Ultimatum 3x24 Jam untuk Parlemen: Demo BEM SI di DPR Bubar Tertib Usai Sentil RUU Polri
Budi Sam Law Malau June 15, 2026 10:18 PM

WARTAKOTALIVE.COM, SENAYAN — Gelombang unjuk rasa yang memadati gerbang parlemen akhirnya mencapai titik akhir.

Aksi demonstrasi yang digelorakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan wilayah Jakarta bersama Aliansi Cipayung Menggugat di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, resmi dibubarkan secara tertib pada Senin (15/6/2026) sore.

Meski aspal Senayan sempat memanas oleh orasi-orasi tajam, massa mahasiswa memilih pulang dengan kepala tegak setelah melayangkan ultimatum keras berdurasi 3x24 jam bagi para wakil rakyat untuk merespons tuntutan mereka.

Baca juga: Nestapa Demo Mahasiswa di DPR: Diseret ke Parlemen, Dzakwan Ungkap Dipukul Polisi Usai Bakar Ban

Begitu massa mencair secara bertahap, arus lalu lintas di Jalan Gatot Subroto arah Slipi yang sempat tersendat kembali normal dan ramai lancar di bawah rona senja Ibu Kota.

"Kamilah Wakil Rakyat yang Sebenarnya!"

Orasi yang membakar emosi begitu kental terasa sepanjang aksi berlangsung.

Di bawah terik matahari, ratusan mahasiswa dengan tegas menolak tawaran untuk bernegosiasi di dalam ruang ber-AC Gedung DPR RI.

Mereka menuntut para anggota dewan untuk keluar, menapakkan kaki di aspal, dan merasakan langsung penderitaan rakyat.

Bagi mereka, sikap diam dan abainya parlemen terhadap jeritan publik dalam satu bulan terakhir adalah bentuk nyata dari sebuah pengkhianatan konstitusi.

“Kami tidak mau masuk ke dalam. Kami ingin perwakilan DPR menemui massa aksi di sini. Kita duduk bersama-sama, kita berpanas-panasan di sini, tidak duduk diam karena lagi-lagi diam adalah sebuah pengkhianatan!” tegas Koordinator Daerah BEM SI Jakarta, Farizal, dengan suara lantang, Senin (15/6/2026).

Pekik idealisme kian bergemuruh saat orator dari atas mobil komando menegaskan bahwa gerakan ini murni lahir dari rasa cinta tanah air, sekaligus menepis narasi miring yang kerap menyudutkan gerakan mahasiswa.

“Ini bukti mahasiswa cinta negeri ini, bahwa mahasiswa bukan antek-antek asing! Di sini kami bukan hanya sebagai mahasiswa, tapi sebagai wakil rakyat. Kamilah wakil rakyat sebenarnya, teman-teman! Bukan yang ada di dalam!” teriak sang orator bersambut riuh kepalan tangan kiri peserta aksi.

Kritik Pedas RUU Polri Hingga Koperasi Merah Putih

Ketajaman narasi BEM SI kali ini membidik langsung substansi kinerja DPR RI yang dinilai mengalami disfungsi.

Baca juga: Polisi Tumbang Terinjak Massa dalam Demo Cipayung Menggugat di DPR, Ricuh dan Rebutan Ban Bekas

Farizal menyoroti bagaimana parlemen terkesan "kejar tayang" dan egois karena hanya memprioritaskan pembahasan regulasi yang menguntungkan kelompok tertentu, seperti revisi UU Polri (RUU Polri), sementara ekonomi rakyat sedang berdarah-darah.

Ada empat poin krusial yang tertuang dalam berkas tuntutan mereka.

Selain mendesak evaluasi total atas pengesahan RUU Polri, mahasiswa menuntut stabilisasi nilai tukar rupiah dengan cara menyetop pemborosan APBN.

Program-program mercusuar besutan pemerintah pusat, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih, turut dituntut untuk dievaluasi secara radikal.

Jika dalam waktu tiga hari ke depan gedung DPR tetap bergeming, mahasiswa mengancam akan kembali melipatgandakan gelombang massa untuk mengepung Senayan.



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.