TRIBUNNEWS.COM – Nilai tukar rupiah hari ini, pada Senin (15/6/2026) menunjukkan adanya penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Perubahan ini menjadi indikasi sinyal positif terhadap dinamika ekonomi regional.
Mengutip dari data Bank Indonesia pada hari ini, kurs beli dolar hari ini adalah Rp17.831,40.
Sementara kurs jual dolar hari ini, Senin (15/6/2026) adalah Rp18.010,60.
Rupiah masih berpeluang untuk mengalami penguatan yang lebih besar.
Baca juga: IHSG Menguat, Danantara: Investor Percaya Fundamental Ekonomi Indonesia
e-Rate
Beli: Rp 17.675,00 per dollar AS
Jual: 17.695,00 per dollar AS
TT Counter
Beli: Rp 17.575,00 per dollar AS
Jual: Rp 17.850,00 per dollar AS
Bank notes
Beli: Rp 17.575,00 per dollar AS
Jual: Rp 17.850,00 per dollar AS
Special rates
Beli: Rp 17.665,00 per dollar AS
Jual: Rp 17.705,00 per dollar AS
TT counter
Beli: Rp 17.620,00 per dollar AS
Jual: Rp 17.850,00 per dollar AS
Bank notes
Beli: Rp 17.620,00 per dollar AS
Jual: Rp 17.850,00 per dollar AS
Baca juga: Rupiah Melemah, Wamenperin Faisol Riza: Industri Tekstil Justru Panen Peluang Ekspor
Special rate
Beli: Rp 17.725,00 per dollar AS
Jual: Rp 17.755,00 per dollar AS
TT Counter
Beli: Rp 17.550,00 per dollar AS
Jual: Rp 17.850,00 per dollar AS
Bank notes
Beli: Rp 17.550,00 per dollar AS
Jual: Rp 17.850,00 per dollar AS
Baca juga: Kurs Rupiah Hari Ini 29 Mei 2026: Makin Anjlok, Dolar AS Dekati Rp18.000
1. Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia
Ketika Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan, aset keuangan dalam rupiah menjadi lebih menarik bagi investor.
2. Kekuatan Dolar AS
Dolar AS merupakan mata uang acuan dunia, maka saat dolar menguat secara global, banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
3. Inflasi
Tingkat inflasi yang tinggi dapat mengurangi daya beli masyarakat dan menurunkan kepercayaan investor terhadap suatu mata uang. Inflasi yang terkendali umumnya mendukung stabilitas rupiah.
4. Situasi Politik dan Keamanan
Stabilitas politik dan keamanan memberikan kepastian bagi investor.
5. Kondisi Ekonomi dan Geopolitik Global
Perang, konflik internasional, krisis keuangan, hingga kebijakan bank sentral negara besar seperti Federal Reserve AS dapat memengaruhi pergerakan rupiah melalui sentimen pasar global.
(Tribunnews.com/Oktavia WW)