Temui Gibran, Mahasiswa UBK Beri Ultimatum 5x24 Jam: Evaluasi Makan Gratis hingga Lapor Prabowo!
Hironimus Rama June 15, 2026 10:15 PM

Laporan Yolanda Putri Dewanti

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Aksi unjuk rasa mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) di kawasan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat pada Senin (15/6/2026), berujung pada pemanggilan langsung ke dalam Istana Wakil Presiden.

Selama lebih dari satu jam, perwakilan mahasiswa berhadapan langsung dengan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka.

Mesti disambut hangat dan aspirasinya dicatat langsung oleh sang Wapres, mahasiswa rupanya pantang mundur.

Mereka melayangkan ultimatum tegas: 5x24 jam bagi pemerintah untuk membuktikan langkah konkret, atau aksi jalanan berskala lebih besar akan kembali meledak.

Berikut fakta-fakta menarik dari pertemuan tertutup di Istana Wapres tersebut:

1. Respons Positif Gibran dan Buku Kecil

Rombongan mahasiswa UBK masuk ke Istana Wapres pada pukul 17.15 WIB dan baru keluar pukul 18.41 WIB. Menariknya, Gibran yang tampil kasual dengan batik cokelat tak sekadar mendengarkan. Ia mencatat langsung keluhan mahasiswa.

Ketua Umum BEM Fakultas Hukum UBK sekaligus koordinator aksi, Muhammad Abdi, mengapresiasi keterbukaan Wapres.

"Tentu hasil dari pertemuan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka membuahkan hasil. Kawan-kawan mahasiswa menyampaikan aspirasi, baik keluh kesah dari daerah maupun persoalan dalam skala nasional secara langsung kepada Bapak Wapres," kata Abdi di Jakarta, Senin (15/6/2026) sore.

Dia menjelaskan respon dari Wapres Gibran sangat baik dalam menanggapi tuntutan para mahasiswa. 

"Beliau mencatat hasil dari tuntutan-tuntutan kami dengan buku kecilnya. Poin-poin yang harus dievaluasi dan diperbaiki terkait berbagai persoalan yang menurut kami janggal di negara hari ini," ujarnya.

Sikap kooperatif juga ditunjukkan Gibran dengan mengantar perwakilan mahasiswa hingga ke pendopo Istana untuk berfoto bersama seusai audiensi.

2. Tiga Klaster Tuntutan Krusial

Dalam memorandum yang diserahkan, mahasiswa membedah masalah negara ke dalam tiga klaster utama yang mendesak untuk diselesaikan.

Pertama, menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai butuh evaluasi, serta mahalnya biaya pendidikan.

"Membekukan sementara pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis dan melakukan audit transparan. Kemudian mengalihkan efisiensi anggaran tersebut untuk subsidi UKT ataupun biaya operasional pendidikan tinggi demi mewujudkan pendidikan yang terjangkau," ucap Abdi.

Kedua, menolak kenaikan BBM dan mendesak intervensi atas pelemahan nilai tukar rupiah.

"Mendesak otoritas moneter pusat untuk melakukan intervensi stabilitas rupiah dan membatalkan kebijakan kenaikan harga BBM Pertamax di tingkat regional karena terbukti menghancurkan daya beli domestik masyarakat," paparnya.

Ketiga, meminta pemerintah mengirim rekomendasi resmi ke DPR RI untuk meninjau ulang Undang-undang Polri yang baru saja disahkan.


3. Gibran Janji Lapor ke Presiden Prabowo

Alasan pertemuan ini dilakukan secara tertutup di dalam istana adalah hasil kesepakatan bersama. Abdi menekankan bahwa tujuan utama mereka murni untuk perbaikan bangsa.

"Kami datang dengan niat baik untuk menyampaikan aspirasi dan bagaimana Indonesia ini tetap baik-baik saja. Karena itu pertemuan dilakukan secara langsung di dalam," bebernya.

Gibran pun berjanji tidak akan mendiamkan tuntutan tersebut dan akan membawanya ke meja Presiden.

"Artinya Mas Wapres terbuka dan menerima hasil kajian kami. Beliau akan mengonsolidasikan dan menyampaikan kepada pimpinan, khususnya Presiden Prabowo Subianto,"

4. Ultimatum 5x24 Jam dan Ancaman Aksi Jilid Lanjutan

Meski audiensi berjalan lancar, BEM UBK memberikan batas waktu yang ketat kepada kabinet Prabowo-Gibran. Jika dalam lima hari tidak ada progres nyata, jalanan Jakarta dipastikan akan kembali memanas.

"Tentu tidak berhenti. Kami dari BEM Universitas Bung Karno memberikan waktu 5x24 jam. Ketika aspirasi yang kami sampaikan tidak terealisasi, maka kami akan membentuk pergerakan lanjutan dan melakukan aksi jilid-jilid berikutnya," tegas Abdi.

Apabila pihak pemerintah mengabaikan atau tidak menunjukkan bukti progresif atas realisasi memorandum ini, lanjut dia, maka para mahasiwa akan kembali melakukan aksi.

"Kita akan turun lagi dan melakukan aksi jilid berjilid-jilid," tandasnya.

Sempat Diwarnai Ketegangan dengan Aparat

Sebelum masuk ke Istana Wapres, aksi massa ini mendapat pengawalan ketat berlapis dari aparat kepolisian. Sempat terjadi aksi saling dorong di kawasan Tugu Tani saat mahasiswa dihadang oleh barikade Sabhara dan Brimob.

Laju massa akhirnya terhenti di kawasan Patung Kuda dekat Gedung BSI Tower karena jalan telah diblokade menggunakan pagar besi dan kendaraan taktis.

Meski penuh ketegangan, orasi yang menyoroti program Makan Bergizi Gratis, harga BBM, dan nilai tukar rupiah terus bergema dari atas mobil komando hingga sore hari.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.