Keinginan menurunkan berat badan secara cepat membuat sebagian orang menjalani pola makan ekstrem hingga berakibat fatal. Seperti yang dialami wanita asal China ini.
Aksi diet ekstrem yang menimbulkan masalah kesehatan serius, baru-baru ini dialami seorang wanita berusia 25 tahun di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China.
Wanita yang menggunakan nama samaran Qingqing itu memiliki tinggi badan 155 centimeter dan sebelumnya berbobot 55 kilogram. Beberapa bulan lalu, ia memutuskan diet ketat untuk menurunkan berat badan.
Pola yang diterapkannya adalah makan dengan porsi yang sangat sedikit selama enam hari dalam seminggu, lalu bebas menyantap apa saja pada hari ketujuh.
Menurut laporan South China Morning Post (15/06/2026), selama enam hari tersebut Qingqing hanya mengonsumsi sayuran rebus, dada ayam, dan buah rendah gula. Ia juga membatasi asupan energinya hingga tidak lebih dari 800 kalori per hari.
diet ekstrem Foto: iStock
|
Sebaliknya, pada hari ketujuh, ia mengonsumsi berbagai makanan tinggi lemak dan kalori. Menu yang disantapnya meliputi hot pot, ayam goreng, mie instan pedas rasa ayam, teh susu, hingga kacang-kacangan.
Pola makan tersebut membuat berat badannya turun 7,5 kilogram dalam waktu satu bulan. Namun, kondisi kesehatannya justru memburuk.
Pada 14 Mei 2026, setelah enam hari menjalani diet ketat, Qingqing kembali menikmati 'cheating day'. Saat siang hari ia menghabiskan satu ember besar ayam goreng, lalu pada malam hari menyantap dua bungkus mie instan pedas.
Beberapa jam kemudian, ia merasakan nyeri hebat pada area perut, pinggang, dan punggung. Kondisinya juga disertai muntah berulang kali. Karena rasa sakit yang tidak kunjung mereda, Qingqing dilarikan ke Rumah Sakit Afiliasi Pertama Fakultas Kedokteran Universitas Zhejiang.
Dokter mendiagnosis Qingqing mengalami pankreatitis akut atau peradangan pankreas akut. Pihak rumah sakit menyebut kasus serupa semakin sering ditemukan pada pasien muda yang menjalani diet ekstrem lalu mengimbanginya dengan makan berlebihan.
Makan Berlebihan. Foto: Getty Images/iStockphoto/Vadym Petrochenko
|
"Demi menurunkan berat badan, banyak orang hanya makan sekali sehari karena mengira cara itu bisa membuat tubuh lebih kurus. Padahal metode ini dapat mendorong pankreas hingga berada di ambang kerusakan," ujar seorang dokter dari rumah sakit tersebut.
Dokter menjelaskan bahwa puasa atau pembatasan makan dalam jangka panjang membuat pankreas berada dalam kondisi kerja minimal.
Ketika seseorang tiba-tiba mengonsumsi makanan tinggi lemak dan minyak dalam jumlah besar, pankreas dipaksa menghasilkan enzim pencernaan dalam waktu singkat. Kondisi itu dapat memicu kerusakan pada organ tersebut.
Selain pankreatitis, dokter juga mengingatkan bahwa metode diet ekstrem berisiko menimbulkan berbagai gangguan kesehatan lain. Karena itu, penurunan berat badan sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan pola makan seimbang dan tetap memenuhi kebutuhan gizi harian.







