- Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto menyoroti terkait kaburnya orientasi national interest (kepentingan nasional) dalam kebijakan anggaran di sektor publik saat ini.
Hasto pun menyebut adanya benturan kepentingan yang tecermin dalam keputusan pemerintah mengalihkan dana pendidikan demi menyokong program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menilai, langkah pemotongan dan pengalihan anggaran tersebut telah menggeser esensi amanat konstitusi yang mewajibkan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Hasto menegaskan, pemenuhan hak pendidikan bagi anak-anak Indonesia seharusnya ditempatkan pada posisi yang paling utama dan tidak boleh dikorbankan demi program sektoral lainnya.
Hal ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional peringatan Bulan Bung Karno di Istana Gebang, Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, Minggu (14/6/2026) malam.
"Program MBG memiliki tujuan mulia dan bagus, namun menimbulkan persoalan di implementasinya. Seharusnya kita lebih mementingkan menjaga dana pendidikan untuk anak-anak Indonesia daripada dipotong demi program lain," tegas Hasto.
Seminar nasional yang dihadiri oleh lebih dari seribu warga, mahasiswa, aktivis, serta jajaran fungsionaris partai ini juga menghadirkan akademisi Universitas Airlangga Surabaya, Airlangga Pribadi Kusman.
Dalam forum tersebut, Hasto juga membedah bagaimana nafsu kapitalisme mulai merasuk dan mengaburkan arah prioritas kebijakan publik di tingkat nasional.
Ia membandingkan realitas kepemimpinan masa kini dengan masa muda Bung Karno yang tumbuh dari kesadaran akan ketidakadilan struktural, bukan dari fasilitas kekuasaan yang instan.
"Bung Karno menjadi pemimpin bukan karena bapaknya presiden. Beliau menjadi pemimpin karena memahami jati dirinya sebagai bagian dari rakyat yang merasakan ketidakadilan dalam penjajahan," sentil Hasto, yang langsung disambut riuh tepuk tangan peserta.
Selain persoalan anggaran pendidikan, Hasto juga menyoroti tingginya ketergantungan impor pangan Indonesia yang mencapai Rp300 triliun per tahun.
Menurutnya, ketergantungan ini menjauhkan rakyat dari kemandirian pangan lokal Nusantara yang kaya nutrisi, sebagaimana pernah dirangkum Bung Karno dalam buku kuliner legendaris, Mustika Rasa.
Dominasi industri pangan modern inilah yang dinilainya ikut memicu maraknya kasus tengkes (stunting).
(*)
Editor Video:Magang/Chrysilla Cindy Aurellia
# pdip # mbg # Hasto Kristiyanto