Cerita Bek Tanjung Verde Ikut Piala Dunia 2026, Awal Kisahnya Berawal dari Spam di Media Sosial
Dwi Setiawan June 16, 2026 09:30 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Piala Dunia kerap menjadi wadah cerita besar yang tersaji di setiap turnamennya.

Demikian pula dengan yang terjadi di Piala Dunia 2026 ketika Spanyol buntu ketika berhadapan dengan Tanjung Verde di laga Grup H, Selasa (16/6/2026), di Mercedes Benz Stadium.

Tanjung Verde menahan imbang Spanyol dengan skor 0-0, yang barangkali luput dari perkiraan banyak pihak.

Namun memang kekuatan Tanjung Verde tak bisa dipandang sebelah mata.

"Cape Verde (Tanjung Verde) pemainnya banyak yang berkarier di Eropa soalnya," kata Arizqi Romadhoni, Ketua Juventini chapter Banten, dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

Terlepas dari kekuatan kolektif Tanjung Verde yang mumpuni, terdapat kisah unik dari dua orang penggawa mereka.

Baca juga: Cara Elegan Marcelo Bielsa Protes Soal Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat

Kisah ini datang dari bek andalan Tanjung Verde, Roberto Lopes.

Lopes merupakan bek tangguh yang dimiliki tim berperingkat 67 di ranking FIFA ini.

Ia berkarier di Liga Irlandia bersama tim Shamrock Rovers dengan menggunakan nomor punggung 4.

Nomor punggung yang sama dengan yang dia kenakan saat berseragam Tanjung Verde di Piala Dunia kali ini.

Ia sebenarnya tak lahir di negara yang ia bela saat ini.

Lopes justru lahir di Irlandia, tepatnya di Crumlin, Dublin, ibu kota negara tersebut.

Perjalanan pemain yang akrab dipanggil Pico ini dimulai ketika pelatih Tanjung Verde, Pedro Brito, menghendaki sang pemain menjadi bagian dari skuadnya.

Sang pelatih ternyata tak mengirimkan pemanggilan itu lewat surat elektronik atau pesan singkat langsung ke telepon sang pemain.

Ia ternyata mengirimkan pesan pemanggilan kepada sang pemain lewat media sosial yang akrab untuk mencari pekerjaan, LinkedIn.

Lopes sebenarnya sadar ada pesan masuk di media sosial LinkedIn miliknya.

Namun ia menganggap itu hanya sebagai spam atau sampah saja.

Keputusan Lopes baru berubah ketika Brito mengirimkan pesan yang sama di media sosial yang sama.

Namun kali ini ia menggunakan bahasa Inggris untuk menyampaikan pesannya.

Sedangkan di pesan pertama ia menggunakan bahasa Portugis.

Kali ini, pesan tersebut sampai dan dicerna dengan baik oleh Pico.

Pada akhirnya, Pico menjadi bagian dari skuad Tanjung Verde

Ia dipasang sebagai starter saat berhadapan dengan Spanyol dan menahan imbang sang mantan juara dunia itu dengan skor 0-0.

Perjalanan naik turun dari sang bek pada akhirnya sukses membuahkan sebuah sejarah.

Pico menjadi bagian penting bagi Tanjung Verde yang mendapatkan poin perdana di tingkat Piala Dunia 2026.

Debut yang luar biasa bagi sang pemain dan negara yang ia bela di depan jutaan pasang mata yang menyaksikan pertandingan ini.

Dengan usia yang tak lagi muda, yaitu 33 tahun (pada 16 Agustus mendatang), ini barangkali akan menjadi turnamen besar terakhir baginya.

Namun Pico punya awalan yang baik untuk menjalani ajang empat tahunan ini.

Menahan imbang Spanyol tak bisa dilakukan sembarang tim, tetapi Tanjung Verde membuktikan bisa melakukan hal tersebut di panggung Piala Dunia 2026.

(Tribunnews.com/Guruh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.