Perang Iran Kuras 1.000 Tomahawk dan 2.000 Rudal Patriot-THAAD AS, Pertahanan Taiwan Kini Terancam
TRIBUNNEWS.COM - Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada 2026 memunculkan perdebatan baru mengenai kesiapan militer Washington dalam menghadapi potensi konflik berskala besar di kawasan lain.
Sejumlah laporan analisis pertahanan menyebut AS telah menggunakan lebih dari 1.000 rudal jelajah Tomahawk dan sekitar 2.000 rudal pencegat pertahanan udara, termasuk Patriot PAC-3 MSE, THAAD, dan berbagai varian Standard Missile selama operasi militer ke Iran tersebut.
Baca juga: Taiwan Uji Coba Tembakkan Rudal HIMARS Buatan AS ke Arah Daratan Tiongkok
Jika angka itu akurat, banyak pengamat menilai perang di Iran telah memperlihatkan tantangan besar yang dihadapi industri pertahanan Amerika dalam menjaga ketersediaan persenjataan berteknologi tinggi.
Bagi para perencana pertahanan Amerika, isu ini tidak hanya berkaitan dengan Timur Tengah.
Rudal-rudal yang digunakan dalam konflik Iran merupakan sistem senjata yang juga menjadi bagian penting dari strategi pertahanan Amerika di kawasan Indo-Pasifik, termasuk dalam skenario menghadapi ancaman terhadap Taiwan.
Beberapa analis menilai penyusutan stok tersebut dapat menciptakan apa yang disebut sebagai "jendela kerentanan strategis", yaitu periode ketika kemampuan pencegahan Amerika dianggap melemah karena persediaan amunisi belum sepenuhnya pulih.
Kondisi ini menjadi perhatian karena China terus meningkatkan kapasitas produksi rudal dan memperkuat kemampuan militernya.
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa industri pertahanan Amerika selama beberapa dekade beroperasi dengan kapasitas produksi yang disesuaikan untuk masa damai.
Dalam perang modern yang berlangsung lama, penggunaan rudal presisi tinggi ternyata jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya.
Sebagai contoh, Tomahawk merupakan senjata utama untuk menyerang sasaran strategis dari jarak jauh tanpa harus mengirim pesawat tempur ke wilayah yang berisiko tinggi.
Namun, tingkat produksi tahunan rudal tersebut disebut belum mampu mengimbangi kecepatan penggunaannya selama konflik.
Karena itu, perusahaan pertahanan seperti RTX dan Lockheed Martin dikabarkan sedang meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan Pentagon.
Selain Tomahawk, sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD juga disebut digunakan dalam jumlah besar untuk menghadapi serangan rudal balistik dan drone selama konflik.
Kedua sistem ini memiliki peran penting dalam melindungi pangkalan militer, infrastruktur strategis, dan sekutu Amerika di berbagai kawasan.
Sejumlah pengamat memperingatkan bahwa setiap rudal pencegat yang digunakan di Timur Tengah dapat mengurangi cadangan yang tersedia untuk wilayah lain, termasuk Guam, Jepang, dan kawasan Indo-Pasifik.
Menghadapi situasi tersebut, Pentagon dilaporkan tengah menjalankan program besar untuk mempercepat pengadaan dan produksi rudal.
Pemerintah Amerika disebut mempertimbangkan kontrak jangka panjang bernilai miliaran dolar dengan perusahaan industri pertahanan guna membangun kembali stok yang menyusut.
Namun, proses itu diperkirakan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Rudal modern memerlukan komponen elektronik, sistem pendorong, dan rantai pasok yang kompleks sehingga masa produksinya bisa mencapai beberapa tahun.
Dalam berbagai simulasi militer sebelumnya, Amerika Serikat telah memperkirakan bahwa konflik besar di Indo-Pasifik akan membutuhkan persediaan rudal presisi tinggi dalam jumlah sangat besar.
Karena itu, sebagian analis berpendapat bahwa pengalaman di Iran dapat menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya ketahanan industri pertahanan dan kesiapan logistik dalam menghadapi perang modern.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa berbagai angka mengenai penggunaan rudal dan tingkat persediaan militer yang beredar berasal dari laporan analisis dan perkiraan sejumlah pengamat pertahanan.
Hingga kini, pemerintah Amerika Serikat belum merilis data resmi yang merinci keseluruhan inventori maupun jumlah pasti amunisi yang telah digunakan selama konflik tersebut.
(oln/dsa/*)