Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yuan Lulan
POS-KUPANG.COM, KUPANG – PT Pertamina (Persero) terus memperkuat pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan avtur guna mendukung aktivitas pariwisata di kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui kunjungan Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, dalam agenda Management Walkthrough (MWT) di Aviation Fuel Terminal (AFT) Labuan Bajo dan Depot Pengisian Pesawat Udara Komodo, Kamis (11/6/2026).
Dalam rilis yang diterima oleh POS-KUPANG.COM (15/6/2026) kunjungan ini dilakukan untuk memastikan seluruh aspek operasional penyaluran BBM dan avtur berjalan optimal, aman, serta berkelanjutan di salah satu kawasan wisata premium Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Mochamad Iriawan meninjau langsung kesiapan fasilitas energi yang menjadi penopang utama mobilitas transportasi udara serta aktivitas ekonomi di Labuan Bajo.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh Perwira Pertamina dan mitra kerja yang terus menjaga stabilitas distribusi energi di lapangan.
Menurutnya, dedikasi para petugas Pertamina menjadi pilar penting dalam menjaga kelancaran pasokan energi yang menjangkau masyarakat hingga berbagai wilayah.
Dalam arahannya, Iriawan memberikan penekanan kuat pada aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) sebagai prinsip utama dalam seluruh aktivitas operasional.
“Tidak ada target produksi, tidak ada keuntungan bisnis, dan tidak ada pencapaian korporasi yang lebih penting daripada keselamatan manusia, aset, dan lingkungan kita. Bisnis bisa kita kejar, tetapi nyawa manusia tidak dapat tergantikan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kepatuhan terhadap prosedur kerja seperti Sistem Izin Kerja Aman (SIKA) dan Critical Life Saving Rules (CLSR) wajib diterapkan sebagai budaya kerja sehari-hari, bukan sekadar formalitas administratif.
Manajemen Pertamina memastikan setiap dokumen keselamatan kerja menjadi instrumen penting dalam mitigasi risiko sebelum operasi dimulai. Ketentuan ini berlaku bagi seluruh pekerja, baik pekerja organik maupun mitra kontraktor.
Iriawan menjelaskan bahwa pelaksanaan MWT yang rutin dilakukan jajaran direksi dan komisaris bukan untuk mencari kesalahan teknis di lapangan.
Menurutnya, MWT merupakan instrumen strategis untuk melihat kondisi riil operasional, menyerap aspirasi pekerja secara langsung, serta memastikan kebijakan perusahaan berjalan efektif.
Menghadapi tantangan operasional ke depan, manajemen lokal diinstruksikan untuk terus memperkuat keandalan fasilitas guna mendukung efisiensi distribusi energi.
Perhatian khusus diberikan pada sejumlah fasilitas vital, mulai dari perawatan tangki timbun, optimalisasi dermaga (jetty), keandalan sistem pemadam kebakaran, hingga infrastruktur pendukung lainnya.
Seluruh fasilitas tersebut harus selalu berada dalam kondisi siap operasi guna memenuhi kebutuhan energi di kawasan wisata.
Iriawan juga mengajak seluruh insan Pertamina memperkuat semangat One Pertamina dalam menjaga ketahanan energi nasional.
“Sinergi yang erat, kepatuhan terhadap regulasi, serta tata kelola yang berintegritas menjadi kunci utama bagi Pertamina dalam menjamin pasokan energi yang andal dan berkelanjutan di tanah air,” pungkasnya. (uan)