Tensi Demo di Jambi dan Jakarta Memanas: Polisi Dorong Mahasiswa Hingga Dicecar
Darwin Sijabat June 16, 2026 11:11 AM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Eskalasi gerakan mahasiswa menolak kebijakan ekonomi pemerintah dalam Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memicu ketegangan di berbagai daerah pada Senin (15/6/2026) kemarin. 

Di Provinsi Jambi dan Jakarta, aparat kepolisian harus berhadapan dengan militansi massa aksi yang mencoba menerobos aturan pengamanan, hingga memicu insiden nyaris adu jotos serta perdebatan hukum yang sengit di barisan depan.

Di Jambi: Aksi Saling Dorong Akibat Rebutan Ban Bekas

Ketegangan hebat melanda halaman Gedung DPRD Provinsi Jambi di Jalan Jenderal A Yani No 2, Kota Jambi. 

Kericuhan bermula saat massa demonstran membawa ban bekas ke teras gedung dengan niat menyalakan api sebagai simbol protes.

Petugas yang berjaga langsung menegur mahasiswa agar tidak membakar ban di atas lantai keramik demi mencegah kerusakan fasilitas publik. 

Mahasiswa kemudian menggeser ban ke area luar berlapis semen, namun lokasi tersebut masih berada di bawah plafon bangunan sehingga polisi kembali melayangkan keberatan.

Situasi mencapai titik didih ketika mahasiswa nekat menyiramkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite ke ban tersebut. 

Polisi yang sigap langsung merangsek maju melakukan pencegahan, memicu aksi saling dorong dan adu mulut. 

Dalam pergolakan di garis depan, seorang perwira polisi terekam mendorong seorang mahasiswa bertubuh kecil, yang spontan memancing kemarahan seluruh massa aksi.

Baca juga: Belum Ditemui DPRD, Mahasiswa di Jambi yang Demo Sebut Akan Agendakan Aksi Kedua

Baca juga: Jakarta–Muara Bungo Terhubung, Batik Air Terbang Perdana, Al Haris: Ini Kunci Pemerataan

Bentrokan fisik massal berhasil diredam setelah sejumlah personel polisi lain dan korlap mahasiswa segera memisahkan kedua belah pihak. 

Uniknya, sesaat setelah suasana kondusif, ban yang menjadi sengketa tiba-tiba lenyap secara misterius dari lokasi, memaksa mahasiswa membatalkan agenda bakar ban.

“Mano ban tadi, mano ban tadi,” tanya seorang mahasiswa yang kebingungan kepada rekannya. 
Kendati gagal membakar ban, massa tetap melanjutkan aksi dengan menyampaikan orasi secara bergantian.

Di Jakarta: Kapolsek Menteng Hadapi Cecaran "Argumentasi Kosong"

Sementara itu di ibu kota, pemandangan kontras namun tak kalah menegangkan terjadi di dekat kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. 

Sosok Kapolsek Menteng, AKBP Braiel Arnold Rondonuwu, menjadi sorotan publik akibat ketenangannya saat dikepung dan dicecar oleh massa beratribut Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang memaksa masuk ke area ring-1 Bundaran HI.

Mengenakan helm taktis hitam, kacamata, dan seragam lengkap, AKBP Braiel berdiri kokoh di depan pagar betis baret biru. 

Alih-alih represif, ia berulang kali melipat kedua tangannya di dada—menunjukkan gestur namaste secara persuasif untuk meredam emosi demonstran.

Perdebatan sengit pecah saat massa mencoba mendobrak barikade pertahanan petugas.

“Mau ngapain halangin kami,” teriak seorang mahasiswi dengan nada tinggi di depan barisan polisi.

Baca juga: Demo Mahasiswa di Jambi, Pendemo: Tetapi Hari Ini, Akan Saya Lawan!

Baca juga: Harga Tiket dan Jadwal Pesawat Batik Air Muara Bungo-Jakarta: Ekonomi dan Bisnis

“Silakan pindah di Monas,” ujar AKBP Braiel Arnold Rondonuwu dengan tenang sembari menghalau laju massa.

“Enggak, kami maunya di HI,” balas mahasiswi itu tegas.

“Tolong di Monas saja,” jawab AKBP Braiel lagi.

“Enggak, bapak pembohong!” bentak mahasiswa tersebut.

Massa yang tertahan gagal menjebol pertahanan solid petugas. Tak lama, seorang mahasiswa laki-laki mengambil alih kendali mikrofon dan langsung melayangkan cecaran ideologis ke arah Kapolsek Menteng.

“Enggak akan ada aksi kalau tidak ada reaksi dari pemerintah, Pak. Anda tunduk kepada hukum atau kepada atasan, Pak?” tantang mahasiswa hukum tersebut.

“Mohon maaf tidak bisa di Bundaran HI, kalau mau ke Monas ayo. Ada aturannya enggak boleh demo di sana (Bundaran HI),” tawar Kapolsek Menteng.

“Aturan mana?” sahut mahasiswa itu menantang regulasi petugas.

“Silakan buka, silakan baca kawan-kawan 'kan massa aksi, silakan baca,” jawab AKBP Braiel lugas.

Mendengar respons tersebut, sang demonstran kian meradang dan langsung menuding pihak kepolisian melakukan pembatasan tanpa dasar hukum yang jelas.

“Bapak argumentasi kosong, bapak orang hukum bukan? Saya orang hukum, Anda tunduk pada hukum atau atasan?!” cecar mahasiswa tersebut berulang kali.

“Silakan baca, silakan baca,” pungkas AKBP Braiel secara singkat menyudahi perdebatan tanpa terpancing emosi.

Akibat negosiasi yang menemui jalan buntu, massa mahasiswa akhirnya terpaksa gigit jari dan hanya bisa tertahan untuk menggelar mimbar bebas di titik penyekatan jalan tanpa bisa menyentuh kawasan ikonik Bundaran HI.

Sosok AKBP Braiel Arnold Rondonuwu

AKBP Braiel Arnold Rondonuwu merupakan pria jebolan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2004.

Putra asal Likupang, Minahasa Utara, Sulawesi Utara tersebut kini menjabat sebagai Kapolsek Metro Menteng. 

Wilayah tugasnya sangat strategis karena berada di jantung Ibukota dan banyak objek vital nasional.

Ia diketahui mulai menjabat sebagai Kapolsek Menteng sejak 19 Januari 2026.

Sebelum bertugas menjadi Kapolsek Menteng, ia menjabat sebagai Kasatreskrim Polres Metro Bekasi Kota sejak 25 Juli 2025 hingga 19 Januari 2026.

Berdasarkan penelusuran, AKBP Braiel Arnold Rondonuwu diketahui pernah bertugas di Papua menjadi Kasatreskrim Bintuni.

Kemudian ia menjadi perwira menengah di Polda Kepulauan Riau hingga akhirnya dipercaya menjadi Kasubdit III Ditreskrimsus Polda Kepri pada 30 November 2023.

Baca juga: Batik Air Resmi Mengudara di Muara Bungo-Jakarta, Al Haris Targetkan Jambi Barat Maju

Baca juga: Argentina vs Aljazair, Seperti Jambi yang Penuh Kejutan

Baca juga: Pengurus Daerah Jambi Sumbagsel Mengadakan Pemilihan Pengurus Daerah Jambi Sumbagsel 2026-2030

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.