TRIBUN-PAPUA.COM – Suasana di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta mendadak riuh pada Senin (15/6/2026).
Sejumlah mahasiswa asal Papua Selatan menggelar aksi unjuk rasa untuk menyuarakan jeritan hati masyarakat di pedalaman Papua.
Dalam aksinya, mereka mengkritik keras program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah.
Program tersebut dinilai kurang efektif dan tidak sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat Papua Selatan saat ini.
Salah satu orator, Yohanes, dengan lantang menyampaikan masyarakat di daerah asalnya jauh lebih membutuhkan akses pendidikan dan fasilitas kesehatan yang layak ketimbang makanan gratis.
Sambil berdiri di atas mobil komando, Yohanes mengirimkan pesan menohok yang ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Sampaikan sama Bapak Prabowo Subianto, Bapak yang terkasih, saya cuma mau bilang, kita Papua Selatan tidak butuh MBG," teriak Yohanes di hadapan massa aksi.
"Kita butuhnya itu satu: pendidikan diutamakan, kesehatan diutamakan! Karena banyak ibu-ibu hamil yang melahirkan di hutan," ujarnya.
Yohanes menegaskan, apa yang ia suarakan bukanlah kepentingan pribadi, melainkan potret pilu kesejahteraan masyarakat yang tinggal di kampung-kampung pedalaman Papua.
Baca juga: Pengelola Dapur MBG di Manokwari Dipolisikan, Air Sumur Warga Tercemar hingga Penghuni Kos Minggat
Ia kemudian mengajak seluruh massa aksi untuk mengepalkan tangan kiri ke atas sebagai bentuk solidaritas bagi masyarakat kecil.
"Buka mata pemerintah! Ini bukan cerita tentang kita, tapi ini cerita tentang masyarakat kita yang tinggal di kampung! Hidup masyarakat yang tinggal di kampung!" ujarnya, disambut para mahasiswa.
Tidak hanya Yohanes, keluhan senada juga meluncur dari mulut Aghos, mahasiswa asal Merauke.
Aghos menilai, ketimpangan di Papua masih sangat menganga. Baginya, pendidikan adalah kunci utama untuk membawa kemajuan di tanah Merauke, bukan sekadar program bagi-bagi makanan.
Sebelum menguliti bobroknya fasilitas di daerahnya, Aghos sempat mengajak massa aksi menyanyikan lagu nasional “Dari Sabang Sampai Merauke”.
Namun, ia menyebut ada kontras yang menyakitkan antara lirik lagu tersebut dengan realitas yang terjadi di tanah kelahirannya.
"Nilai dari sebuah lagu itu sudah jelas, bahwasanya seluruh itu nanti akan disatukan dengan bermacam-macam kemajuan. Tapi yang sekarang kami rasakan ini adalah penindasan! Dan kami tidak puas dalam sistem pendidikan dan kesehatan!" tegas Aghos.
Baca juga: Hakim PTUN Perintahkan Kemenhan Setop Proyek Jalan PSN di Merauke
Aghos pun mengancam, aksi unjuk rasa ini tidak akan berhenti sampai di sini saja.
Mahasiswa Papua Selatan berjanji akan kembali turun ke jalan dengan gelombang massa yang lebih besar jika pemerintah tidak segera berbenah.
Mereka menuntut evaluasi total, tidak hanya pada program MBG, tetapi juga pada kebijakan ekonomi nasional.
"Aksi kali ini tidak sampai di sini. Tetapi nanti akan tahap berikutnya sampai MBG itu dievaluasi total, sampai alasan kenaikan rupiah nanti juga dievaluasi, harus! Harus!" pungkasnya. (*)