Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Gelombang tinggi yang terus menerjang wilayah pesisir Desa Aruan Gaur, Kecamatan Siritaun Wida Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, menyebabkan tiga unit rumah warga mengalami kerusakan parah, Senin (15/6/2026).
Peristiwa yang memuncak pada Sabtu (13/6/2026) itu menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat yang bermukim di sepanjang garis pantai.
Ombak besar yang datang silih berganti menghantam bibir pantai hingga mencapai permukiman warga yang berada sangat dekat dengan laut.
Akibatnya, sejumlah bagian rumah mengalami kerusakan, terutama pada bagian belakang bangunan yang langsung menghadap ke arah laut.
Salah seorang warga terdampak, Ahmad Safua, mengatakan fenomena gelombang tinggi sebenarnya hampir terjadi setiap tahun.
Namun, menurutnya, kondisi kali ini jauh lebih ekstrem dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Ombak seperti ini memang sering terjadi setiap tahun, tetapi kali ini gelombangnya jauh lebih besar. Bagian belakang rumah kami rusak parah karena terus dihantam ombak. Kami sangat khawatir jika kondisi ini terus berlanjut," ujarnya.
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Perkuat Pengawasan BBM Subsidi Bersama Satgas Lintas Sektoral
Baca juga: PENGUMUMAN LELANG: PT. PLN UIW MMU dengan Perantaraan KPKNL Ambon
Ia menjelaskan, gelombang tinggi mulai dirasakan warga sejak Mei 2026.
Namun memasuki Juni, intensitas dan kekuatan ombak meningkat drastis hingga menyebabkan kerusakan yang lebih serius.
Kondisi tersebut membuat masyarakat pesisir terus diliputi rasa cemas, terutama saat gelombang besar terjadi pada malam hari.
Ahmad mengungkapkan, sebelumnya pemerintah pernah membangun tanggul penahan ombak untuk melindungi permukiman warga dari abrasi.
Namun, seiring berjalannya waktu, tanggul tersebut mengalami kerusakan hingga akhirnya roboh akibat kuatnya arus dan hantaman ombak yang terjadi secara terus-menerus.
Runtuhnya tanggul itu membuat rumah-rumah warga di sepanjang pesisir semakin rentan diterjang gelombang laut.
"Sekarang kami hanya menggunakan batang pohon kelapa sebagai penahan ombak darurat. Tetapi cara ini tentu tidak cukup kuat untuk menghadapi gelombang yang terus datang setiap hari. Kami berharap pemerintah daerah dapat segera membantu membangun kembali tanggul penahan ombak agar kerusakan tidak semakin meluas," jelasnya.
Berdasarkan pendataan sementara warga, sedikitnya tiga rumah mengalami kerusakan cukup serius.
Sementara sejumlah rumah lainnya berada dalam kondisi terancam apabila gelombang tinggi terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Ahmad menambahkan, berdasarkan kondisi yang terjadi setiap tahun, gelombang tinggi diperkirakan masih akan berlangsung selama lima hingga enam bulan ke depan.
"Kalau tidak ada tanggul penahan ombak, kami khawatir rumah-rumah di sepanjang pantai bisa rusak total. Ombak diperkirakan masih akan berlangsung sekitar lima sampai enam bulan ke depan. Kondisi ini sangat memengaruhi kehidupan masyarakat, baik dari segi keamanan tempat tinggal maupun kenyamanan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari," bebernya.
Hingga kini, warga masih terus berjaga dan memantau perkembangan kondisi gelombang di sepanjang pesisir Dusun Aruan.(*)