TRIBUNKALTIM.CO - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, memberikan klarifikasi terkait insiden ketegangan yang mewarnai jalannya diskusi ilmiah di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Mantan aktivis Reformasi dan Eks Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dahulu vokal menentang rezim Orde Baru ini menegaskan bahwa keputusannya merapat ke struktur pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tidak mengubah integritas maupun karakter ideologisnya.
“Saya jawab, ‘Aku masih seperti Budiman yang dulu. Saya enggak berubah,” ujar Budiman saat memberikan keterangan, Selasa (16/6/2026).
Baca juga: Ketika Budiman Sudjatmiko Didebat Aktivis Kampus, Kekuasaan Menjinakkan Bung Budiman
Budiman menceritakan kembali momen krusial ketika benturan argumen terjadi di atas panggung diskusi.
Salah seorang peserta dengan nada tinggi langsung mempertanyakan konsistensi dan menuding dirinya telah melakukan pengkhianatan terhadap basis gerakan rakyat demi mengejar kenyamanan fasilitas jabatan negara.
“Salah satu dari mereka bilang, ’Saya mengidolakan Anda dari dulu, tapi Anda mengkhianati kami. Anda hidup enak-enak. Piye, penak ‘pa dadi menteri Prabowo? Lali karo rakyat? (Bagaimana, enak jadi menteri Prabowo? Lupa dengan rakyat?)’” kata Budiman menirukan hardikan dari massa.
Merespons tudingan miring tersebut, Budiman mengaku langsung menatap mata sang penanya dan membantah keras bahwa dirinya memanfaatkan jabatan harian untuk memburu kekayaan materi.
Baca juga: Dicecar Mahasiswa pada Diskusi Publik, Reaksi Budiman Sudjatmiko: Silahkan Pergi
Ia menyatakan tetap mengawal dan memahami setiap denyut penderitaan masyarakat bawah yang disuarakan oleh kelompok mahasiswa.
Situasi di dalam ruangan Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM dilaporkan mengalami eskalasi cepat hingga berubah keributan.
Di tengah himpitan desak-desakan massa, Budiman sempat melihat adanya pelemparan botol air mineral ke arah panggung, meskipun dirinya secara fisik tidak terkena hantaman.
Kendati demikian, gesekan fisik justru menimpa tim pengamanan internalnya.
Baca juga: Bantahan Mensos soal 20 Persen Data Bansos Salah Sasaran, Koreksi Pernyataan Budiman Sudjatmiko
“Ajudan saya bilang ada yang mau memukul saya, tapi dihalangi ajudan saya sehingga kepala ajudan saya kena pukul,” ungkapnya.
Budiman mengidentifikasi adanya indikasi dari kelompok luar yang memang berniat memboikot jalannya forum sejak awal.
Menurut analisisnya, mayoritas peserta diskusi reguler yang memenuhi ruangan sebenarnya bersikap tertib, namun suasana mendadak rusak setelah muncul rombongan massa dari arah tribun.
"Saya melihat, ini kelompok yang tidak ingin dialog ini terjadi," tegas Kepala BP Taskin tersebut.
Baca juga: Budiman Sudjatmiko Sebut 20 Persen Data Penerima Bansos Salah Sasaran, Mensos Membantah
Petugas pengamanan kampus bersama tim protokoler BP Taskin bergerak cepat mengevakuasi Budiman ke zona aman.
Sementara itu, dua pejabat negara lain yang turut hadir, yakni Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono, diarahkan keluar melalui pintu evakuasi yang berbeda.
Sudaryono menegaskan bahwa pasca-dievakuasi dari ruang utama Joglo GIK UGM, dirinya bersama Menteri ATR/BPN Nusron Wahid justru memilih turun langsung ke jalanan untuk melayani dialog secara terbuka, bahkan ikut duduk bersila di atas aspal bersama para mahasiswa.
Baca juga: Trending Anggaran Makan Siang Gratis Jadi Rp 7.500 per Porsi, Budiman Sudjatmiko: Jangan Lihat Harga
Dalam diskusi spontan tersebut, Sudaryono dan Nusron menampung aspirasi mahasiswa yang secara tajam menyoroti komplikasi isu reforma agraria serta dugaan kasus penggusuran lahan.
Pihak kementerian menyatakan kesiapannya untuk melakukan verifikasi berkala secara langsung atas setiap laporan yang masuk.
"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," sanggah Sudaryono.
Wamentan Sudaryono turut menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh mahasiswa yang telah meluangkan waktu hadir dengan niat murni berdiskusi, namun kenyamanan forum hariannya harus terganggu akibat pecahnya situasi di area GIK UGM. (*)