TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Dua belas tahun lalu, tiga mesin jahit memenuhi sebagian besar ruang berukuran 3x3 meter di Kauman, Mangkang Wetan, Kota Semarang.
Budi Turmoko dan Muhammad Rian masih mengingat betul suasana tempat itu. Suara mesin sesekali terdengar memecah keheningan, dijalankan oleh dua pekerja yang menjadi bagian awal perjalanan usaha mereka.
Di ruang yang sederhana, kakak beradik itu menanam mimpi yang kelak tumbuh menjadi PT Moko Garment Indonesia.
Melalui brand Moko workwear, usaha yang mereka rintis dari ruang sempit tersebut kini mampu memproduksi sekitar 10.000 potong seragam kerja setiap bulan dan mengirimkan produknya hingga ke berbagai negara dan pelosok nusantara.
Baca juga: JNE Distribusikan Lebih Dari 500 Ton Bantuan dari TemanJNE Untuk Korban Bencana Sumatera
Baca juga: JNE Kembali Raih Penghargaan Courier of The Year di Indonesia Logistics Awards 2025
Kala itu, modal yang mereka miliki hanya Rp5 juta, hasil penjualan Vespa kesayangan Budi. Sebagian digunakan untuk membeli dua mesin jahit, sementara satu mesin lainnya dibeli secara mencicil.
Dengan modal terbatas itu, keduanya memberanikan diri memasuki dunia yang sama sekali belum mereka kuasai.
"Kami sama sekali tidak punya latar belakang konveksi. Bahkan menjahit pun tidak bisa," kenang Muhammad Rian menghela nafas lega sembari melihat pegawainya yang merapihkan stok, di rumah produksi Jalan Mangkang Wetan-Mangunharjo No.158, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Jawa Tengah, Minggu (14/6/2026).
Sebelum terjun ke industri pakaian, keduanya menjalankan bisnis di bidang periklanan saat mereka masih mahasiswa.
Dengan modal seadanya, mereka mencoba melakukan beragam kegiatan untuk memproduksi kartu nama, undangan, bahkan menyablon kaos.
Namun seiring waktu, banyak pekerjaan yang harus disubkontrakkan sehingga kualitas dan ketepatan waktu sulit dikontrol.
“Saat itu banyak pekerjaan yang diberikan ke orang lain dan kualitasnya kurang. Saat itulah memutuskan bahwa perlu produksi sendiri, dan fokus pada produksi pakaian saja," kata Budi.
Tentu saja Budi dan Rian sudah memahami resikonya, mereka harus memulai kembali membangun sistem produksi dari nol, merekrut tenaga kerja yang andal, membangun pasarnya sendiri, sekaligus memahami pola industri garment.
Sejak awal, Moko workwear menyasar segmen menengah ke atas dengan mengutamakan kualitas bahan, kenyamanan, serta detail pengerjaan.
Perjalanan membangun usaha juga tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal merintis, Rian dan Budi harus menawarkan jasa secara door to door ke berbagai perusahaan.
"Dulu belum sempat pegang pintu saja sudah ditolak," kelakar Budi saat mengingat masa proses merintis.
Penolakan demi penolakan justru menjadi bahan bakar untuk terus berkembang. Mereka memperbaiki kualitas produk, memperluas jaringan, dan mulai memanfaatkan internet sebagai sarana pemasaran.
Perlahan hasilnya terlihat. Kepercayaan pelanggan tumbuh, pesanan meningkat, dan jumlah pekerja bertambah.
Pada 2021, rumah produksi pindah dari lokasi awal di Mangkang ke fasilitas produksi yang lebih besar di Karanggayam, Mangunharjo.
Kini perusahaan tersebut mempekerjakan hampir 100 orang dan memproduksi berbagai perlengkapan kerja, mulai dari wearpack, overall, polo shirt, kaus, tas hingga jas hujan. Sekitar 60 persen pekerjanya berasal dari lingkungan sekitar pabrik.
Bagi Rian dan Budi, pertumbuhan perusahaan tidak hanya diukur dari jumlah produksi atau omzet. Mereka juga ingin usaha yang dibangun mampu memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Perusahaan rutin menggelar pelatihan menjahit gratis bagi warga.
Peserta yang memenuhi standar perusahaan berkesempatan direkrut menjadi karyawan.
Selain itu, Mokoworkwear bekerja sama dengan sejumlah SMK di Jawa Tengah melalui program praktik kerja lapangan.
"Kami ingin mereka punya bekal yang lebih lengkap. Jadi setelah lulus bisa punya banyak pilihan karier," ujar Rian.
Mengantar Produk Lokal ke Pelosok Nusantara
Perkembangan teknologi digital turut menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan usaha tersebut. Saat ini sekitar 90 persen penjualan Moko workwear berasal dari kanal online.
Kehadiran website dan media sosial membuat produk mereka lebih mudah ditemukan pelanggan dari berbagai daerah.
Dari Semarang, pesanan mulai berdatangan dari berbagai kota di Indonesia.
Bagi kakak beradik itu, perjalanan membangun Moko Garment juga berjalan beriringan dengan hubungan mereka bersama JNE.
Rian masih mengingat masa-masa awal ketika jumlah pesanan belum sebanyak sekarang, disaat ada paket yang harus dikirim, ia dan tim harus meluangkan waktu untuk mengantarkannya sendiri ke kantor cabang JNE terdekat.
Saat itu, mereka belum membayangkan usaha yang dirintis dari ruangan 3x3 meter di Mangkang akan tumbuh sebesar sekarang, kini pemandangannya berbeda.
Saat ini hampir setiap hari petugas JNE datang langsung ke kantor Moko Garment untuk menjemput kiriman yang akan dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.
"Dari awal kami sudah menggunakan JNE. Dulu kami yang mengantar paket ke kantor cabang, sekarang justru dijemput. Itu salah satu layanan yang sangat membantu kami," ujar Rian.
Perubahan itu seolah menjadi penanda bagaimana usaha mereka ikut berkembang dari waktu ke waktu.
Apalagi saat ini sekitar 90 persen penjualan Moko Workwear berasal dari kanal digital. Kecepatan dan kepastian pengiriman menjadi faktor penting agar kepercayaan pelanggan tetap terjaga.
Setiap hari, puluhan hingga ratusan paket berisi seragam kerja berangkat dari Semarang menuju berbagai daerah.
Sebagian dikirim ke kota-kota besar, sebagian lainnya menuju wilayah yang jauh dari pusat keramaian.
"Customer kami banyak yang berada di daerah yang tidak mudah dijangkau. Karena itu kami memilih JNE karena jaringannya luas dan bisa menjangkau sampai pelosok," kata Rian.
Dari Aceh hingga Merauke, produk Moko Workwear rutin menemukan jalannya menuju pelanggan.
Sebagian bahkan melanjutkan perjalanan ke berbagai negara tujuan ekspor yang kini menjadi pasar baru perusahaan tersebut.
Bagi Rian, kepercayaan kepada JNE tidak dibangun dalam semalam.
Hubungan itu tumbuh dari pengalaman bertahun-tahun mengirimkan produk kepada pelanggan.
"Selama ini barang aman, tidak pernah hilang, tidak tertukar, dan sampai sesuai waktu yang dijanjikan. Itu yang membuat kami tetap percaya menggunakan JNE," tutur Rian.
Branch Manager JNE Semarang, Wahyu Sangerti Alam, mengatakan pertumbuhan pelaku usaha digital dan UMKM menjadi salah satu penggerak utama aktivitas pengiriman di wilayah Semarang.
"Pelaku UMKM memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap aktivitas pengiriman. Selain pelanggan korporasi, pelaku usaha lokal yang berkembang melalui platform digital juga menjadi bagian penting dalam ekosistem logistik," ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, JNE saat ini didukung jaringan yang menjangkau seluruh Indonesia.
Di wilayah Semarang, operasional perusahaan ditopang sekitar 600 sumber daya manusia dan lebih dari 100 armada distribusi.
"Secara nasional, volume pengiriman mencapai sekitar satu juta kiriman setiap hari, dengan layanan regular sebagai layanan yang paling banyak digunakan pelanggan," kata Wahyu.
Untuk mendukung pertumbuhan UMKM, JNE juga menghadirkan layanan fulfillment service yang mencakup penyimpanan stok barang, pengelolaan inventori, pengemasan hingga pengiriman kepada pelanggan.
Bagi Moko workwear, keberadaan jaringan logistik menjadi salah satu faktor yang memungkinkan produk buatan Semarang menjangkau pelanggan di berbagai penjuru Indonesia hingga mancanegara.
Dari sebuah ruangan berukuran 3x3 meter di Mangkang, ribuan seragam kini berangkat setiap bulan menuju berbagai tujuan. Sebagian menyeberangi pulau, sebagian lainnya melintasi batas negara.
Di setiap kiriman itu tersimpan jejak perjalanan dua bersaudara yang pernah memulai segalanya hanya dengan tiga mesin jahit, modal Rp5 juta, dan keyakinan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari ruang yang sangat sederhana. (Rad)