Kirab Malam Satu Suro di Mergosari Wonosobo, Ribuan Warga Berebut Gunungan Hasil Bumi
rival al manaf June 16, 2026 12:57 AM

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Ribuan warga memadati halaman Kantor Desa Mergosari, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo, Senin (15/6/2026) malam.

Mereka mengikuti Kirab Malam Siji Suro atau Kimajiro yang digelar Pemerintah Desa Mergosari.

Suasana malam tampak berbeda dari biasanya. Cahaya obor menerangi jalan dan halaman kantor desa. 

Warga berjejer menyaksikan arak-arakan empat gunungan hasil bumi dan puluhan tumpeng yang diusung peserta kirab.

Baca juga: Harga BBM Naik, Warga Jateng Mulai Beralih ke Mobil Listrik

Baca juga: Merawat Tradisi Nenek Moyang, Warga Sidomulyo Semarang Wajib Makan Ketupat saat Malam 1 Suro

Kirab berlangsung meriah yang diikuti warga dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang tua, ikut memadati lokasi acara.

Usai kirab, acara dilanjutkan dengan prosesi jamasan. Air yang berasal dari tujuh mata air di Desa Mergosari dicampurkan menjadi satu.

Air tersebut kemudian digunakan untuk menjamasi hasil bumi dan dipercikkan kepada masyarakat.

Tak lama kemudian, empat gunungan yang berisi aneka sayuran, buah, serta hasil bumi lainnya diperebutkan warga.

Warga saling berebut untuk mendapatkan isi gunungan yang dipercaya membawa berkah.

Yulia, warga Mergosari, mengaku selalu mengikuti tradisi Malam Satu Suro yang digelar di desanya.

Ia tampak membawa beberapa sayuran hasil rebutan dari gunungan.

"Senang ikut ini dapat sayur ini beberapa. Nanti buat dimasak di rumah," ujar Yulia.

Menurutnya, tradisi tersebut menjadi kegiatan yang selalu ditunggu setiap tahun.

"Setiap tahun ikut kegiatan malam satu suro. Apa yang didapat ini semoga dapat keberkahan," katanya.

Kepala Desa Mergosari, Slamet Supriyono, mengatakan Kirab Malam Siji Suro tiap tahun dilaksanakan.

Ia mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menjaga tradisi sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkegiatan di desa.

"Sebenarnya hanya satu keinginan saya adalah menjaga stabilisasi keamanan," ujarnya.

Menurut Supri, kegiatan ini juga diharapkan menjadi destinasi wisata budaya di Desa Mergosari.

Supri menjelaskan, salah satu prosesi penting dalam Kirab Malam Siji Suro adalah jamasan hasil bumi. Air yang digunakan berasal dari tujuh mata air yang ada di Desa Mergosari.

"Ada 7 mata air di Desa Mergosari yang nanti kita campur, nanti kita njamas hasil bumi di desa Mergosari," jelasnya.

Tak hanya gunungan, warga juga membuat 50 tumpeng yang berasal dari masing-masing RT.

Sementara itu, Sesepuh Desa Mergosari, Gatot Sudarto, mengatakan setiap unsur dalam Kirab Malam Siji Suro memiliki makna tersendiri.

Empat gunungan yang diarak mewakili empat dusun yang ada di Desa Mergosari.

Masing-masing dusun juga mengenakan pakaian dengan warna berbeda. 

Dusun Mangunsari memakai pakaian putih yang merujuk pada tokoh pendiri desa, Mbah Kyai Mangun.

Karangsari mengenakan pakaian hitam yang berkaitan dengan Mbah Kyai Karanggondang.

Sedangkan Rejosari menggunakan pakaian berwarna hijau yang dikaitkan dengan Mbah Rowoijo.

"Ini memang dari pendahulunya sudah begitu," kata Gatot.

Menurutnya, perbedaan warna tersebut menjadi simbol bahwa masyarakat Mergosari memiliki sejarah yang beragam namun tetap hidup dalam satu ikatan.

Ia juga menjelaskan bahwa tradisi Malam Satu Suro merupakan perpaduan budaya Jawa dan nilai-nilai keislaman.

Sebelum dipusatkan oleh pemerintah desa, tradisi selamatan biasanya dilakukan sendiri-sendiri di tingkat RT. Kini seluruh warga berkumpul dalam satu perayaan.

"Menyatukan dalam rangka Malam Satu Suro itu kerukunan bersama," ujarnya.

Gatot menambahkan, tumpeng yang disiapkan warga menjadi lambang keselamatan. Saat dipotong dan dibagikan, tumpeng menjadi simbol selamatan bersama seluruh warga.

"Tumpeng itu merupakan simbol keselamatan," katanya.

Menurutnya, masyarakat Mergosari percaya bahwa hasil bumi yang diperoleh bukan semata karena usaha manusia. Ada doa dan restu dari Tuhan yang menyertai setiap langkah kehidupan warga.

"Tetap satu percaya kepada yang tunggal Gusti Allah Taala," ucap Gatot.

Setelah seluruh rangkaian acara selesai, warga kemudian berkumpul di aula dan halaman desa. Mereka duduk lesehan, makan bersama sambil bercengkerama. (ima)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.