TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Simak nih, berikut ini jadwal Pesta Kesenian Bali (PKB) pada hari Selasa 16 Juni 2026 yang akan dimulai dengan Parade Nglawang.
Hari kedua ini akan dimulai dengan pergelaran parade Nglawang, Komunitas Barong Rengas, Br. Bongan Pala dan diakhiri dengan Pergelaran Calonarang.
Berikut jadwal resmi Pesta Kesenian Bali ke 48 tahun 2026 yang dilansir dari laman resmi PKB Bali.
Pergelaran:
Utsawa (Parade) Nglawang, Komunitas Barong Rengas, Br. Bongan Pala, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan, Duta Kabupaten Tabanan
Baca juga: Arti Mimpi Kupu-Kupu Hitam, Perubahan Besar Datang Mendekat
Lokasi:
Seputaran Area Taman Budaya
Jadwal:
Selasa, 16 Jun 2026, 17:00 - Selesai
Pergelaran:
Utsawa (Parade) Joged Bumbung Tradisi: Sekaa Joged Kumbang Dedari, Desa Tegaltamu, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Duta Kabupaten Gianyar - Sekaa Joged Madu Bratha Kusuma, Br. Umadui, Desa Padangsambian Kelod, Kecamatan Denpasar Barat, Duta Kota Denpasar
Lokasi:
Kalangan Madya Mandala
Jadwal:
Selasa, 16 Jun 2026, 17:00 - Selesai
Baca juga: Penyu Langka Terdampar di Irigasi di Blahbatuh Gianyar Bali
Pergelaran:
Rekasadana (Pergelaran) Calonarang, Sanggar Seni Majalangu, Br. Padang Desa Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Duta Kabupaten Badung
Lokasi:
Kalangan Ayodya
Jadwal:
Selasa, 16 Jun 2026, 19:30 – Selesai
MAKNA TEMA PKB 2026
Hal ini diharapkan mampu merefleksikan upaya pemuliaan jiwa manusia menuju keadaan yang paripurna, jernih, dan suci.
Dalam perspektif kosmologi Bali, Atma Kertih dimaknai sebagai proses penyucian dan peneguhan kualitas batin manusia agar selaras dengan nilai-nilai kebenaran, kebijaksanaan, dan harmoni semesta.
Baca juga: Pencuri Ketu di Gria Budakeling Karangasem Pernah Disanksi Adat, IMW Gunakan Hasil Curian untuk Judi
Melalui tema ini, Pesta Kesenian Bali menegaskan peran seni dan budaya sebagai medium spiritual sekaligus ekspresi estetika yang menuntun manusia pada kesadaran diri yang luhur (sidha parisudha), yakni jiwa yang telah mencapai kemurnian melalui olah rasa, cipta, dan karsa.
Dengan demikian, karya-karya seni yang dihadirkan tidak hanya menjadi perayaan kreativitas, tetapi juga menjadi ruang refleksi kultural yang meneguhkan martabat manusia Bali dalam menjaga keseimbangan antara dimensi sakral, sosial, dan ekologis kehidupan. (*)