasana di Piataland terpantau mulai didatangi lebih banyak pengunjung.

Anak-anak tampak berlarian riang sambil membawa pakan hewan, sementara beberapa orang tua sibuk mengabadikan momen bahagia tersebut melalui telepon genggam mereka.

Di sisi lain, putri Denisha tampaknya masih betah dan belum ingin pulang. Mengambil posisi di area istirahat, Denisha memilih kursi dan meja untuk makan bersama sang putri.

Meski putrinya sesekali lepas dari pandangan dan kembali berlari ke area permainan anak, Denisha tidak merasa khawatir dan tetap santai memperhatikan buah hatinya dari tempat duduk.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.