Oleh: Gergorius Babo
Warga penggemar sepakbola, tinggal di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Ada pertandingan sepak bola yang selesai ketika peluit panjang berbunyi.
Ada pula pertandingan yang terus hidup karena membawa sejarah, ingatan, dan makna yang melampaui lapangan hijau. Duel Belanda melawan Jepang yang berakhir imbang 2-2 pada Piala Dunia 2026 termasuk dalam kategori kedua.
Bagi sebagian besar penonton dunia, laga di Dallas itu mungkin hanya pertarungan antara dua negara dengan tradisi sepak bola yang berbeda.
Belanda dikenal sebagai salah satu pusat peradaban sepak bola modern, sementara Jepang merupakan representasi kebangkitan sepak bola Asia yang paling konsisten dalam tiga dekade terakhir.
Baca juga: Hasil Piala Dunia 2026, Spanyol Ditahan Imbang Tanjung Verde Fans Nilai Kesalahan Pelatih
Namun bagi Indonesia, pertandingan tersebut menyimpan resonansi sejarah yang jauh lebih dalam. Ketika Belanda dan Jepang saling berhadapan, bangsa Indonesia seakan melihat dua nama yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarahnya.
Belanda dan Jepang hadir dalam memori kolektif Indonesia melalui cara yang berbeda.
Belanda datang sebagai penjajah yang membangun kekuasaan selama lebih dari tiga abad, sementara Jepang hadir melalui pendudukan singkat tetapi meninggalkan jejak yang sangat kuat dalam perjalanan menuju kemerdekaan.
Karena itu, pertandingan ini terasa seperti pertemuan dua aktor besar yang pernah membentuk arah sejarah Nusantara. Tentu sepak bola bukan perang, dan stadion bukan medan pertempuran sejarah.
Namun olahraga sering menghadirkan simbol-simbol yang membuat manusia kembali merenungkan perjalanan masa lalu.
Belanda memasuki pertandingan sebagai pewaris salah satu tradisi sepak bola paling berpengaruh di dunia. Negara kecil di Eropa Barat itu menghasilkan filosofi Total Football yang mengubah cara manusia memahami ruang, gerakan, dan kebebasan dalam permainan.
Sepak bola Belanda selalu memiliki nuansa intelektual yang kuat. Permainan mereka tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga berusaha menjelaskan bagaimana sepak bola seharusnya dimainkan.
Dalam banyak hal, sepak bola Belanda mencerminkan sejarah bangsa tersebut. Sebagai negara maritim yang berabad-abad mengarungi lautan, Belanda terbiasa berpikir tentang organisasi, keteraturan, dan kemampuan mengelola ruang yang terbatas untuk menghasilkan pengaruh yang besar.
Tidak mengherankan jika Belanda menjadi salah satu bangsa yang paling berhasil memaksimalkan sumber daya yang dimiliki. Dari perdagangan global hingga sepak bola modern, terdapat benang merah yang sama: kemampuan membangun sistem yang efektif.
Sementara itu, Jepang menawarkan cerita yang berbeda. Kebangkitan sepak bola Jepang lahir bukan dari tradisi panjang seperti negara-negara Eropa, melainkan dari keputusan kolektif untuk berubah.
Jepang memahami bahwa mereka tertinggal dalam sepak bola dunia. Namun bangsa itu tidak menghabiskan energi untuk meratapi ketertinggalan tersebut.
Sebaliknya, Jepang memilih membangun fondasi. Mereka menciptakan liga profesional yang sehat, memperkuat pendidikan pelatih, membangun akademi pemain muda, dan mengirim generasi terbaiknya belajar ke Eropa.
Pilihan itu mengingatkan pada transformasi Jepang setelah Perang Dunia Kedua. Ketika banyak negara hancur oleh konflik, Jepang membangun kembali masa depannya melalui disiplin, pendidikan, dan inovasi.
Di titik ini, sepak bola menjadi lebih dari olahraga. Sepak bola menjadi cermin bagaimana suatu bangsa memandang masa depan.
Ketika pertandingan dimulai di Dallas, Belanda langsung memperlihatkan identitasnya. Penguasaan bola yang tinggi dan sirkulasi permainan yang rapi menunjukkan mengapa De Oranje masih menjadi salah satu kekuatan penting dalam sepak bola internasional.
Jepang lebih banyak bertahan. Namun bertahan tidak selalu berarti menyerah.
Ada perbedaan besar antara bertahan karena takut dan bertahan karena memahami situasi. Jepang memilih yang kedua.
Mereka sadar bahwa Belanda memiliki kualitas teknis yang luar biasa. Namun mereka juga memahami bahwa pertandingan sepak bola tidak ditentukan oleh siapa yang menguasai bola paling lama.
Di sinilah pelajaran filosofis pertama muncul. Dalam kehidupan, seperti dalam sepak bola, dominasi tidak selalu identik dengan kemenangan.
Manusia modern sering terobsesi pada ukuran-ukuran yang tampak.
Kita mengukur kesuksesan melalui angka, statistik, kekayaan, atau kekuasaan.
Sepak bola berkali-kali mengingatkan bahwa realitas jauh lebih kompleks. Ada faktor ketahanan, kesabaran, dan kemampuan bertahan menghadapi tekanan yang sering tidak tercatat dalam statistik.
Belanda akhirnya unggul melalui Virgil van Dijk. Gol itu terasa logis karena sesuai dengan jalannya pertandingan.
Banyak penonton mungkin mengira pertandingan akan bergerak menuju kemenangan Belanda. Narasi yang selama ini dikenal tampak kembali berjalan sesuai jalurnya.
Namun Jepang menolak menerima peran sebagai figuran dalam cerita orang lain. Mereka memilih menulis cerita sendiri.
Keito Nakamura menyamakan kedudukan. Gol tersebut bukan hanya mengubah skor, tetapi juga mengubah hubungan psikologis antara kedua tim.
Belanda kembali unggul melalui Crysencio Summerville. Sekali lagi, sejarah dan reputasi tampak berada di pihak mereka.
Namun Jepang kembali bangkit. Daichi Kamada memastikan pertandingan berakhir imbang melalui gol yang lahir menjelang akhir laga.
Di situlah letak keindahan sepak bola. Permainan ini memberi ruang bagi mereka yang terus percaya meski situasi terlihat tidak menguntungkan.
Jepang tidak memenangkan pertandingan. Namun Jepang memenangkan sesuatu yang sering kali lebih penting dalam perjalanan sebuah bangsa: rasa percaya diri.
Rasa percaya diri bukan sesuatu yang dapat dibeli. Rasa percaya diri dibangun melalui pengalaman menghadapi tantangan dan berhasil bertahan di dalamnya.
Bagi Indonesia, ada pelajaran yang sangat relevan dari kisah Jepang tersebut. Selama bertahun-tahun, sepak bola Indonesia sering terjebak dalam budaya hasil instan.
Kita ingin melihat perubahan besar dalam waktu singkat. Kita berharap satu pelatih, satu generasi pemain, atau satu turnamen mampu mengubah segalanya.
Jepang menunjukkan bahwa kemajuan memiliki ritme yang berbeda. Kemajuan lahir dari kesediaan untuk bekerja dalam waktu yang panjang dan sering kali tidak spektakuler.
Ironisnya, bangsa Indonesia mengenal Belanda dan Jepang melalui pengalaman sejarah yang pahit. Namun dari keduanya, terdapat pelajaran yang tetap dapat dipetik hingga hari ini.
Dari Belanda, Indonesia belajar tentang pentingnya sistem dan organisasi. Dari Jepang, Indonesia belajar tentang disiplin dan konsistensi dalam membangun masa depan.
Pelajaran tersebut terasa relevan ketika melihat perkembangan sepak bola nasional. Banyak negara besar lahir bukan karena memiliki bakat yang lebih hebat, melainkan karena mampu mengelola bakat yang ada secara lebih baik.
Pertandingan di Dallas juga mengingatkan bahwa sejarah bukanlah takdir. Belanda memiliki sejarah sepak bola yang lebih besar daripada Jepang, tetapi sejarah tidak mencetak gol dalam pertandingan hari ini.
Sejarah memberi fondasi. Masa depan ditentukan oleh apa yang dilakukan generasi sekarang.
Inilah alasan mengapa hasil imbang tersebut terasa begitu simbolis. Belanda mewakili warisan besar yang telah lama diakui dunia.
Jepang mewakili keyakinan bahwa kerja keras yang konsisten mampu mempersempit jarak dengan mereka yang lebih dahulu maju. Pertandingan itu memperlihatkan bagaimana tradisi dan transformasi dapat bertemu dalam satu lapangan yang sama.
Bagi Indonesia, pertandingan ini juga mengandung refleksi yang lebih dalam. Kita pernah hidup di bawah kekuasaan Belanda dan mengalami pendudukan Jepang.
Kini, puluhan tahun setelah kemerdekaan, kedua negara tersebut hadir bukan sebagai penjajah atau penguasa. Mereka hadir sebagai peserta Piala Dunia yang bersaing secara setara dalam arena olahraga.
Perubahan itu mengandung pesan kemanusiaan yang penting. Sejarah memang meninggalkan luka, tetapi sejarah juga dapat menjadi sumber pembelajaran.
Generasi masa kini tidak lagi bertemu dalam medan konflik. Mereka bertemu dalam pertandingan sepak bola, perdagangan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kerja sama internasional.
Di situlah kemajuan peradaban menemukan maknanya. Bangsa-bangsa yang pernah terhubung melalui kolonialisme dan perang kini lebih sering dipertemukan oleh kompetisi yang damai.
Ketika peluit panjang berbunyi di Dallas, skor menunjukkan angka 2-2. Tidak ada pemenang mutlak dan tidak ada pecundang mutlak.
Namun pertandingan itu meninggalkan sesuatu yang lebih bernilai daripada tiga poin. Pertandingan itu mengingatkan bahwa kekuatan bukan hanya milik mereka yang memiliki sejarah besar.
Kekuatan juga dimiliki oleh mereka yang bersedia belajar, berubah, dan bekerja tanpa lelah selama bertahun-tahun. Jepang memperlihatkan hal tersebut kepada dunia.
Belanda tetap menjadi salah satu guru besar sepak bola internasional. Namun malam itu, Jepang menunjukkan bahwa murid yang tekun suatu hari mampu duduk sejajar dengan sang guru.
Dan bagi Indonesia yang pernah bersinggungan dengan kedua bangsa tersebut dalam lembaran sejarah yang panjang, pertandingan ini terasa seperti sebuah refleksi tentang perjalanan manusia.
Bahwa masa lalu penting untuk diingat, tetapi masa depan selalu ditentukan oleh keberanian untuk terus bertumbuh, memperbaiki diri, dan menolak menyerah ketika menghadapi tantangan yang tampak lebih besar daripada kemampuan kita sendiri. (*)