Pedagang Buah di Pasar Induk Kramat Jati Kurangi Stok, Penjualan Turun hingga 40 Persen
Wahyu Septiana June 15, 2026 08:08 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, KRAMAT JATI - Pedagang buah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur mengurangi jumlah belanja imbas melemahnya daya beli masyarakat dalam satu bulan terakhir.

Pedagang jeruk di Pasar Induk Kramat Jati, Margono mengatakan akibat merosotnya daya beli warga dalam kurun waktu satu pekan terakhir dia terpaksa menghentikan sementara pasokan buah.

Tujuannya untuk menghindari kerugian akibat banyaknya buah yang busuk karena tidak terjual, mengingat dalam satu bulan terakhir banyak warga mengurangi jumlah belanja mereka.

"Saya sudah lima hari sampai seminggu supplier saya stop. Apapun alasannya saya tidak menerima lagi, karena biar barang yang ada dihabisin dulu baru kita ganti," kata Margono, Senin (15/6/2026).

Menurutnya meski harga buah di pasaran stabil dan suplai tidak mengalami kendala, tapi akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS daya beli masyarakat terpuruk.

Banyak pembeli mengurangi jumlah belanja, bahkan restoran hingga retail yang biasa membeli dalam jumlah banyak untuk kebutuhan usaha mereka kini terpaksa mengurangi belanja.

Imbasnya omzet pedagang buah di Pasar Induk Kramat Jati anjlok berkisar 30-40 persen, kondisi ini memberatkan para pedagang untuk mempertahankan usahanya.

"Dalam keadaan normal, stok itu mengalir; barang datang langsung laku. Tapi sekarang stagnan, baik buah maupun sayur hampir sama. Kalau restoran sepi, imbasnya terakhirnya ke kita," ujarnya.

PEDAGANG BUAH - Lapak pedagang buah Pasar Induk Kramat Jati yang omzet penjualannya menurun akibat penurunan daya beli masyarakat, Jakarta Timur, Senin (15/6/2026).
PEDAGANG BUAH - Lapak pedagang buah Pasar Induk Kramat Jati yang omzet penjualannya menurun akibat penurunan daya beli masyarakat, Jakarta Timur, Senin (15/6/2026). (TribunJakarta.com/Bima Putra/Bima Putra)

Atas hal tersebut, Margono berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk mengembalikan nilai tukar masyarakat agar ekonomi masyarakat di pasar tradisional bergairah.

Terkait klaim pemerintah bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menyerap ketersediaan buah di pasaran, Margono menuturkan hal tersebut tidak sepenuhnya efektif.

Pasalnya tidak semua pedagang buah di Pasar Induk Kramat Jati yang menjadi mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sehingga para pedagang kesulitan mempertahankan usahanya.

"Yang dapat proyek MBG ini otomatis mereka yang punya 'link' (jaringan). Kalau orang yang tidak punya link kan tidak mungkin dapat proyek. Jadi ada manfaatnya, tapi ada negatifnya," tuturnya.

Berita Lainnya

Baca juga: BURSA Transfer Memanas: Sang Legenda Makin Dekat ke Persib, Persija Minta STY Beli Gattuso Baru

Baca juga: Ojol Dukung Aksi Demo Protes Pemerintah, Curhat Harga BBM hingga Sembako yang Kian Meroket

Baca juga: FOTO Demo di Jakarta: Topeng Bahlil Muncul di Tengah Aksi Mahasiswa, Massa Diadang Polisi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.