SMPN 8 Pontianak Jadi Pelopor Sekolah Hijau Digital, Tanam Pohon Endemik dengan QR Code
Maudy Asri Gita Utami June 15, 2026 08:42 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- SMP Negeri 8 Kota Pontianak terus menghadirkan inovasi dalam dunia pendidikan dengan menggabungkan teknologi digital dan pelestarian lingkungan melalui peluncuran Program Digulis Ceria. 

Program yang merupakan singkatan dari Digital Innovation for Green Learning and Sustainable School Ceria, Empati, Religius, Integritas, dan Apresiatif ini resmi diperkenalkan pada Senin 15 Juni 2026 sebagai bagian dari upaya mewujudkan sekolah hijau berbasis digital yang berkelanjutan.

Program tersebut dirancang untuk membangun budaya peduli lingkungan di kalangan peserta didik sekaligus memperkuat pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran. 

Melalui Digulis Ceria, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang lingkungan hidup di dalam kelas, tetapi juga terlibat secara langsung dalam berbagai aktivitas penghijauan yang dilakukan di lingkungan sekolah.

Pelaksana Harian Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Muchammad Yamin, menyampaikan apresiasi terhadap langkah SMP Negeri 8 yang dinilai berhasil menghadirkan inovasi pendidikan lingkungan yang kreatif dan relevan dengan kebutuhan masa kini.

Menurutnya, sekolah tersebut telah menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung upaya penghijauan Kota Pontianak melalui penanaman berbagai jenis pohon endemik yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

• Usai Kasus Keracunan Massal, RSUD Pontianak Utara Edukasi Masyarakat Soal Keamanan Pangan

Ia menilai program tersebut memiliki nilai strategis karena tidak hanya memperkenalkan keberagaman hayati Nusantara kepada siswa, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan bersama untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih hijau dan sehat.

"Pemerintah Kota Pontianak merasa bangga karena SMP Negeri 8 mampu menjadi pelopor dalam penanaman pohon-pohon endemik dari berbagai daerah di Indonesia. Semoga langkah ini dapat menjadi inspirasi bersama dalam mewujudkan Kota Pontianak yang hijau, bersih, dan nyaman untuk generasi mendatang," ujarnya.

Yamin menjelaskan bahwa upaya menciptakan kota yang ramah lingkungan harus dimulai dari lingkup terkecil, termasuk sekolah dan rumah tangga. 

Ia menegaskan bahwa keterbatasan lahan yang dimiliki Kota Pontianak tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pentingnya penghijauan.

Menurutnya, banyak kota besar di dunia yang memiliki luas wilayah terbatas namun tetap mampu menghadirkan ruang terbuka hijau yang memadai melalui perencanaan dan komitmen yang berkelanjutan.

Selain itu, ia juga mengapresiasi tingginya antusiasme para siswa dalam mengenal berbagai jenis tanaman dari beragam daerah di Indonesia. 

Sarana Edukasi 

Kehadiran pohon-pohon endemik dari Papua, Maluku, Kalimantan, Sumatera, hingga daerah lainnya dinilai menjadi sarana edukasi yang efektif bagi peserta didik untuk memahami kekayaan biodiversitas Indonesia.

Pemerintah Kota Pontianak, lanjut Yamin, siap memberikan dukungan terhadap berbagai program penghijauan yang dijalankan sekolah, termasuk melalui koordinasi dengan perangkat daerah terkait apabila diperlukan bantuan dalam pengembangan kawasan hijau sekolah.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 8 Kota Pontianak, Suparji, menjelaskan bahwa Digulis Ceria merupakan program yang mengintegrasikan digitalisasi pendidikan dengan penguatan karakter peduli lingkungan. 

Program ini juga menjadi bagian dari visi sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan.

Menurutnya, pembelajaran lingkungan tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas. 

Oleh karena itu, siswa diajak untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan seperti penanaman pohon, perawatan tanaman, pengelolaan lingkungan sekolah, hingga pengembangan tanaman produktif yang mendukung ketahanan pangan sekolah.

"Melalui program ini kami ingin membentuk karakter siswa yang peduli terhadap lingkungan serta memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam sejak usia dini," jelasnya.

Salah satu inovasi yang menjadi daya tarik utama Program Digulis Ceria adalah penerapan teknologi QR Code pada setiap pohon yang ditanam di lingkungan sekolah. 

• Tradisi Adat Baroah Pakumbang Landak Sedot Ribuan Pengunjung, Masuk Nominasi API Awards 2026

Melalui sistem tersebut, siswa maupun pengunjung dapat memperoleh berbagai informasi terkait pohon hanya dengan melakukan pemindaian menggunakan telepon pintar atau perangkat digital lainnya.

Informasi yang tersedia mencakup nama pohon, klasifikasi tanaman, daerah asal, manfaat, hingga karakteristik khusus yang dimiliki masing-masing spesies. 

Dengan cara ini, proses belajar tidak lagi terbatas pada buku pelajaran, tetapi juga berlangsung secara interaktif di lingkungan sekolah.

Suparji menuturkan bahwa penerapan teknologi tersebut menjadi bentuk nyata integrasi antara pendidikan lingkungan dan transformasi digital yang saat ini terus didorong dalam dunia pendidikan.

"Jadi siswa tidak hanya diajak menanam pohon, tetapi juga belajar mengenali dan memahami tanaman melalui pemanfaatan teknologi digital yang mudah diakses," katanya.

Melalui Program Digulis Ceria, SMP Negeri 8 Kota Pontianak berharap dapat menjadi contoh sekolah berkelanjutan yang mampu menggabungkan pendidikan lingkungan, inovasi teknologi, dan pembentukan karakter peserta didik dalam satu gerakan yang terintegrasi. 

Program ini juga diharapkan dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain untuk menghadirkan inovasi serupa demi mendukung terciptanya generasi yang cerdas, peduli lingkungan, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.