TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tubuh Steven Viore dipenuhi dengan baluran tanah.
Aksi tersebut dilakukan spontan saat demonstran di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat yang terletak di Jl. Diponegoro No.27, Citarum, Kec. Bandung Wetan, Kota Bandung pada Senin (15/6/2026).
Almamater hingga baju dilucutinya yang menyisakan celana hitam pendek.
Dia bersiap untuk peragaan teaterikal.
Salah seorang teman membantu membaluri tanah di tubuhnya. Air minum yang dibekalnya untuk aksi ditumpahkan ke tanaman yang telah diinjak oleh para demonstran.
Setelah tanah tersebut basah, pria dari Universitas Langlabuana itu membaluri tangannya.
Meski telah siap teaterikal, dia merasa kurang totalitas untuk unjuk gigi. Keresek berwarna putih digunakan untuk menutup kepalanya.
Mahasiswa asal Bandung tersebut turut membungkam mulutnya dengan lakban putih. Aksi tersebut diikuti lima kawannya yang membawa tulisan isi pancasila.
Begitu orasi bergema di gendang telinga, langkah Steven turut mencuri perhatian. Dia terlentang dan berjalan terseok-seok menggambarkan lara para petani.
Salah seorang mahasiswa turut memecutnya. Dia meringis kesakitan.
Pria berusia 22 tahun ini ingin menunjukkan nestapanya para petani yang dianggap tidak berdikari di atas lahannya sendiri.
"Teaterikal hari ini menggambarkan suasana banyak petani yang mempunyai sawah, lahan-lahan tapi tidak pernah mendapat keuntungan," ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Senin (15/6/2026).
Tindakan reaksional itu sebenarnya lahir dari rasa frustrasi yang menumpuk melihat nasib para petani saat ini. Mereka merasa hak-hak mereka sebagai pahlawan pangan telah dikapitalisasi secara rakus oleh sistem.
Sebuah kenyataan pahit yang harus mereka telan sehari-hari adalah fakta bahwa merekalah pemilik sah dari tanah dan sawah yang digarap, namun keuntungan ekonomi yang mereka dapatkan justru sangat kecil dan tidak sebanding dengan cucuran keringat yang keluar.
“Hak kami sebagai petani dikapitalis padahal petani yang punya tanah, sawah tapi keuntungannya kecil makadari itu pemerintah hari ini tidak mendengar, melihat, acuh dan tidak peduli,” katanya.
Steven mengaku tindakan tersebut sama sekali tidak direncanakan sebelumnya.
“Sebenernya tidak sengaja, reaksional 'kayaknya seru nih'karena banyak lahan petani yang hari ini diambil oleh pemerintahan,” ucapnya.
Salah satu contoh nyata yang disorot adalah kejadian di kawasan Tegallega, di mana persediaan lahan pertanian kini lenyap tidak tersedia.
“Kemarin di Tegallega, persediaan lahan habis oleh pemerintahan. Tadi saya juga reaksional seperti inu. Alhamdulillah kawan-kawan terhibur,” katanya. (*)
Baca juga: Polisi Bubarkan Demonstrasi di DPRD Jabar, Suara Ledakan Petasan Beberapa Kali Terdengar