TRIBUNNEWS.COM - Industri media kini terus berkembang menuju era modernisasi teknologi, terutama dalam menghadirkan jurnalisme audio visualnya.
Hadirnya new media (media baru) dalam pola jurnalisme konvensional membuat produk jurnalistik kini bisa masuk dalam ekosistem yang serba cepat, mudah, dan murah.
Ada juga kru yang bertugas untuk mengurus lighting atau pencahayaan selama pengambilan gambar.
"Saya reporter, katakanlah ingin meliput banjir begitu, maka saya minimal harus ke lapangan itu berdua minimal. Saya reporternya dengan kameramennya. Kemudian juga, kalau misalnya diperlukan, saya tambah satu. Sebenarnya, itu yang untuk memegang lampu dan sebagainya, sekaligus juga secara teknis, dia membantu perjalanan kita gitu."
Baca juga: Pers Wakili Publik Jadi Pilar ke-4 Demokrasi, Nurcholis Basyari Tegaskan Fungsi Kontrol Sosial Pers
"Jadi berdua sampai tiga orang itu wajiblah tuh. Minimal dua itu wajib enggak mungkin kurang gitu. Katakanlah sudah di lapangan nih. Saya sudah meliput banjir. Saya sudah wawancara segala macam dengan kameramen, mengambil visualnya dan sebagainya, mendampingi saya."
"Wawancara dan sebagainya. Selesai semua saya pulang," kata Jamal dalam materinya tentang 'Jurnalisme Audio Visual di Era Digital' yang ia sampaikan di kelas Journalism Fellowship on CSR secara daring melalui Zoom, pada Rabu (10/6/2026).
Baca juga: Menjaga Eksistensi Pers di Tengah Derasnya Informasi Media Sosial, Kreativitas Wartawan Jadi Jawaban
Karena pada era itu masih belum ada handphone seperti sekarang. Komunikasi saat itu juga masih menggunakan pager.
Pager (atau beeper) adalah perangkat telekomunikasi nirkabel portabel yang berfungsi untuk menerima pesan teks singkat atau notifikasi.
Baca juga: Membedah Peran dan Esensi Media dalam Peliputan CSR: Merancang Kerja Besar untuk Perubahan
Karena di era sekarang, smartphone bukan hanya sekadar alat komunikasi, tapi bisa juga dimanfaatkan sebagai alat kerja jurnalis.
Di dalam satu perangkat smartphone, seorang jurnalis bisa melakukan pengambilan gambar (shooting), perekaman suara, hingga penyuntingan (editing) menggunakan aplikasi di smartphone miliknya.
Baca juga: Tantangan Pers di Era Banjir Informasi Media Sosial, Wartawan Harus Konsisten di Garis Jurnalismenya
"Inilah yang terjadi hari ini kawan-kawan, enggak perlu lagi SDM yang banyak, peralatan yang mahal. Kalau dulu kamera yang dibawa oleh kawan-kawan itu kamera yang harganya waktu jaman itu saja antara sembilan puluh sampai seratus lima puluh juta rupiah. Kameranya saja, ya. Ada juga baterainya, itu beratnya empat sampai lima kilogram. Jadi memang berat (peralatannya), mahal, dan butuh orang banyak."
Baca juga: Dorong Jurnalistik Berkualitas, GWPP & TBIG Gelar Journalism Fellowship on CSR Demi Kerja Perubahan
Hadirnya Mojo di industri media saat ini juga mengubah standarisasi baru seorang jurnalis. Yakni menjadi jurnalis multiplatform.
Karena dengan kecanggihan teknologi, seorang jurnalis memiliki kapasitas dan kekuatan penuh yang setara dengan kerja satu tim redaksi TV era konvensional.
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani)