BPOM dan Ubaya Perkuat Hilirisasi Riset: Jawa Timur Butuh Fasilitas Uji Klinis Obat
Cak Sur June 15, 2026 05:05 PM

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kepala BPOM RI Prof dr Taruna Ikrar M.Biomed Ph.D mendorong kolaborasi riset Academic, Business, and Government (ABG) di Universitas Surabaya (Ubaya), Jawa Timur (Jatim), Senin (15/6/2026), guna mempercepat hilirisasi obat inovatif melalui terobosan regulasi baru.

Taruna menyampaikan hal ini dalam kuliah umum dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Ubaya.

Menurutnya, sinergi tiga sektor tersebut merupakan kunci utama mempercepat transfer teknologi obat demi kemaslahatan masyarakat luas.

"Melalui konsep ABG, kami yakin transfer teknologi dan pengembangan produk-produk inovatif bisa dipercepat, sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat," kata Taruna.

Ia menambahkan, bahwa biodiversitas Indonesia menyimpan sekitar 31 ribu jenis tanaman berpotensi obat.

Kampus diharapkan aktif meneliti potensi alam ini agar menghasilkan produk kefarmasian berbasis riset yang aman, berkhasiat dan bermutu tinggi.

Terobosan Regulasi BPOM: Skema Conditional Approval

Untuk mendukung hilirisasi hasil riset, BPOM kini menyiapkan skema conditional approval atau persetujuan bersyarat. Kebijakan ini ditujukan bagi produk inovatif yang sangat dibutuhkan pasien penyakit kritis.

Melalui skema ini, obat yang telah memenuhi aspek keamanan pada tahap uji tertentu dapat diakses masyarakat lebih cepat sambil melengkapi data klinis lanjutan.

"Beberapa produk inovatif sangat dibutuhkan pasien. Dengan skema conditional approval, produk bisa lebih cepat dimanfaatkan masyarakat tanpa mengabaikan aspek keamanan dan efektivitas," jelas Taruna.

Selain itu, BPOM berhasil memangkas waktu evaluasi perizinan produk dari 300 hari kerja menjadi 210 hari kerja.

Saat ini, terdapat 1.700 produk hasil riset dalam pengembangan, dengan 134 di antaranya menunjukkan kemajuan signifikan untuk terapi kanker dan penyakit langka.

Ubaya Inisiasi Unit Uji Klinis Pertama di Jawa Timur

Pada kesempatan yang sama, Rektor Ubaya Dr Benny Lianto menyoroti ketiadaan fasilitas uji klinis obat baru di Jawa Timur. Hal ini memaksa industri farmasi lokal melakukan pengujian di Jakarta atau Jawa Barat.

"Yang kurang itu adalah sebuah unit yang bisa melakukan uji klinis terhadap pembuatan obat baru. Selama ini industri farmasi di Jawa Timur ngujinya ke Jawa Barat atau ke DKI Jakarta," kata Benny.

Merespons kebutuhan tersebut, Ubaya menginisiasi pembangunan unit uji klinis mandiri untuk melengkapi ekosistem industri farmasi regional.

Taruna Ikrar juga dijadwalkan mengunjungi Benova, mitra industri farmasi Ubaya, guna mematangkan rencana tersebut.

Kerja sama ini diharapkan mendapat dukungan pendanaan riset dari BPOM sejak tahap awal. Langkah taktis ini diyakini mampu mengakselerasi kemandirian sektor kesehatan dan farmasi nasional.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.