Banyak Remaja Gagal Masuk Jurusan Impian, RS Mata Cicendo Desak Skrining Buta Warna Dini
Muhamad Syarif Abdussalam June 16, 2026 10:11 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Banyak anak baru mengetahui dirinya mengalami buta warna saat akan masuk perguruan tinggi atau melamar pekerjaan. Padahal, kondisi tersebut dapat memengaruhi pilihan pendidikan dan karier sejak dini apabila tidak terdeteksi lebih awal.

Kekhawatiran itu mendorong komunitas Anak Cerah Indonesia (ACI) bersama RS Mata Cicendo meluncurkan Nayan Project, program edukasi dan skrining buta warna bagi anak sekolah.

Kegiatan perdana digelar di SDN 022 Cicadas, Kota Bandung, dengan melibatkan siswa guru, serta orang tua pada Senin (15/6/2026). 

Direktur Utama RS Mata Pusat Cicendo, dr. Antonia Kartika, mengatakan penglihatan memiliki peran besar dalam tumbuh kembang anak. 

"Sekitar 75 persen perkembangan motorik, emosional hingga kemampuan kognitif dipengaruhi oleh fungsi penglihatan," katanya, Senin (15/6/2026). 

Namun, menurutnya, banyak orang tua dan guru hanya memahami penglihatan sebatas jelas atau buram. Padahal, kata dia, kemampuan mengenali warna juga menjadi bagian penting yang berpengaruh terhadap proses belajar anak.

"Penglihatan warna sangat erat kaitannya dengan pendidikan. Saat ini hampir semua metode pembelajaran menggunakan warna. Anak diminta membaca grafik, mengenali simbol atau membedakan informasi berdasarkan warna tertentu," kata dr. Antonia.

Masalah muncul ketika seorang anak mengalami gangguan penglihatan warna tetapi tidak pernah diperiksa.

Akibatnya, anak bisa dianggap kurang memahami pelajaran karena kerap salah mengidentifikasi warna.

"Kadang guru menganggap anak kurang belajar, padahal sebenarnya dia mengalami gangguan penglihatan warna. Ini bisa membuat anak kehilangan percaya diri, tidak semangat sekolah, bahkan salah mendapat penilaian," ujarnya.

Menurut dr. Antonia, angka pasti prevalensi buta warna pada anak di Indonesia hingga kini belum tersedia. 

"Beberapa penelitian menunjukkan angkanya berkisar antara 0,7 hingga 3,78 persen," ucapnya.

Karena itu, skrining sejak usia sekolah dinilai penting untuk membangun sistem pendampingan bagi anak yang terdeteksi mengalami buta warna.

Ia mengaku kerap menemukan kasus remaja yang baru mengetahui dirinya buta warna ketika mendaftar ke perguruan tinggi atau profesi tertentu yang mensyaratkan penglihatan warna normal.

"Saya sering menemukan seseorang baru tahu buta warna saat mau masuk universitas. Akhirnya dia tidak bisa mengambil jurusan yang diinginkan. Kalau diketahui sejak awal, anak bisa diarahkan dan mempersiapkan masa depannya dengan lebih baik," katanya.

Dalam program tersebut, siswa menjalani pemeriksaan mata dan tes buta warna sederhana. 

Jika ditemukan kasus, pihak sekolah dan orang tua akan dilibatkan untuk membangun sistem dukungan tanpa membuka identitas anak kepada teman-temannya.

Menurut dr. Antonia, kerahasiaan menjadi hal penting agar anak tidak menjadi sasaran ejekan atau perundungan di lingkungan sekolah.

"Kami tidak ingin anak merasa berbeda. Semua anak unik. Justru yang ingin dibangun adalah rasa percaya diri dan dukungan dari lingkungan sekitar," ujarnya.

Ia menjelaskan buta warna bawaan umumnya tidak dapat disembuhkan karena disebabkan faktor genetik. Namun, kondisi tersebut bukan berarti menghalangi anak untuk berprestasi.

"Paling terpenting adalah mengenalinya sejak dini. Dengan begitu anak bisa beradaptasi, guru bisa menyesuaikan metode pembelajaran, dan orang tua bisa membantu mengarahkan pilihan pendidikan maupun profesi," katanya.

Founder Anak Cerah Indonesia, Celine Winarta, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keinginan untuk memperluas akses deteksi dini kesehatan mata bagi anak-anak, terutama di sekolah negeri.

Menurut siswi SMA tersebut, banyak keluarga yang belum memiliki kesempatan melakukan pemeriksaan buta warna karena layanan tersebut tidak selalu tersedia dalam pemeriksaan kesehatan rutin.

"Kami ingin membantu anak-anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih cita-citanya. Kadang mereka memiliki potensi besar, tetapi ada kondisi yang tidak diketahui sejak awal," ujarnya.

Bandung dipilih sebagai lokasi pertama karena keberadaan RS Mata Cicendo sebagai pusat mata nasional. 

Setelah program percontohan ini berjalan, ACI berencana memperluas kegiatan ke sekolah-sekolah lain sebelum menjangkau daerah yang lebih luas.

Selain pemeriksaan mata, pihaknya juga mengusung kampanye edukasi melalui buku cerita "Nayan dan Misteri Warna" yang mengenalkan buta warna dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.