SURYA.co.id, LUMAJANG – Ribuan warga Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Senin malam (15/6/2026) menggelar Grebek Tempe Wedok dalam rangka memperingati 1 Suro.
Lebih dari 6.000 tempe wedok disusun menjadi gunungan menyerupai gapura.
Gunungan lalu diarak sejauh dua kilometer sambil melantunkan sholawat sebelum akhirnya diperebutkan warga.
Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan pesan kuat, ketangguhan para produsen tempe wedok menghadapi tantangan ekonomi.
Kepala Desa Labruk, Agus Irianto menegaskan, tradisi ini bukan sekadar ritual syukur, melainkan simbol kemandirian warga.
Baca juga: Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu dan Tempe di Sidoarjo Mulai Kelimpungan
"Ini adalah kegiatan mandiri warga, dan sejak awal berdiri tidak pernah menggantungkan pemerintah, mereka tidak pernah mengeluh," ujarnya.
Agus menambahkan, produksi tempe wedok dijalankan oleh 18 kelompok pembuat tempe di RW 01, sebagian besar generasi ketiga.
Keunikan produk ini terletak pada bungkus pelepah pisang klutuk yang membuatnya lebih awet.
"Tempenya itu tempe asli, tapi dibungkus pelepah pisang dan pisangnya harus dari pisang klutuk. Kalau pisang lain tidak bisa," jelasnya.
Bagi warga, pawai gunungan tempe wedok juga menjadi strategi melibatkan anak muda agar tradisi tidak hilang.
Produsen muda, Wijamila, mengaku ingin menghidupkan kembali usaha keluarga.
"Saya usaha tempe wedok, turunan dari nenek, ke ibu saya dan sekarang saya yang neruskan," katanya.
Jamila berharap generasi muda bisa menjadikan tempe wedok sebagai tambahan penghasilan.
"Dulunya vakum, sekarang pingin dikembangkan lagi untuk anak muda supaya ada pemasukan dan membah ekonomi," ucapnya.
Keunggulan tempe wedok adalah daya tahan hingga seminggu tanpa kulkas, bahkan bisa sebulan bila disimpan dingin.
Namun kenaikan harga kedelai membuat pemasaran semakin sulit.
"Biasanya satu Rp 5 ribu sekarang Rp 7 ribu, akhirnya banyak orang milih tempe biasa," beber Jamila.
Menanggapi hal itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati berjanji mendukung keberlangsungan usaha warga.
"Dan produk ini juga sudah masuk di dapur MBG," tambahnya.
Tradisi grebek tempe wedok di Labruk Kidul bukan hanya pesta rakyat, melainkan pernyataan budaya sekaligus perlawanan terhadap tekanan ekonomi.
Ia menegaskan, ketangguhan warga menjaga tradisi bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain.