Oleh: Syamsul Bahri - Kepala MTs Al-Hidayah Toboali
DENGAN berakhirnya bulan Zulhijah, maka kita memasuki bulan Muharam, sebuah bulan yang istimewa dalam tahun hijriah. Muharam ada sebuah simbol bagi umat islam sebagai sebuah catatan baru dalam kehidupannya.
Manakala matahari pada tanggal 1 Muharam telah menampakkan diri di ufuk timur, berarti bertambahlah hitungan usia kita satu tahun. Bertambahnya hitungan umur berarti bertambah pula kenikmatan Allah yang tercurahkan kepada kita walaupun pada hakikatnya jatah kita di dunia berkurang.
Penentuan tanggal 1 Muharam sendiri ditentukan lewat keputusan musyawarah. Semula muncul beberapa usulan, di antaranya bahwa tahun Islam dihitung mulai dari masa kelahiran Nabi Muhammad. Ini adalah usulan yang cukup rasional. Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik bagi masyarakat Arab waktu itu. Karena itu kelahirannya adalah monumen bagi kelahiran peradaban itu sendiri.
Yang menarik, Umar bin Khatab menolak usulan tersebut sehingga forum musyawarah menyepakati momen hijrah Nabi dari Makkah menuju Madinah sebagai awal penghitungan kalender Islam atau kalender kamariah yang merujuk pada perputaran bulan (bukan matahari). Karenanya kelak dikenal dengan tahun Hijriah yang berasal dari kata hijrah (migrasi, pindah).
Setidaknya ada dua poin yang perlu digarisbawahi dari ulasan tersebut. Pertama, tahun baru Hijriah harus dimaknai dalam rangka perjuangan nabi dalam merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin). Nabi sebagai sosok -termasuk momen kelahirannya- memang layak dihormati, tapi ada yang lebih penting lagi yakni spirit dan prestasinya sepanjang periode risalah. Dalam perjuangan itu ada ikhtiar, pengorbanan, keteguhan prinsip, keseriusan, kesabaran, dan keikhlasan.
Poin kedua adalah kenyataan bahwa nabi tidak membangun negara berdasarkan fanatisme kelompok atau suku. Rasulullah menginisiasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib (Madinah) untuk kepentingan jaminan kebebasan beragama, keamanan, penegakan akhlak mulia, dan persaudaraan antaranggota masyarakat. Tujuan dari kesepakatan tersebut masih relevan kita terapkan hingga sekarang. Inilah hijrah yang tak hanya bermakna secara harfiah “pindah tempat”, tetapi juga pindah orientasi atau pemahaman dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang baik menjadi lebih baik.
Bulan Muharam juga sebagai simbol pergantian tahun bagi umat Islam. Oleh karena itu tidak jarang kita jumpai ada sebagian umat Islam yang merayakan kedatangan Muharam dengan berbagai kegiatan, mulai dari zikir bersama sampai kepada makan bersama dengan tujuan sedekah. Tren menyambut datangnya Muharam disebabkan karena umat Islam tidak mau kalah dengan perayaan penyambutan tahun baru di tahun Masehi. Hanya saja format penyambutan Muharam lebih ke arah kegiatan keislaman.
Selanjutnya pergantian tahun ini tidak boleh dimaknai sebagai pergantian waktu seperti biasanya. Momentum ini memiliki makna dan hikmah mendalam yang jika dimaksimalkan akan membuahkan kesuksesan dan keberkahan dalam hidup. Bergantinya tahun ini harus dijadikan sebagai waktu untuk melakukan introspeksi terhadap perjalanan hidup selama ini agar ke depan lebih baik lagi. Jangan sampai dengan terus berjalannya waktu, kita tidak mampu mengambil ibrah, hikmah, dan pengalaman.
Dengan merenungkan masa lalu, kita bisa meninggalkan hal-hal yang negatif dan mengambil sisi-sisi positif sebagai bekal menghadapi masa depan. Kita harus optimistis bisa melakukan perubahan lebih baik di masa yang akan datang dengan terus melakukan ikhtiar-ikhtiar terbaik.
Rasulullah saw bersabda, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat: "Siapa saja yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang beruntung. Siapa saja yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia (tergolong) orang yang merugi. Siapa saja yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang dilaknat (celaka)." (HR Al-Hakim).
Selain melakukan introspeksi terhadap apa yang telah dilakukan pada masa lalu, kita juga harus melakukan persiapan untuk menghadapi masa depan di tahun baru. Hal ini penting karena sebuah perjalanan pasti membutuhkan bekal yang cukup agar kita bisa sampai ke tujuan dengan baik. Dalam mengarungi kehidupan melalui ikhtiar, kita juga harus menyadari bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Kita diperintahkan untuk melakukan ikhtiar dan setelah itu kita diingatkan untuk bertawakal, berserah diri kepada Allah. Al-Qur’an surat Luqman ayat 34 menyebutkan: "Sesungguhnya Allah memiliki pengetahuan tentang hari kiamat, menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. (Begitu pula) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti."
Ayat di atas menunjukkan kekuasaan Allah atas masa depan dan ketidaktahuan kita tentang apa yang akan terjadi esok. Dalam satu ayat ini Allah menunjukkan lima kekuasaannya sekaligus tentang masa depan.
Pertama, Allahlah yang tahu kapan kiamat akan terjadi. Tidak ada satu pun manusia yang tahu kapan kiamat datang.
Kedua, Allahlah yang mengetahui kapan hujan akan turun untuk menghidupkan bumi ini dan memberi rezeki kepada manusia untuk bekal kehidupan di dunia.
Ketiga, Allahlah yang tahu apa yang ada dalam kandungan seorang ibu. Walaupun saat ini sudah ditemukan alat-alat canggih untuk melihat kondisi bayi dalam rahim seorang ibu, seperti USG dan sebagainya, namun pada hakikatnya semua masih dalam fase prediksi.
Keempat, Allahlah yang tahu nasib kita di masa yang akan datang. Kita hanya berusaha dengan cara yang terbaik, namun Allahlah yang akan menentukan hasilnya.
Kelima, Allahlah yang tahu kapan seseorang akan mati. Tidak ada manusia yang bisa merencanakan umurnya, meninggal dunia di mana, dan di mana dia akan dikuburkan. Namun, kematian merupakan keniscayaan yang akan dihadapi oleh semua makhluk yang bernyawa.
Akhirnya, mari kita berdoa kepada Allah, semoga di tahun baru Hijriah ini kita akan lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga Muharam menjadi momentum kebangkitan kita dari keterpurukan, mampu membuat kita bebas dari kubangan maksiat yang menyandera kita. Aamiin. (*)