Berkah Setetes Susu dan Secangkir Kopi yang Hidupi Desa Banyuanyar Boyolali
Whiesa Daniswara June 16, 2026 03:19 AM

Laporan wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan

TRIBUNNEWS.COM - Deretan jeep warna-warni tampak berjajar rapi di Lapangan Gedung Industri Kecil Masyarakat (IKM) Kampus Kopi (Kampung Susu dan Kopi), Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (1/4/2026) pagi.

Kendaraan berpenggerak empat roda itu bersiap mengantarkan tamu menyusuri sudut-sudut desa yang telah sukses mengembangkan potensi susu dan kopi menjadi destinasi berbasis agro-eco-edu tourism.

Kali ini, kunjungan berasal dari 50 peserta program Local Hero binaan PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Mereka terdiri dari pengurus BUMDes, kelompok tani, perwakilan dinas, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya yang mengikuti kegiatan ini untuk memperkaya wawasan dan keterampilan. 

Bekal tersebut diharapkan dapat menjadi pemicu lahirnya inovasi serta membawa perubahan positif bagi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah masing-masing. 

Bank Rakyat Indonesia turut menjadi teman Desa Banyuanyar melewati jalan berliku mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai daya tarik wisatawan sekaligus mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Puncaknya, Desa Banyuanyar meraih berbagai penghargaan, termasuk menjadi 15 desa terbaik se-Indonesia dengan meraih gelar BRILiaN di tahun 2024.

Berkah Susu dan Kopi

lihat foto
DESA BRILIAN - Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin saat menjelaskan soal potensi desanya kepada peserta program Local Hero binaan PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, pada Rabu (1/4/2026). (Dok.Desa Wisata Banyuanyar)

Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, menyadari desanya tidak memiliki anugerah alam berupa air terjun, umbul, atau destinasi wisata populer yang mudah dijual kepada wisatawan.

Keterbatasan itu tidak pernah menyurutkan tekadnya untuk memajukan desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga. Setelah perenungan panjang, lahirlah gagasan membangun wisata berbasis pelestarian lingkungan, pendidikan budaya, pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, serta pemberdayaan masyarakat lokal.

Mimpi besar tersebut dimulai dari langkah sederhana. Komarudin bersama warga menghidupkan kampung-kampung UMKM yang bertumpu pada komoditas unggulan desa yang telah diwariskan nenek moyang sejak era kolonial.

Desa Banyuanyar memiliki perkebunan kopi seluas 44,4 hektare, lahan jahe 34,32 hektare, dan 1.065 ekor sapi.

"Kami bangun dulu kampung-kampung UMKM sejak 2018. Diawali kampung kopi, kampung jahe, dan kampung susu yang potensinya sudah ada sejak zaman Belanda," ujar Komarudin di hadapan peserta kunjungan. 

Dari tiga komoditas itulah fondasi Desa Banyuanyar mengembangkan wisata berbasis masyarakat lokal. Kini, sudah ada total 18 kampung UMKM unggulan yang tersebar di 9 dukuh.

Tidak mudah bagi Komarudin mendorong masyarakat untuk memulai. Perlu totalitas dari jajaran pemerintah desa untuk mendampingi usaha warga dari nol.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kampus Kopi juga perlu menggelontorkan modal sebagai stimulus. Seperti membelikan mesin holden pulper untuk mengupas kopi seharga Rp20 juta.

“Saya kalau kerja sendiri tidak akan mampu. Makanya semua jajaran perangkat desa harus memiliki komitmen tinggi melibatkan berbagai pihak. Dari tokoh masyarakat, kelompok tani, ibu PKK, sampai pemuda karang taruna,” tegasnya.

Ditanya soal Pendapatan Asli Desa (PADes), Komarudin enggan merincikan. Ia menyebut PADes Banyuanyar tidak sebesar desa-desa wisata lainnya yang bisa mencapai miliaran rupiah per tahun dari retribusi parkir dan tiket masuk.

Seluruh keuntungan dari penjualan paket wisata dibagikan kepada masing-masing kampung UMKM yang 100 persen milik masyarakat.

“Saya mengatakan kepada teman-teman BUMDes, jangan berorientasi pada keuntungan. Yang penting UMKM semakin maju, masyarakatnya tambah pintar, maka berkah lain dari Tuhan akan datang,” tandas Komarudin.

Informasi tambahan, Desa Banyuanyar menyediakan berbagai paket kunjungan untuk kalangan pelajar hingga usia dewasa.

Harga termurah mulai Rp100 ribu per orang dan termahal jeep tour selama 8 jam kunjungan dengan harga Rp350 ribu per orang.

Berdasarkan data dari BUMDes, periode Januari hingga Juni 2026, Desa Banyuanyar sudah dikunjungi 1.704 wisatawan dari berbagai daerah. 

Termasuk di antaranya Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia (Menteri Desa PDT RI) Yandri Susanto dan Wakil Menteri (Wamen) Ahmad Riza Patria.

Mencicipi Olahan Susu hingga Menikmati Pertunjukan Seni

lihat foto
DESA BRILIAN - Seorang pengunjung Desa Wisata Banyuanyar yang mencoba membatik di atas kain menggunakan canting. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Setelah menyimak pemaparan materi, para peserta kunjungan satu per satu menaiki jeep untuk diajak menjelajahi potensi unggulan Desa Banyuanyar secara langsung.

Perjalanan dimulai di Dukuh Geneng, tempat para ibu rumah tangga menjaga warisan budaya melalui seni membatik. 

Tak sekadar menyaksikan, peserta juga diajak mencoba menggoreskan lilin batik memakai canting di atas kain putih untuk membentuk motif-motif sederhana. 

Suasana pun terasa hangat dan penuh keceriaan, diiringi gelak tawa para peserta yang antusias belajar membatik.

Di lokasi ini turut dipamerkan beragam motif khas yang terinspirasi dari kekayaan alam dan identitas Desa Banyuanyar, salah satunya motif Sekar Puspa Kawruh Jati yang memadukan gambar keris dan biji kopi sebagai ikon unggulan desa.

Dari sentra batik, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kampung UMKM Jamur Tiram Om Jati di Dukuh Banyuanyar. 

Di sana, peserta diajak melihat proses budidaya jamur tiram yang dimulai dari pembuatan baglog, media tanam berbahan limbah serbuk kayu hasil penggergajian. 

Kunjungan ditutup dengan pengalaman memanen jamur tiram segar langsung.

lihat foto
DESA BRILIAN - Seorang pengunjung Desa Wisata Banyuanyar yang melihat budidaya jamur tiram di Desa Wisata Banyuanyar. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Petualangan edukatif kemudian berlanjut ke Kampung UMKM Susu Cowboy di Dukuh Wangan. 

Para peserta mendapatkan penjelasan mengenai teknik perawatan sapi perah untuk menghasilkan susu berkualitas. 

Tak hanya itu, mereka juga berkesempatan mencicipi aneka produk olahan susu hasil kreasi ibu-ibu anggota UMKM setempat, mulai dari yogurt, stik susu, hingga pai susu.

Tidak terasa matahari mulai meninggi dan perut mulai berbunyi minta diisi. Rombongan PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Paiton dibawa ke Kedai Kopi Barendo di Dukuh Jumbleng.

Sembari menikmati hidangan sayur ‘ndeso’ dan secangkir kopi, peserta dihibur dengan sajian tari dari anak-anak sekolah Desa Banyuanyar.

Mereka menampilkan Tari Kopi Barendo, yang menceritakan semangat para petani kopi di Desa Banyuanyar.

Gerakannya terinspirasi dari aktivitas panen kopi, mengalir dinamis, dan menggambarkan kebersamaan masyarakat.

Kunjungan pun berakhir. Para peserta kembali ke Lapangan IKM Kampus Kopi dengan membawa pengalaman baru untuk dibawa pulang.

lihat foto
DESA BRILIAN - Pengunjung Desa Wisata Banyuanyar saat membeli produk-produk dari Omah Susu Cowboy, UMKM olahan susu yang menjadi salah satu unggulan. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Salut dengan Semangat Desa Banyuanyar

Perwakilan PT PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Paiton, Arif Wijayanto, mengaku salut terhadap semangat dan ketekunan Komarudin dan jajarannya mendorong masyarakat untuk bergerak bersama membuat perubahan.

Sebagai Asisten Manajer Sumber Daya Manusia (SDM) Umum yang menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR), ia turut mengakui tidak mudah merangkul banyak orang.

"Yang paling susah itu pasti di awal mengumpulkan orang seperti pengalaman kami di lapangan. Di sisi lain, warga juga hebat karena mau kooperatif mengikuti arahan. Ini hal tidak mudah," kata Arif saat ditemui Tribunnews.com di sela-sela kunjungan.

Oleh karenanya, ia merasa tepat memilih Desa Banyuanyar sebagai tempat belajar Local Hero binaan PT PLN UP Paiton.

Arif berharap ilmu yang didapatkan bisa diterapkan di masing-masing kelompok dengan caranya sendiri.

“Kalau bisa ATM, yakni amati, tiru, dan modifikasi menyesuaikan lokasi dan kondisi warga yang ada di sana. Saya juga ingin teman-teman mencontoh semangat Desa Banyuanyar. Tetap konsisten, bisa memaksimalkan potensi di lingkungan sekitar untuk kemaslahatan bersama,” tutupnya.

lihat foto
DESA BRILIAN - Pengunjung Desa Wisata Banyuanyar saat menikmati secangkir kopi di Kedai Kopi Barendo. (Dok.Desa Wisata Banyuanyar)

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Hostifawati menilai Desa Banyuanyar sudah sukses melakukan hilirisasi produk-produk unggulannya.

Bahan mentah seperti kopi, jahe, dan susu tidak dijual begitu saja, namun diolah terlebih dahulu sehingga meningkatkan nilai jual.

“Saya sangat kagum sekali. Di sini merupakan sentra UMKM yang beraneka macam di setiap dusunnya,” terang dia.

Hostifawati juga percaya setiap desa bisa mandiri seperti Desa Banyuanyar. Tinggal kejelian perangkat desa melihat potensi di daerahnya. Seperti Desa Binor yang berada di wilayah pesisir membuatnya dikaruniai hasil laut melimpah.

“Di tempat saya UMKM juga sudah ada untuk pengolahan ikan. Setelah melihat Desa Banyuanyar, saya mendapat inspirasi harus bekerja lebih keras dan ikhlas mengembangkannya,” tutupnya.

Komitmen BRI Dorong Desa Mandiri

Social Entrepreneurship & Incubation Division Head PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), Evi Sulistiawati menjelaskan dari desa se-Indonesia, baru 53,92 persen masuk ke dalam golongan maju dan mandiri. 

Sisanya 46,08 persen masih berkembang, tertinggal, dan sangat tertinggal, berdasarkan data terbaru Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan (Ditjen PDP).

Berdasarkan kondisi tersebut, BRI terdorong melakukan pemberdayaan desa dengan tujuan menghasilkan role model pembangunan desa dengan mengoptimalkan potensi desa berbasis Sustainable Development Goals (SDG) lewat program Desa BRILiaN.

"Program ini juga bentuk komitmen BRI dalam mendukung Asta Cita pemerintahan yang menekankan pembangunan dari desa untuk mencapai pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan," kata Evi dalam keterangannya.

lihat foto
DESA BRILIAN - Pengunjung Desa Wisata Banyuanyar saat menikmati suguhan budaya seni tari dari anak-anak sekolah dasar. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Desa BRILiaN memiliki empat pilar yang menjadi fokus pemberdayaan.

Pertama, BUMDes dan koperasi desa jadi motor penggerak ekonomi desa. Kedua, digitalisasi yang merupakan implementasi produk dan aktivitas digital di desa. Ketiga, sustainability atau keberlanjutan dalam membangun desa. Dan keempat, kreatif dalam menciptakan inovasi desa.

"Objek pemberdayaan meliputi perangkat desa, pengurus BUMDes, badan permusyawaratan desa, pelaku usaha desa, dan juga penggiat produk unggulan," urai Evi.

Sejak diluncurkan pada 2020, sudah ada 5.245 Desa BRILiaN yang berkomitmen untuk maju dengan program-programnya.

Evi melanjutkan, di tahun 2026 ini, BRI menargetkan akan lahir lagi 1.000 peserta Desa BRILiaN di penjuru Indonesia.

"Semoga pelaksanaan program Desa BRILiaN mampu memberikan kontribusi nyata dan positif bagi kebangkitan ekonomi masyarakat desa," harapnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.