Kisah Inspiratif Mantan Satpam di Bantul Raih Gelar Doktor Manajemen UMY
Hari Susmayanti June 16, 2026 12:02 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Keterbatasan ekonomi tidak menghalangi langkah kaki seorang laki-laki bernama Agung Sulistyo untuk meraih pendidikan tinggi. 

Belasan tahun yang lalu, ia sibuk menekuni profesi sebagai satuan pengaman atau satpam, namun kini berhasil menyandang gelar doktor atau menyelesaikan pendidikan S3.

Laki-laki berusia 40 tahun ini merupakan warga Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta dan lahir maupun besar dari keluarga sederhana di Tangerang.

Kini, ia berhasil menyandang gelar Dr. Agung Sulistyo, S.E., M.M., CHE usai merampungkan pendidikan di Program Doktor Manajemen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Juni 2026.

Saat dikonfirmasi, ia menceritakan sekilas perjalanan hidupnya. Agung menyebut bahwa sebelumnya tidak pernah bermimpi menjadi seorang doktor.

Setelah lulus Sekolah Menengah Teknik (STM) jurusan Teknik Gambar Bangunan pada 2002, ia ingin fokus meniti karier sebagai polisi atau tentara nasional Indonesia.

"Tapi, karena memang tidak rezeki, saya gagal dan tidak memiliki profesi itu. Kemudian, saya hijrah ke Yogya. Awal saya datang ke Yogya sebagai relawan gempa bumi sekitar 2005 atau 2006. Kemudian pada 2008, saya bekerja sebagai satpam di salah satu media Yogyakarta," katanya, Selasa (16/6/2026).

Saat awal bekerja sebagai satpam, Agung belum memutuskan untuk masuk kuliah.

Sebab, dia berpikir waktunya hanya diisi untuk bekerja.

Namun, berkat dorongan kekasihnya yang kini menjadi istri Agung, akhirnya Agung memberanikan diri untuk menempuh pendidikan Strata 1 di STIE Widya Wiwaha Yogyakarta.

Di sisi lain, gaji yang didapatkan Agung sebagai satpam tidaklah banyak.

Namun begitu, ia tetap menyiasati diri untuk menyisihkan sebagian gajinya untuk membayar biaya kuliah secara mencicil.

Selain itu, ia memberanikan diri untuk merangkap sebagai biro iklan di tempat kerjanya.

"Jadi, misalkan pulang kerja, saya muter cari klien dan menawarkan iklan yang mau pasang di koran saya. Nanti saya dapat untung sekian ribu-sekian ribu dan bisa buat nambahin bayar kuliah. Apalagi, S1 saya biaya sendiri," tutur Agung.

Usai lulus S1 pada 2013, ia memberanikan diri melanjutkan pendidikan S2.

Beruntung, ia mendapatkan beasiswa potongan biaya 50 persen berkat raihan indeks prestasi kumulatifnya yang memenuhi kriteria.

Pendidikan magister itu pun sukses dirampungkannya pada tahun 2015.

Baca juga: Hasil Labfor Kasus Tewasnya Satu Keluarga di Glamping Posong: Kadar Gas Beracun Capai 2.000 PPM

Di tengah masa studinya, tepatnya pada tahun 2014, Agung memutuskan untuk menikah.

Momen pernikahan inilah yang mulai mengubah arah pandang hidupnya.

Ia mulai berpikir untuk beralih profesi menjadi seorang dosen, sebuah cita-cita yang sebelumnya tidak pernah terlintas di benaknya.

Garis takdir baik pun menyambutnya.

Pada tahun 2015, Agung mendapatkan kesempatan menjadi dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata Yogyakarta.

Profesi lamanya sebagai garda keamanan kini telah berganti sepenuhnya menjadi seorang pendidik yang bertugas mengarahkan para mahasiswa.

Tak berhenti di situ, berbekal rekomendasi dari para dosen pembimbingnya terdahulu, Agung memantapkan langkah untuk mendaftar ke Program Doktor Manajemen UMY pada tahun 2020.

"Pendidikan itu saya tempuh selama lima tahun. Waktu itu studi saya sempat tidak berprogres kurang lebih setahun, bukan cuti, tapi karena ada kesibukan pekerjaan dari kementerian," kenang Agung.

Sama seperti jenjang sarjana, kuliah S3 ini ia jalani dengan biaya mandiri.

Demi menutup biaya SPP di UMY, Agung rela mengambil pekerjaan tambahan dari Kementerian Pariwisata di sela-sela kesibukannya mengajar.

Kini, setelah resmi menyandang gelar doktor dengan keilmuan yang linear sejak S1 hingga S3, yaitu manajemen dengan konsentrasi pemasaran, Agung merasa sangat bersyukur.

Ia berkomitmen untuk terus melanjutkan pengabdiannya di dunia akademik melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Melalui pencapaiannya ini, bapak dua anak tersebut ingin menularkan semangat untuk tidak pernah berhenti bermimpi kepada lingkungan sekitarnya.

Termasuk kepada sang istri, yang saat ini juga sedang mempersiapkan diri untuk mendaftar kuliah ke jenjang doktor sesuai bidang keilmuannya.

Lebih dari sekadar gelar akademis, Agung bertekad untuk memberikan dampak nyata lewat ilmu yang ia miliki.

Ia selalu mengingat petuah berharga dari sang dosen selama menempuh studi S3.

"Saya mencoba mengimplementasikan kapasitas saya sebagai doktor. Saya masih ingat betul pesan dari dosen S3 saya, jangan hanya menjadi doktor di level RT. Beliau menyampaikan itu sambil berseloroh, maksudnya doktor yang biasanya dipandang tepat hanya saat kondangan saja. Tetapi, jadilah doktor yang betul-betul bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas," pungkas Agung. (nei)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.