Update ULN Indonesia April 2026 Naik Rp 1,9 Persen, Utang Pemerintah Tumbuh, Swasta Menurun
Nurhadi Hasbi June 15, 2026 03:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM - Utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali bertambah.

Per April 2026, utang luar negeri Indonesia naik menjadi 439,8 miliar dollar AS atau bertambah 1,9 persen jika dibandingkan periode sama tahun 2025 (Yoy).

Pada Maret lalu, pertumbuhan ULN Indonesia hanya 1,0 persen.

Data tersebut berdasarkan rilis resmi Bank Indonesia (BI) yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi, Ramdan Denny Prakoso, Senin (15/6/2026).

Baca juga: Rincian Utang Luar Negeri Indonesia, Triwulan IV 2025 Melonjak

Denny Prakoso mengatakan, peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan utang luar negeri sektor publik.

Sementara utang luar negeri sektor swasta masih mengalami penurunan.

"Posisi ULN Indonesia pada April 2026 tetap terjaga," katanya.

Utang Pemerintah Tumbuh, Swasta Masih Menurun

BI mencatat posisi utang luar negeri pemerintah pada April 2026 mencapai 216,4 miliar dolar AS atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan. 

Meski terjadi kenaikan, laju pertumbuhannya sedikit lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang tercatat 3,8 persen.

Menurut BI, perlambatan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan pinjaman luar negeri pemerintah yang tidak secepat sebelumnya.

Di sisi lain, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih (net inflow) Surat Berharga Negara (SBN).

Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0 persen dari total ULN pemerintah), Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,5 persen), Jasa Pendidikan (16,2 persen), Konstruksi (11,5 persen) serta Transportasi dan Pergudangan (8,5 persen). 

"Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah," tegas Ramdan.

Sementara itu, posisi utang luar negeri swasta pada April 2026 tercatat sebesar 193,2 miliar dolar AS.

Secara tahunan, angka tersebut masih mengalami kontraksi atau penurunan sebesar 0,7 persen.

Namun, penurunan ini lebih kecil dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 1,4 persen.

Menurut BI, kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan utang luar negeri lembaga keuangan yang masih berlanjut.
Adapun sektor swasta dengan utang luar negeri terbesar berasal dari industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta sektor pertambangan dan penggalian.

Keempat sektor tersebut menyumbang sekitar 79,6 persen dari total utang luar negeri swasta.

Sebagian besar utang luar negeri swasta juga merupakan utang jangka panjang dengan porsi mencapai 75,8 persen.

Bank Indonesia menegaskan struktur utang luar negeri Indonesia masih berada pada level yang sehat dan terkendali.

Hal itu terlihat dari rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tetap stabil di level 29,6 persen pada April 2026.

Selain itu, sekitar 84,5 persen dari total utang luar negeri Indonesia merupakan utang jangka panjang yang dinilai lebih aman dibandingkan utang jangka pendek.

 "Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN," tutur Ramdan.

"Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," sambungnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.