TRIBUNNEWS.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menunjukkan tanda mereda setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz.
Meski kabar perdamaian disambut positif pasar global dan membuat harga minyak dunia turun sekitar 5 persen, perusahaan pelayaran internasional menilai situasi di lapangan belum sepenuhnya aman.
Alhasil pelaku industri pelayaran global masih bersikap sangat hati-hati karena mereka yakin pemulihan jalur laut Hormuz tidak bisa terjadi dalam waktu singkat.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia melewati wilayah tersebut setiap harinya.
Konflik Iran yang dimulai sejak 28 Februari akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel membuat aktivitas pengiriman di kawasan itu hampir lumpuh.
Banyak kapal tanker memilih berhenti beroperasi, menunggu di luar jalur, atau berlayar secara diam-diam demi menghindari ancaman serangan dan ranjau laut.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran global karena tidak hanya mempengaruhi pasokan energi dunia, tetapi juga distribusi produk industri penting seperti aluminium dan pupuk urea.
Namun, awal pekan lalu Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika dan Iran sepakat menekan perjanjian damai secara resmi pada Jumat 19 Juni mendatang di Jenewa, Swiss.
Baca juga: AS dan Iran Sepakat Damai, Oposisi Israel Salahkan Netanyahu: Dia Kalah dalam Perang
Hal tersebut disepakati kedua negara guna mengakhiri konflik yang selama beberapa bulan terakhir mengganggu jalur pelayaran energi dunia.
Pemerintah AS juga ingin menunjukkan bahwa kesepakatan damai yang sedang disusun bukan hanya sebatas pernyataan politik, tetapi mulai berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan global.
Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, distribusi minyak dunia diharapkan dapat kembali normal sehingga tekanan terhadap harga energi internasional bisa mereda.
Kendati Trump menyatakan jalur tersebut aman, kenyataan di lapangan menunjukkan banyak perusahaan pelayaran global masih belum sepenuhnya percaya diri untuk kembali melintas secara normal.
Sejumlah perusahaan dan asosiasi pelayaran dari Asia maupun Eropa memilih belum terburu-buru mengaktifkan kembali jalur pelayaran mereka.
Asosiasi Pemilik Kapal Jepang menyatakan masih membutuhkan informasi yang lebih konkret terkait implementasi kesepakatan damai tersebut. Mereka menilai keputusan besar seperti mengirim kapal kembali tidak bisa hanya didasarkan pada pengumuman politik semata.
Perusahaan pelayaran terbesar Jepang, Nippon Yusen, berharap operasional dapat kembali normal secepat mungkin. Namun Mitsui OSK Lines menegaskan navigasi baru akan dilanjutkan apabila keselamatan benar-benar terjamin.
Sikap serupa juga disampaikan asosiasi pelayaran Jerman dan Norwegia. Mereka mengaku optimistis, tetapi tetap berhati-hati karena detail teknis perjanjian dan proses pembersihan ranjau belum jelas.
Raksasa pelayaran Denmark, Maersk, juga menyatakan belum melakukan perubahan operasional di Timur Tengah meski menyambut baik tercapainya kesepakatan damai.
Data pelacakan kapal internasional memperlihatkan aktivitas kapal tanker masih sangat terbatas dan puluhan kapal masih menunggu di kedua sisi selat.
Pada 15 Juni, tercatat sekitar 155 kapal tanker berada di wilayah tersebut. Angka ini memang menurun dibanding akhir Mei yang mencapai lebih dari 200 kapal, namun tetap menunjukkan kondisi pelayaran belum sepenuhnya pulih.
Perusahaan riset pelayaran Oil Brokerage memperkirakan apabila jalur benar-benar dibuka tanpa pembatasan, kemacetan kapal di kedua sisi Selat Hormuz bisa diselesaikan dalam waktu delapan hingga sepuluh hari.
Meski demikian, proses normalisasi penuh diperkirakan membutuhkan waktu jauh lebih lama.
Analis pasar minyak global ICIS, David Jorbenaze, menilai proses pembersihan ranjau, pemulihan asuransi pelayaran, serta pengembalian kepercayaan industri membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun.
Ia memperkirakan volume pelayaran dan distribusi energi melalui Selat Hormuz baru akan benar-benar kembali normal pada tahun 2027.
Itu pun dengan syarat perjanjian damai tetap berjalan tanpa gangguan dan produksi energi di kawasan Teluk pulih dengan cepat.
Prediksi tersebut menunjukkan bahwa meski konflik mulai mereda, dampak geopolitik terhadap perdagangan global masih akan terasa dalam jangka panjang.
(Tribunnews.com / Namira)